Bekerja sepenuh hati

Ide tulisan ini datang ketika saya kembali membaca buku catatan kecil yang berisi ide tulisan atau pertanyaan. Saya terpaku pada satu draft tulisan yang idenya saya dapatkan ketika meliput sebuah workshop karier. Di tengah suasana hening mendengarkan penjelasan si pembicara menjelang akhir, tiba-tiba ada satu pesan yang beliau lontarkan dan cukup menyentil.

“Bekerja Sepenuh Hati”

Benar juga, sih, orang yang bekerja sepenuh hati pastinya menghasilkan kerja yang baik, karenan memang dilakoni dengan hati, nggak asal jadi. Tapi memang sulit untuk bisa bekerja sepenuh hati.

Buat beberapa orang bekerja layaknya sebuah kewajiban yang jika memang sudah waktunya, mau nggak mau, harus dijalani. Segelintir orang menganggap bekerja sebagai bentuk eksistensi diri saja. Ada juga yang memandang pekerjaan sebagai suatu kebutuhan karenan memerlukan sumber penghasilan untuk hidup.

Orientasi keberhasilan tiap orang pun berbeda-beda. Ada yang mengejar jenjang karier tertinggi atau perusahaan paling bonafit. Sebagian lagi, mengejar materi, ukuran suksesnya terletak pada seberapa besar penghasilan yang diperoleh. Sedangkan buat beberapa orang seperti saya, keberhasilan adalah bisa bekerja pada bidang yang saya minati atau saya inginkan.

Memang, sih, tidak banyak orang yang beruntung mendapatkan pekerjaan yang diinginkan, tapi tergantung strategi dan kejelian mereka melihat peluang juga, kok. Saya percaya pada pepatah, dimana ada keinginan, maka di situ ada jalan (Where there is a will, there is a way) jadi saya nggak pernah berambisi terlalu muluk-muluk yang penting ada keinginan/ target yang harus dicapai, punya strategi, dan niat untuk mencapainya. Itu saja cukup.

Nah, balik lagi ke pesan ‘bekerja sepenuh hati’ itu, saya pribadi memang merasa ada benarnya. Tapi menurut saya, bekerja sepenuh hati berkaitan dengan kecintaan seseorang pada pekerjaannya. Jika seseorang mencintai/ menyukai pekerjaannya, maka otomatis ia akan bekerja sepenuh hatinya, tanpa paksaan, tanpa beban. Cuma bagaimana dengan orang-orang yang merasa ‘salah nyemplung’? Untuk berangkat bekerja saja butuh usaha keras, apalagi mencintai pekerjaannya? Kalau sudah demikian bagaimana bisa bekerja sepenuh hati?

Pekerjaan yang kita kerjakan sepenuh hati memang akan menghasilkan sesuatu yang baik pastinya, dibandingkan pekerjaan yang kita lakukan setengah hati. Pekerjaan yang dilakukan setengah hati akan menghasilkan sesuatu yang asal jadi, asal selesai. Kalau sudah begitu kinerja kita juga akan dinilai kurang baik.

So, bagaimana caranya biar bisa bekerja sepenuh hati?

Yah, balik lagi tadi, kita harus mencintai pekerjaan kita terlebih dahulu. Makanya, jangan terlalu menomorsatukan materi sebagai ukuran keberhasilan. Memang nggak muna, sih, saya juga suka mupeng melihat teman-teman lain yang pendapatannya (jauh) lebih besar dibandingkan saya. Ingin mencari pekerjaan lain yang lebih bergengsi, lebih besar penghasilannya, bla bla bla, dst… Cuma melihat mereka juga perlu pengorbanan lebih untuk bekerja, tak jarang juga mengeluh ini itu, kok, rasanya saya masih lebih baik, yah!

Kalau dibandingkan mereka, memang pekerjaan saya sekarang tidak memberi penghasilan yang spektakuler, tapi pekerjaan ini adalah sesuatu yang saya sukai dan saya menjalaninya tanpa beban karena memang senang dan menikmati. Saya bisa bekerja sepenuh hati. Kalau sudah begitu, baru berpikir, ternyata betapa beruntungnya saya… He he he…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s