Jadi cantik bukan perkara mudah…

7 Maret 2007

Aku sedang dalam proses menyelesaikan skripsiku…

Semakin banyak wacana dan teori feminis yang aku baca dan aku semakin tertarik untuk mengetahui seluk beluknya…

Ketika sampai pada suatu kata, “Miss Universe”, aku tergelitik untuk membuat sesuatu, entah ini tanggapan atau pernyataan atau pembelaan terhadap perempuan…

Aku, dulu, selalu menganggap tidak penting semua kontes2 kecantikan yang menurutku mengeksploitasi perempuan melalui tubuhnya. Dan, hanya perempuan-perempuan bodoh yang mau diperlakukan seperti itu. Akan tetapi, aku me-rekonstruksi lagi penilaianku itu dan mencoba memandangnya dari sudut yang berbeda, yang lain.

Tidak semua unsur dalam kontes kecantikan menjatuhkan atau mengeksploitasi perempuan. Ada beberapa hal yang mungkin justru berusaha menunjukkan kekuatan atau eksistensi perempuan. Pada dasarnya, perempuan-perempuan itu diajak bersaing mengunggulkan diri untuk menjadi yang terbaik dari dirinya sendiri. Sebuah semangat kompetitif yang harusnya memberi nilai positif.

Selain itu, proses panjang yang harus mereka lalui untuk sampai pada tahap Miss Unverse adalah sebuah perjuangan yang tidak mudah dicapai begitu saja. Ada pandangan negatif terhadap mereka yang dianggap hanya mengandalkan kecantikan wajah saja. Namun, ada aspek lain dalam penilaian yang terkadang tidak diperhatikan oleh kita.

Kecantikan, saya akui bukan hal yang mudah diperoleh, kecantikan dari lahir pun akan tertutup jika tidak dirawat. Untuk menjadi cantik, perempuan harus melakukan proses perawatan panjang yang tidak jarang, menyakitkan. Dalam roses menjadi cantik inilah, seorang perempuan harus kita hargai. Cantik di sini memang sebuah pengobjektivikasian diri perempuan. Image cantik yang hampir diakui di seluruh dunia adalah, langsing, kulit putih bersih, wajah tanpa noda, dan sebagainya. Akan tetapi, perempuan yang sadar akan kelebihannya dan berusaha menonjolkan atau memperlihatkannya kepada publik, bukankah dia telah menjadi subjek dalam pengobjektivikasian dirinya?

Kita memang lebih mudah untuk mengkritik dan mancari hal negatif dari seseorang atau sesuatu hal. Demikian halnya dalam kasus kontes kecantikan ini. Saya mengambil contoh kasus Nadine Chandarwinata yang dicela banyak orang karena keseleo lidah dalam menjawab pertanyaan untuknya dan dianggap hanya mengandalkan tubuh dan kecantikannya saja, malah ada yang bilang dia justru tidak cantik, padahal definisi cantik itu kan relatif.

Kita yang mudah mencela dan mangkritik Nadine, pernahkan berada pada posisinya saat itu? Pernahkah kita menghasilkan sebuah prestasi yang mungkin dianggap remeh oleh orang lain, atau kita hanya diam tak pernah berbuat sesuatu tetapi hanya ikut mencela saja?

Butuh keberanian dan kepercayaan diri dalam diri seseorang untuk bersaing dan keluar dari zona nyamannya. Itulah hal pertama yang harus kita hargai dari seorang Nadine. Mengenai keterbatasan dan kekurangannya, toh di dunia ini tidak ada yang sempurna? Jadi, hargailah dulu keberadaan Nadine dalam kontes dunia itu. Dia telah lebih dulu unggul dari saingan-saingannya yang berasal dari seluruh penjuru Indonesia. Kita seharusnya mensupport dia karena mewakili negara kita dalam kontes dunia.

Mengenai heboh “jual tubuh” perempuan dalam kontes kecantikan, sejak awal saya tidak setuju. Hebohnya RUU APP seiring dengan keberangkatan Nadine mengikuti Miss Universe membuat para perempuan heboh “membela” kaumnya, salah satunya Nadine. Akan tetapi, “pembelaan” yang dilakukan justru menghujat dan mencela Nadine. Nadine dianggap melenceng dari adat dan tradisi Timur, yang katanya sopan, berbudi luhur, dsb. Inikah yang disebut membela? Dengan mencela kaumnya sendiri?

Pilihan Nadine untuk ikut mengenakan bikini saat pemotretan dianggap sebagai hal yang tabu, porno, dan memalukan karena tidak sesuai dengan tradisi dan adat budaya kita. Sebenarnya, adat kita juga “porno”, masih banyak suku asli negara kita yang tidak berpakaian lengkap. Kebaya sendiri yang sudah begitu terbiasa dilihat dan dikenakan, masih memamerkan sebagian tubuh perempuan dan menonjolkan lekuk tubuh perempuan. Lalu, apa bedanya dengan cara berpakaian Barat? Bukankah yang ditutupi sekaligus memperlihatkan, seperti kebaya yang ketat membalut tubuh, lebih mengundang penasaran dan berahi orang?

Sebenarnya, yang perlu diperbaiki bukan pakaiannya tapi cara berpikirnya. Masyarakat saja yang menilai bikini sebagai porno, padahal kalau melihat suku di Papua yang masih banyak tidak mengenakan pakaian bagian atas alias topless, mereka gak berpikir kalau itu porno. Emang lantas yang melihat jadi horny? Saya rasa yang melihat malah jijik dan kabur…

Dan, apa salah jika perempuan merasa nyaman dengan tubuhnya dan berusaha menonjolkannya sebagai wujud kecintaan dan kebanggaan atas dirinya? Seperti telah saya katakan di atas, “Menjadi cantik itu bukan perkara mudah, loh!”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s