Dokter cinta *mode on*

Sebenarnya ini suntikan semangat buat sahabat saya.

Kita, setiap orang, pastinya pernah mengalami sakitnya patah hati. Ketika di awal luka, rasanya sulit sekali melalui hari dan menjalaninya seperti biasa. Kehilangan membuat kita merasakan ada ruang yang kosong dan luka yang menganga di hati kita. Sulit rasanya untuk bangkit dan tetap berpikir positif, terlebih lagi jika kita teramat menyayanginya. Perasaan bingung, tidak terima juga menggelayuti hati. “Kalau memang aku nggak salah, kalau memang aku baik, lantas mengapa kamu pergi juga meninggalkan aku?” Pertanyaan itu terus menghantui…

Lamanya pulih memang beda-beda untuk tiap orang, caranya juga, tapi kalau saya bilang semua memang ada fasenya.

Pertama, fase menyalahkan diri/ orang lain dan mempertanyakan alasan-alasan. Kita memang kerap mencari ‘kambing hitam’ untuk pembenaran setiap masalah yang mampir dalam hidup kita, padahal ada kalanya karena memang sudah jalannya menuju akhir. Kalau memang jodoh sudah berakhir, tinggal menunggu waktu saja hubungan kita untuk berakhir… Ya, kan? Sekeras apapun kita mencoba, sekuat apapun kita bertahan kalau memang sudah nggak klik, nggak akan ada habisnya.

Kedua, fase pemulihan. Kita sudah belajar menerima, mulai reda emosinya sehingga bisa berpikir jernih. Nah, di sini baru bisa kelihatan dengan jelas apa yang menjadi penyebab sebenarnya hubungan itu berakhir. Terkadang, memang nggak perlu ada alasan atau sebab khusus untuk akhir sebuah hubungan… Namun, dalam tahap ini, kita sudah bisa menata kembali hidup kita, bahkan sudah bisa menghadapi kembali si mantan. Walaupun, masih suka kebayang-bayang sama kenangan-kenangan bareng dia. (Kalau mantan punya pacar baru di tahap ini, masih bisa keki berat, neh!)

Pada fase ketiga, melupakan. Yah, nggak serta-merta lupa begitu saja sama mantan, maksudnya di sini kita sudah bisa belajar melupakan patah hati kita dan mencoba membuka hati kita kembali buat menerima orang lain. Kita mulai kembali jelalatan dan pecicilan buat tebar pesona sana-sini. Buat yang jodohnya masih nyambung, bisa jadi malah sadar dan sepakat memulai semua dari awal lagi. Akan tetapi, ada juga yang dalam tahap ini malah meleburkan diri dalam kesibukan dan menjadikan “cari pacar” adalah urutan kesekian, saya dalam tahap ini kayaknya, he he he…

Fase terakhir adalah fase mencintai all over again, ha ha ha… Ya, di sini kita sudah benar-benar bisa kembali kasmaran dan, “Sakit hati?” “Sudah lupa, tuh…”

Makanya, kalau mencintai, tuh, butuh keberanian! Kalau berani mencintai kudu berani merasakan sakit juga!

Ihihiihihihi…

Ini, mah, sotoy-sotoynya saya, si dokter cinta gadungan, kekekeeee…. Believe it or not!

Advertisements

Author: putrikatak

Love to write and live by writing. Like frogs, stars, rains, and the color of blue.

One thought on “Dokter cinta *mode on*”

  1. Ly, ada fase yang lupa: merelakan. kita nggak akan bisa melupakan sebelum merelakan. even, udah rela pun kadang-kadang lupa itu masih nggak akan bisa terjadi. Bingung kan? Sini, konsul sama yang lebih ahli. Ehehe…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s