Staying Positive!

Staying positive took a lot lot LOT effort until it becomes a habit.

Saya percaya, setiap hal di dunia ini ada banyak sisi. Ada banyak hal yang jauh lebih dalam daripada sekedar yang terlihat di permukaan. Tidak ada orang yang jahat to the core, sebaliknya tidak ada orang baik yang gak punya sisi jahat. Hanya tergantung orang tersebut mau emphasize yang mana.

Berpikir dan berperilaku positif pun butuh latihan, konsistensi, dan effort. Saya pun masih terus belajar.

Dari pengalaman saya sendiri, menjadi orang yang positif tidak mudah tetapi ketika kita bisa melampaui yang negatif dan stay positive, langkah/ hidup saya menjadi lebih mudah for sure.

Ada yang pernah baca buku “The Secret”?

Saya baca buku itu sudah lama sekali bahkan saat itu saya tidak paham betul apa sih, maksud penulisnya, tetapi lately saya mulai paham korelasinya dengan hidup.

Saya percaya kita adalah magnet yang kuat. Apa yang terpancar dari diri kita itu pula yang akan menghampiri dan mendekati diri kita. Semakin kita positif, semakin banyak hal positif yang datang menghampiri hidup kita, sebaliknya semakin negatif kita maka semakin banyak pula hal negatif yang menempel.

But, it doesn’t mean I don’t have negative thought. I just don’t let them control my life.

Advertisements

I Choose To Be Happy

Banyak orang yang mau bahagia tetapi tidak sadar kalau bahagia itu pilihan.

Setiap bangun di pagi hari, kita punya banyak pilihan mau melalui hari dengan cara seperti apa dan bagaimana. Makanya, pastikan pilihan kita adalah yang membuat kita bahagia.

Sesimpel ketika bertemu macet di tengah perjalanan menuju kantor, mau memilih untuk marah dan menguras energi untuk mengumpat atau mencoba menikmatinya dan merasa ada tambahan waktu untuk dihabiskan dengan mendengarkan radio, audiobook, atau podcast.

Kita tidak bisa memilih untuk terjebak dalam kemacetan, tapi kita bisa memilih mau bagaimana menyikapinya. It’s our choice.

Bagi saya, diri kita sendiri yang punya andil untuk suasana hati kita. Apalagi bila kita bekerja dalam satu tim. Mood kita sedikit banyak akan mempengaruhi interaksi kita. Mood teman yang negatif bakal bikin kita merasa risih, demikian sebaliknya mood kita akan mempengaruhi teman-teman dalam tim.

Saya rasa, semua pasti pernah punya teman yang kerjanya cepat BT dan sering mengeluh. Ibarat dementor di buku Harry Potter, orang seperti ini mengisap kebahagiaan kita. Capek kan, berteman dengan orang seperti itu?

Nah, berhubung yang bisa kita kontrol adalah diri kita sendiri, jangan sampai justru kita yang menjadi dementornya. Pastinya, kita sendiri yang tahu bagaimana memperbaiki mood jelek kita dan, sekali lagi, kita memiliki pilihan mau bagaimana menyikapi apapun yang ditawarkan hidup ke hadapan kita. So, choose to be happy. Do what makes you happy. Lifted up your mood and be present.

(tulisan dr IG)

Anakmu, Wajahmu

aaa

Meski saya belum menjadi orangtua, setidaknya saya sudah menjadi seorang anak dan sekian tahun bekerja dalam lingkup dunia pendidikan, saya sedikit banyak juga belajar menyerempet soal parenting.

Tanpa maksud mengeneralisasi atau menghakimi, saya concern dengan anak-anak dari keluarga ekonomi kelas menengah yang orangtuanya sibuk bekerja. Again, tidak mengeneralisasi, but the fact is mostly.

Rata-rata, anak-anak ini lebih banyak berinteraksi dengan ART atau dititipkan ke kakek/ nenek mereka sehari-harinya. Jika kebetulan punya ART yang pintar dan beneran berdedikasi sih, anak bisa tumbuh dengan aman. Namun, tidak sedikit anak yang tumbuh dengan hasil didikan ART yang kerjanya nonton sinetron. Alhasil, anak kelas 1 atau 2 SD sudah bisa mem-bully temannya, bahkan sudah mengerti konsep pacaran dan naksir lawan jenis.

Jika dengan kakek/ nenek, tidak sedikit anak tumbuh manja dan terbiasa dilayani serta dituruti kemauannya. Entah mengapa, kecenderungan kakek/ nenek di Indonesia adalah memanjakan cucu berlebihan bagai raja dan ratu cilik.

Saya menyaksikan sendiri orangtua yang tidak tahu jadwal anak atau tidak tahu informasi sesimpel apa pelajaran atau makanan favorit anaknya. Saya berpikir, lumrah sih, bila orangtua menginginkan yang terbaik untuk anak-anaknya. Dalam usaha memberikan yang terbaik itu, beberapa orangtua bekerja keras siang-malam mencari nafkah. Akan tetapi, sungguh ironis bila pekerjaan itu justru menghilangkan waktu mereka untuk bersama anak-anaknya.

Parahnya lagi, ada orangtua yang merasa asal bisa menuruti segala permintaan dan keinginan anaknya, maka mereka sudah merasa berhasil jadi orangtua yang baik. Tanpa disadari, kebiasaan memberikan hidup nyaman dan memenuhi segi material anak saja juga memberikan dampak/ contoh yang kurang baik untuk anak. Saya mengalami sendiri disepelekan oleh murid SD karena dia merasa orangtuanya telah “membeli” jasa dan bisa berlaku semaunya. Anak usia 10 tahun bisa berkata “I’ve paid you…” kepada saya ketika ditegur.

Saya shock, tentu saja, tapi setelahnya saya merasa kasihan. Mungkin, anak itu terbiasa dengan orangtua yang membereskan segala sesuatunya dengan uang. Jadi dia merasa segala masalah bisa dibereskan dengan uang dan itu membuatnya merasa punya power.

Karena saya percaya anak adalah cerminan orangtua, anak-anak dengan attitude buruk juga cerminan orangtuanya. Sementara itu, bisa jadi orangtuanya tidak pernah 100% berperan dalam tumbuh kembang dan didikannya, tapi tetap saja nama orangtua yang tercoreng.

While, YOLO-you live only once, demikian anak-anak kita. Jika kita terlalu sibuk hingga tidak bisa memperhatikan tumbuh-kembang anak sendiri, alangkah sayangnya karena momen itu tidak akan kembali. Akankah sebagai orangtua kita akan menyesal bila anak kita sendiri tumbuh tanpa peran kita?

Cerita Hari Minggu: Doa untuk Mendapatkan Jodoh

Sebenarnya sudah dari dua hari lalu terpikir mau bercerita tapi yah, seperti yang sudah-sudah, saya selalu saja melewatkan momen menulis saat ada ide. Akhirnya, ide-ide itu hanya menjadi list/ daftar tanpa pernah dikembangkan, he he he…

Jadi hari Minggu kemarin, saya menemani orangtua saya sembahyang ke vihara. Terus terang, saya niat menemani mereka karena ajakan makan Mie Encim Kartini favorit saya sejak kanak-kanak setelah dari vihara. Oops…. 😝 tapi saya bukan mau bercerita tentang restoran bakmie di sini. Ada hal lain.
Kembali ke vihara, saya memang bukan pertama kalinya ke vihara tapi setelah dibaptis menjadi Katolik sekitar 16 tahun yang lalu, rasa-rasanya baru kemarin saya kembali menginjakkan kaki ke Vihara. Waktu kecil hal yang paling tidak saya sukai dari sembahyang di vihara adalah asap hio dan efek pedihnya di mata. Sekarang juga, sih tapi sudah lebih bisa menahan dibandingkan dulu. Rasanya seperti mau mati. 😵

Vihara yang saya kunjungi terletak di Gang Tepekong, Kartini (yang saya lupa namanya). Sejak dulu, setiap habis Imlek orangtua saya sembahyang di sana untuk mendoakan shio-shio yang dianggap ciong (kurang baik peruntungannya) di tahun yang baru. Biasanya ada daftar shio apa saja dan balasannya ada upeti (buah atau makanan) yang harus dipersembahkan ke dewa keberuntungan (again, saya lupa nama dewanya) agar nasib si shio ciong tidak malang. Sembahyang pun ada urutannya (kalau tidak salah ingat ada 16 atau 19 dewa/dewi) dari dewa/dewi tertinggi hingga yang paling bawah, tapi selalu diawali dan diakhiri sembahyang ke langit (Tuhan Allah). 

Sambil menunggu Si Mimo menyiapkan upeti di “dapur” vihara, tiba-tiba Si Pipo memanggil dari dalam. 

Pipo (P): Coba kamu sembahyang di Dewa itu, tuh Nel. 

Saya (S): Kenapa Po? Emang Dewa apaan?

P: (again… saya lupa namanya) Itu xxx, Dewa jodoh

S: 😅 🙄. . . (Tapi saya lakonin juga, mengatupkan tangan depan dada dan berdoa)

Tidak berapa lama, Mimo memulai “perjalanan” sembahyangnya dan… Ketika sampai giliran di depan patung si dewa jodoh, Si Mimo yang tadi tidak melihat adegan sebelumnya kembali memanggil saya 😅 

S: sudah tadi disuruh Pipo, Mo 😥😥😥

TETAPI (lagi), saya juga bukan mau bercerita tentang Si Dewa Jodoh atau kekhawatiran orangtua saya anak perempuan sulungnya tak kunjung mendapatkan jodoh, hellawww…

Jika kalian (yang baca tulisan saya) sadar, atau mungkin tidak sadar, saya bukan lagi penganut agama Buddha seperti orangtua saya. Saya sudah memilih agama saya sebelum saya punya KTP. Namun, saya tetap menghormati apa yang dipercaya oleh orangtua saya. Terlepas saya percaya atau tidak dengan efek kesaktian Si Dewa Jodoh, saya percaya tidak ada doa (agama) yang buruk. Setidaknya di mata orangtua saya, tindakan itu adalah doa dan harapan yang dipanjatkan mereka untuk saya dan doa orangtua adalah doa yang paling indah, bukan?

Generally speaking, saya benar-benar percaya tidak ada agama yang buruk. Di mata saya, semua agama mengajarkan kasih dan kebajikan pada dasarnya. Hanya saja, manusialah yang menjadikan agama yang dianutnya terlihat buruk karena tingkah lakunya dalam mengamalkan ajaran agamanya tidak mencerminkan kasih. 

Orangtua saya, meskipun bukan Katolik, tidak pernah menghalangi keinginan saya dulu ketika mau dibaptis. Mereka justru, hingga sekarang, yang sering mengingatkan ketika saya malas ke Gereja. Saya sendiri masih sembahyang ke leluhur saya di momen-momen tertentu atas dasar menghormati tradisi. Bukan berarti iman saya terhadap Gereja menjadi berkurang karena sembahyang, tapi yang penting saya pribadi tahu siapa yang saya percaya. Bagi saya, iman atau kepercayaan saya terhadap Tuhan saya sifatnya personal. Saya tidak akan memaksakan apa yang saya percayai, tetapi saya juga menghargai apa yang dipercaya oleh orang lain meski berbeda dengan saya. Terlebih, bila apa yang kita percayai justru menjadikan kita manusia yang lebih baik. 

Again, karena saya percaya tidak ada agama yang buruk, manusianya yang buruk. 

Dan, berakhirlah kisah saya kali ini.

Tulisan ini hanya sharing semata tanpa maksud menyinggung siapapun. 

Lose not Lost

Mei 2016

Saya tidak menyangka bulan ini akan menjadi bulan “kehilangan” bagi saya.

Mengapa demikian?

Awal bulan ini, saya merelakan salah satu guru senior saya untuk masuk ke jajaran manajemen. Prosesnya berjalan cukup cepat, saya hanya punya waktu 3 minggu dari awal proses hingga akhirnya ybs pindah role.

Selain dari akademik, dari tim operational saya juga merelakan satu-satunya CC saya untuk resign karena mengejar passionnya bekerja di radio.

Akhir bulan ini, memang sudah diprediksi, ada dua guru saya yang tidak melanjutkan kontrak kerjanya dengan alasan serupa, mengejar mimpi yang lain.

Hingga yang hampir tidak diduga, saya juga akan kehilangan supervisor saya, tangan kanan saya, untuk dipromosi masuk ke jajaran manajemen juga.

Tentu saja, namanya kehilangan tidak pernah mudah. Jika boleh memilih, tentu saja saya ingin semua tinggal. Perubahan, tim yang kembali oleng, penyesuaian kembali, semua itu akan mempengaruhi kinerja tim beberapa waktu ke depan.

Namun, di sisi lain, saya senang bila anggota tim saya bergerak maju dan memperoleh peluang yang lebih baik. Beberapa lama jadi pemimpin, saya sadar kesuksesan saya justru diukur dari kesuksesan anak-anak saya. Karenanya, semoga saja saya bisa terus menghasilkan orang-orang berkualitas dengan etos kerja yang tinggi.

 

Oopss, I did it again!

Hahahaa…

Iya emang susah berkomitmen untuk rutin menulis lagi. Saya tidak punya alasan lain selain itu memang, padahal belakangan justru banyak sekali kisah sukses berawal dari blog.

Again, blog ini bagi saya memang sarana menumpahkan uneg-uneg. Bukannya belakangan saya tidak banyak uneg-uneg, tapi memang saya sulit berkomitmen menuliskannya kembali di blog.

So, apa yang terjadi di tahun berjalan ini?

  • Tahun ini adalah tahun ke-4 saya kembali bergabung di EF English First.
  • Ini tahun ke-3 saya menjabat as CD di Puri Indah, artinya sudah lebih dari 2 tahun saya melewati 2 provinsi (Banten & Jakarta) dan 3 wilayah (Tangerang Selatan, Jakarta Selatan, Jakarta Barat) untuk bekerja.
  • Tahun ini, saya berhasil promote dua staff saya ke bagian manajemen. Semoga mereka bisa berkarya dengan baik 😉
  • Akhirnya, tahun ini, saya dan teman-teman dekat saya berhasil meluangkan waktu untuk liburan bersama, yeayy! Lombok dipilih menjadi tujuan wisata kami karena ingin liburan yang leisure, santai, leyeh-leyeh.
  • Tahun ini, saya juga berkesempatan liburan ke Hong Kong dengan temen jalan yang tidak biasa hahahaa… Karena sebelumnya belum pernah liburan bareng dan kombinasinya absurd banget.
  • Tahun ini, saya harap kesampaian ke USS Singapore (Ha Ha…). Saya emang telat banget beberapa kali ke SG tapi tidak ke USS-nya.
  • Sahabat saya dapat beasiswa ke Amerika dan akan berangkat bulan Agustus tahun ini, hikss, antara bangga dan sedih.
  • Saya mulai berkomitmen kembali untuk rutin membaca (nah!) sejak tahun 2015 lalu. Tahun ini, saya mencoba berkomitmen untuk menulis lagi, nih…
  • Saya juga berniat mencoba investasi/ nabung lebih besar lagi tahun ini demi my under construction dream.
  • Tahun ini, saya masih sendiri, and happy 🙂 in case ada yg bertanya-tanya, ha ha ha…

 

Antara Batuk, Marshmallow, dan Nanas

Awalnya karena tahun 2014 lalu saya merasa sering sekali jatuh sakit, bahkan salah satunya sampai menyebabkan saya dibawa ke UGD pagi hari buta, maka tahun 2015 ini saya membulatkan tekad untuk menjaga tubuh untuk tidak jatuh sakit.

So far, sampai bulan September kemarin masih aman.

Namun, awal bulan Oktober ini, saya sudah mulai merasa gejala-gejala mau flu: badan terasa tidak enak, hidung gatal, suhu tubuh pun kadang terasa tinggi (sumeng), dan sebagainya. Mungkin, ini akibat akumulasi capek sejak Center Competition dimulai di bulan Juni hingga puncaknya di Agustus-September lalu. Kompetisi yang berlangsung berbulan-bulan menyebabkan tubuh saya seolah berlari marathon. Di saat perlombaan berlangsung, karena fokus pada target dan achievement, saya tidak merasakan “complain” kondisi tubuh yang dipaksa long hour atau berpikir terus-menerus. Akibatnya, di saat perlombaan selesai, capek dan babak belurnya baru terasa.

Akhirnya, sejak 4 hari lalu saya tersiksa batuk yang mengganggu dan tak kunjung sembuh. Sudah 3 malam saya sulit tidur dibuatnya karena gatal tak tertahankan. Herannya, batuk ini cuma merongrong di malam hari saja. Di siang hari, saya masih bisa beraktifitas normal tanpa diganggu batuk hanya saja ditemani suara yang jadi ngebass, walaupun agak teler juga karena kurang tidur.

Hingga detik ini, saya masih keras kepala mengandalkan OBH yang cuma diminum setiap habis makan malam. Saya tidak berani minum di pagi atau siang hari karena OBH-nya menimbulkan rasa kantuk, bisa tidak fokus bekerja nanti.

Kebetulan, di beberapa sosial media (Facebook dan Instagram) ada beberapa postingan seputar radang tenggorokan atau sore throat muncul di lini massa saya. Lantas, seperti anak zaman sekarang pada umumnya, saya pun mencari kepastian melalui “Mbah Google”, ceritanya riset, hehehe…

Ada dua solusi yang penasaran ingin saya ketahui kebenarannya:

  1. Marshmallow

Hah? Gak salah ini, batuk malah disuruh makan marshmallow yang mengandung gula dan super manis? Apa gak tambah gatel itu tenggorokan, saya pikir.

Ternyata, uji klinis secara medis telah dilakukan dan marshmallow terbukti efektif mengatasi batuk dan sakit tenggorokan. Eits, jangan salah! Marshmallow di sini bukanlah snack manis bertekstur kenyal yang sering kita temui di supermarket bagian permen. Marshmallow yang dimaksud adalah sejenis tanaman dengan nama latin Althaea Officinalis yang memiliki nama panggilan marshmallow.

Ekstrak tanaman itulah yang diklaim efektif meredakan batuk ketimbang obat batuk lain. Ekstrak yang dikonsumsi dalam bentuk kapsul marshmallow diklaim dapat meringankan sakit tenggorokan.

2. Jus Nanas

Ini juga membuat saya bertanya-tanya. Bukankah nanas justru dikenal tidak cukup baik untuk kesehatan? Kok, malah dikatakan baik untuk radang tenggorokan.

Buah nanas diklaim mengandung enzim bernama bromelain yang diketahui bisa mengurangi peradangan dalam tubuh. Bromelain juga membantu melancarkan sistem pencernaan dan bisa mengurangi lendir yang dimiliki oleh pasien tuberkulosis (TBC). Antioksidan yang terkandung di dalamnya juga bisa membantu proses penyembuhan dari peradangan.

Hmmm… Masalahnya, saya tidak suka buah nanas. Gimana, dong?

disadur dari berbagai sumber