Membaca itu mahal!

16 Maret 2007

Saya adalah salah satu dari penikmat dan pengkoleksi buku. Saya amat gemar membaca dan sayang sekali pada koleksi buku-buku saya. Saya sangat ingin memiliki perpustakaan pribadi kelak. Oleh karena itu, saya rajin membeli untuk menambah koleksi saya.

Akan tetapi, dibandingkan dulu, membeli buku sekarang membuat saya harus merogoh kantong cukup dalam. Dengan kata lain, harga buku-buku semakin mahal. Jika saya perhatikan, minat baca masyarakat semakin meningkat tahun-tahun belakangan ini. Pengarang pun semakin banyak bermunculan. Hal ini malah membuat produsen buku mengambil keuntungan lebih dengan manaikan harganya semakin tinggi.

Contoh paling kecil adalah harga buku komik. Selain buku fiksi, saya juga penggemar setia komik-komik Jepang. Saya mulai mengoleksi komik sejak sekolah dasar. Harga komik waktu itu masih Rp 2.700,oo, lalu naik menjadi Rp 3.300,00, Rp 3.500,00, dan hingga sekarang menjadi Rp 12.000,00.

Menurut saya, komik bacaan paling menghibur dan cepat habis dibaca. Sekarang, saya jadi tak rela mengeluarkan Rp 12.000,oo untuk sebuah buku komik karena lebih baik saya menabung untuk membeli buku fiksi yang harganya mungkin tidak terlalu jauh tetapi dapat lebih lama untuk dibaca.

Akan tetapi, harga buku fiksi pun akhirnya tidak mau kalah dari harga komik-komik itu. Buku-buku itu pun semakin melonjak harganya. Jika awalnya dengan uang Rp 100.000,00 saya bisa membeli kurang lebih 4 – 5 buku (novel fiksi), sekarang mungkin saya hanya bisa mendapatkan 3 buku saja.

Bagi saya, yang memang haus dan hobi akan membaca, tidak masalah menyisihkan uang saya untuk membeli buku. Toh, uang jajan saya memang sedikit berlebih karena saya masih dapat uang jajan orangtua saya, padahal saya juga sedikit-sedikit mulai berpenghasilan meski tidak tetap. Akan tetapi, bagaimana dengan orang-orang yang butuh dan suka membaca tetapi tak mampu beli?

Kita akan dengan mudah mengatakan pinjam saja atau ke perpustakaan, tetapi tahukan Anda, buku-buku di perpustakaan masih sering kurang up-to-date dan kurang terpelihara dengan baik. Saya sendiri agak bermasalah dengan orang-orang yang suka meminjam koleksi saya. Saya amat memperhatikan dan menyayangi buku-buku saya seperti anak-anak saya sendiri, tetapi terkadang orang yang meminjam tidak se-care itu dengan buku. Mungkin, karena mereka hanya suka membacanya saja tetapi tidak memiliki perasan sayang pada buku yang sudah dibaca, atau karena tidak merasa memiliki buku tersebut jadi kurang perhatian.

Intinya, saya ingin mengatakan bahwa β€œMembaca itu mahal!” Jadi, membaca hanya bisa dilakukan oleh orang yang mampu saja. Ada pepatah yang mengatakan buku adalah jendela dunia, tapi masih banyak orang yang tidak mampu membaca. Entah karena memang buta huruf atau tidak mampu membeli buku. Lantas, salah siapa donk?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s