EksiStensiaLisme

Eksistensialisme: aliran filsafat yang pahamnya berpusat pada manusia individu yang bertanggung jawab atas kemauannya yang bebas tanpa mengetahui mana yang benar dan mana yang tidak.

Di dalam aliran eksistensialisme, individu dipandang sebagai subjek, bukan objek. Oleh karena itu, kebebasan individu menjadi hal yang utama. Penganut aliran ini mengkhawatirkan segala bentuk gerakan penyamarataan karena mereka menganggap hal ini akan mengakibatkan proses dehumanisasi masnusia.

Akan tetapi, manusia adalah makhluk yang akan melakukan banyak hal untuk menunjukkan keberadaan dirinya. Manusia cenderung meniru dan mengikuti trend atau kelompok yang ada. Dengan menjadi bagian dari apa yang berlaku umum, manusia baru bisa menganggap dirinya eksis.

Ternyata, pada kenyataannya, keseragaman itu membuat eksistensi seseorang hilang. Oleh karena itu, kita harus “beda” kalau mau eksis!

Selama ini gw selalu merasa bersalah tiap kali gw tidak bisa sama seperti komunitas atau (anggap aja) kelompok gw. Ada tekanan tidak terlihat yang medorong gw untuk bersikap dan bertindak sama agar dapat diterima.

Akan tetapi, sikap gw itu kadang malah “membunuh” diri gw yang sebenarnya… Ada satu saat, gw gak tahan dan ingin lari, tapi gw takut untuk berbeda dan sendiri…

Salut untuk Satre, Kierkegaard, dan kawan2 yang berani “beda” dan bertahan dengan paham eksistensialisme hingga akhirnya dianggap aneh dan diasingkan. Akan tetapi, meskipun dianggap aneh, dengan begitu itu mereka menunjukkan diri mereka yang sebenarnya. Jujur apa adanya. Gak cuma ikut2an…

Apakah sesuatu yang dikatakan normal harus selalu yang dianut oleh mayoritas? Dan untuk bisa eksis dalam sebuah komunitas kita harus mengikuti apa yang menurut komunitas itu normal, sedangkan para penganut aliran eksistensialisme malah lebih mengutamakan keunikan individu dibandingkan masyarakat. Mungkin itu pertanyaan besar yang terdapat di dalam salah satu novel Paoulo Coelho, Veronika Decides To Die, yang juga menjadi pertanyaan gw.

Kita, sebagai manusia dan bagian dari komunitas masyarakat, selalu dihadapkan pada sesuatu yang teratur dan seragam, padahal terkadang keseragaman itu justru mematikan individu itu sendiri. Usaha untuk menurnikan dan menyeragamkan (seperti ras, agama, dan lainnya) justru malah melupakan bahwa di dunia memang tidak ada individu yang persis sama, bahkan pasangan kembar identik sekalipun, dan hal itu menjadi penyebab kekacauan…

Manusia sering lupa kalau kita semua, selain bagian dari komunitas masyarakat, juga merupakan individu bebas yang juga punya keunikan masing-masing. Dan, tidak mungkin menyamakan 100% semua individu yang ada.

Gw pernah terjebak dalam yang namanya keseragaman dan keteraturan. Dan, gw pernah muak, ingin keluar dari rutinitas. Gw melakukannya, hmm dan itu melegakan. Buat apa harus selalu sama, sedangkan tubuh kita sendiri tidak pernah sama setiap harinya. Buat apa merasa diterima tetapi kita sendiri tidak nyaman dengan prosesnya (lingkungannya).

Sekali-kali boleh juga melenceng dari yang ada pada umumnya, siapa tahu akhirnya banyak yang ikut dan kita jadi lebih eksis dibanding Cuma jadi pengikut karena sekarang kita yang mulai bergerak duluan.

Thought Late @ Night,

26 Juli 2006

Advertisements

Author: putrikatak

Love to write and live by writing. Like frogs, stars, rains, and the color of blue.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s