#CatatanPerempuan: kemudi tergantung gender

from: weheartit

from: weheartit

Saya kerap mendengar komentar ‘miring’ tentang pengemudi wanita.

Di jalan, setiap ada pengemudi mobil yang terlihat kikuk, kagok, atau kurang ahli dalam memarkir mobilnya, kerap terdengar komentar: “Ah, pasti yang nyetir cewek!”.

Sedihnya, komentar ini tidak hanya keluar dari mulut laki-laki saja, tapi juga perempuan sendiri.

Lantas, apakah pengemudi yang tidak mahir mengemudikan mobil pasti berkelamin perempuan?

Tidak juga.

Sebaliknya, saya juga punya teman laki-laki yang cara mengemudinya ampun bikin mual yang menumpang. Belum lagi, perhitungannya kalau memarkir mobil sering meleset dan pernah menabrak mobil lain yang sedang diam-diam saja di parkiran.

Sebenarnya, siapa sih yang menjadikan mengemudi mobil sebagai ‘hal lelaki’, a guy thing, sesuatu yang maskulin sehingga diidentikan sebagai keahliannya lelaki?

Bahkan, saking sombongnya, beberapa lelaki kerap gengsi berulang-kali maju-mundur bila sedang memarkir mobil karena dalam benak mereka “hanya perempuan yang tidak bisa parkir.”

Kalau Anda?

#CatatanPerempuan: anggap saja ini prolog

Sebenarnya ada banyak catatan dan draft tulisan saya yang tercecer. Akhirnya, mereka hilang tak berbekas.

Beberapa waktu lalu, pesan singkat seorang teman di WhatsApp mengingatkan saya pada sebuah keinginan yang tertunda. Maka, saya bertekad menyicil draft-draft tulisan yang sempat tertunda plus ide-ide baru di blog ini.

Jadi, anggap saja ini adalah prolog.

Mengapa harus #CatatanPerempuan?

Sejak saya duduk di bangku kuliah, topik mengenai perempuan selalu mendapat perhatian saya. Akhirnya, tanpa bermaksud melabeli diri dengan ‘feminis’, beberapa kawan kerap menambahkan embel-embel tersebut pada diri saya.

Sejujurnya, saya lebih nyaman menyebut diri genderis dibandingkan feminis, karena saya tidak hanya menginginkan keadlian bagi perempuan tapi juga laki-laki. Saya percaya, perempuan maupun laki-laki sejajar, seimbang, sederajat.

Tulisan #CatatanPerempuan merupakan opini dan buah pemikiran saya pribadi, bukan penghakiman apalagi hal mutlak.

Jadi, mari kita mulai petualangan kata ini!

Another journey begins…

Okay, okay, okay…

I won’t denial, my bad, my bad… for abandoned this blog for a loooong time :(

Beberapa perubahan terjadi di awal tahun ini dan segalanya berlangsung cepat.

Seperti pernah saya bilang, akan ada hal baru dalam hidup saya di tahun 2013 ini, yaitu…..pekerjaan baru.

Terakhir, saya bekerja sebagai redaktur di media online bagian dari grup Bisnis Indonesia. Cukup setahun saya bertahan karena merasa tidak cocok dengan budaya kerja di sana.

Dengan segala kepasrahan dan menyiapkan diri untuk menyandang profesi sebagai freelancer, saya mengundurkan diri tanpa ada rencana untuk bekerja di tempat lain (malah yang ada rencana liburan, hahaaa…). Akan tetapi, Tuhan rupanya punya rencana lain untuk saya. 

Tawaran bekerja datang dari tempat saya pertama kali bekerja, sebelum saya lulus kuliah, yaitu EF, English First.

Tawaran itu juga sejalan dengan saya yang membatin ingin bekerja kantoran kembali, dengan catatan, tempat kerja dekat dengan rumah. Saat itu, saya benar-benar merasa capek dengan jalanan Jakarta yang sudah sangat tak bersahabat. Maka, tawaran bekerja kembali ke EF menjadi sebuah jawaban yang tepat.

So, here I am… Back to the beginning of my career path. My career path is a full circle now!

After all, I can’t hardly breathe here :D hahaaa… I’ve been warned before about the condition in this center and the truth is…there’s a chaos here!

Yups, setelah sebulan lebih, saya masih belajar untuk mengenal hal-hal baru sepeninggal saya dulu. Saya juga masih harus membenahi beberapa hal yang berantakan sebelumnya. Saya juga masih belajar untuk memahami karakter beberapa teman baru dan anak buah (honestly, I’m not comfortable by saying ‘anak buah’, what should I call them, then?).

But, I enjoy every moment of it :)

So, let’s my another journey begins….

Saatnya Move On, Girls!

I can’t remember his face. That’s what happened when I’m really into to someone. All I can remember it’s just the feeling.

-Carrie B-

from: bellasugar

from: bellasugar

Pernahkah terpikir oleh Anda yang membuat seseorang susah melupakan mantan kekasih adalah perasaan saat bersamanya, bukan orangnya?

Saya bukan orang yang susah move on, Anda boleh tanya kepada orang-orang terdekat saya. Bahkan, salah seorang teman pernah mengatakan saya terlalu ‘dingin’ untuk seorang wanita.

Ya, ya, ya.. Wanita memang identik dengan lemah, tak berdaya, dependent, dan sebagainya. But, hey! It’s gender. Nggak semua wanita harus lemah dan nggak semua lelaki harus kuat.

Kembali pada topik utama…

Setiap orang yang dekat dengan kita pasti meninggalkan ‘jejak’ (ini istilah saya) dalam hidup kita. Demikian halnya, para mantan yang pernah bersama kita.

Setiap mereka akan meninggalkan jejak berupa kenangan atau memori yang akan terus hidup bersama kita. Menurut saya, sebuah ingatan atau memori tidak akan hilang, hanya terlupa. Ingatan itu hanya terpojok oleh kenangan-kenangan baru yang kita buat. Suatu saat, ingatan itu akan kembali bila mendapat rangsangan atau pemicu.

Yap, terima kasih atas kehebatan otak kita dalam mengingat.

Oleh karena itu, menurut saya, mengenyahkan mantan adalah hal yang mustahil, nyaris tak mungkin.

Kita hanya harus belajar menjadikannya bagian dari perjalanan hidup kita. Percaya atau tidak, dengan menerima, kita sebetulnya telah melepaskan dan langkah kita akan terasa lebih ringan. Itulah alasan mengapa saya lebih mudah move on.

Sebenarnya, seperti kutipan di awal, yang Anda rindukan adalah perasaan yang Anda rasa saat bersamanya, bukan orangnya. Dunia Anda takkan hancur tanpanya karena perasaan itu akan dapat Anda rasakan kembali, meski tanpa dirinya.

So, live to the fullest girls!

*this writing is inspired by one of my friend