Pendidikan

Menengok ke beberapa hari yang lalu… Tergelitik untuk ikut mengomentari mengenai nasib pendidikan di Indonesia yang semakin mengkhawatirkan.

Sebenarnya, gue juga uda nggak terlalu percaya dengan pendidikan formal yang hanya menuntut siswanya untuk berprestasi secara akademis saja. Kemampuan setiap orang berbeda-beda pastinya, dan itu nggak bisa ditentukan hanya dari nilai akademisnya saja. Ada beberapa orang yang lebih ahli berbicara daripada menulis, demikian sebaliknya. Ada yang lebih mudah berprestasi dalam kelompok, ada yang lebih berprestasi jika bekerja sendiri.

Ada banyak faktor yang dapat digunakan untuk menilai seseorang. Terkadang, siswa yang memiliki rekor akademis yang baik, belum tentu dalam prakteknya bekerja sebaik nilainya di atas kertas…

That’s true…

Gue sendiri mengalaminya saat di skul. Dengan rapor yang memiliki NK (nilai kurang), gue nggak bisa ikutan jadi anak OSIS atau organisasi skul lainnya, kecuali ekskul yang memang wajib. Skul menganggap gue nggak akan mampu menambah jam di luar belajar dengan kegiatan lain karena ada nilai merah dalam rapor gue. Tapi, sampai lulus, gue tetap menerima rapor dengan angka merah di Fisika, padahal pelajaran lain baik2 aja. Which means, waktu kelas tiga nggak ada merah lagi karena gue anak IPS dan nggak ada pelajaran Fisika. Akan tetapi, sayangnya terlambat kalau mau ikut organisasi pas kelas 3 karena masa aktifnya paling cuma sampai semester pertama.
Jadilah gue anak sekolahan yang biasa aja di mata guru di skul…

Akan tetapi, berbeda saat kuliah… Bisa dibilang gue emang nggak terlalu menonjol dalam prestasi akademis alias IPK, tapi gue termasuk orang yang cukup aktif dan didengarkan pendapat dan pandangannya, baik oleh teman2 maupun dosen. Gue bisa aktif dalam beberapa kegiatan sekaligus, tapi gue tetap termasuk mahasiswa yang cukup rajin di kelas… Boleh dibilang, gue lebih merasa ‘hidup’ pada masa kuliah gue, karena gue diizinkan berkontribusi terhadap apa yang ada, yang gue suka, dan dihargai tidak hanya sekedar dari nilai di atas kertas! Lagipula, IPK gue juga termasuk cukup memuaskan, masa skripsi dan sidang lancar, outstanding malah, dan gue tetap lulus tepat waktu…

Selanjutnya, gue nggak mengalami kesulitan berarti dalam mencari kerja. Bisa dikatakan cukup beruntung karena gue nggak mengalami ngganggur dan susahnya cari kerja. Dan, gue mendapatkan profesi gue sekarang tanpa koneksi, kemampuan gue sendiri. Coba kalau gue terlanjur menilai rendah diri dan kemampuan gue sejak masa skul dulu, nggak akan ada gue yang sekarang!

Anak dengan nilai kurang, tidak selamanya anak yang bodoh!!!

Cerita ini bukan untuk menyombongkan diri, tapi refeleksi aja kalau prestasi itu bisa kita raih kalau ada kemauan, dan sudah bukan zamannya lagi menilai kemampuan seseorang berdasarkan nilai akademis saja. Toh, ijazah sekarang juga sudah bisa dibeli, kan…

11 Mei ’08

Advertisements

Author: putrikatak

Love to write and live by writing. Like frogs, stars, rains, and the color of blue.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s