Emang gampang jadi cewe?

Hari ini saya bekerja. Yap, bekerja di Hari Minggu. Memang, sih, cuma acara Nonton Bareng (Nobar) dan di mall pula, tapi tetap saja ada tanggung jawab moral soal kerjaan. Cuma memang resikonya profesi saya, sih, kerja Sabtu Minggu.

Hari ini, saya ditemani oleh sahabat saya. Dipikir-pikir, sudah agak lama tidak menghabiskan waktu berdua sama dia. –Yah, setelah kembali menjomblo memang, sih, saya nggak pernah kesepian, malah teman date-nya yang berganti-ganti (cewe maupun cowo, kekekeee…). Cuma nggak bareng dia!– Kalau dengan dia, ada saja topik yang ‘ramai’ untuk dibicarakan.

Hari ini, topik yang disinggung mengenai cinta, jodoh, dan pernikahan. Di usia kami, perempuan memang sudah ‘dikejar-kejar’ dengan pertanyaan “Siapa pacarnya sekarang?”, “Kenapa masih sendiri?”, dan “Kapan merit?” Halahh, capee, deeeh…

Akhirnya, dia mengakui ketularan saya, yangkalau diizinkan, nggak pengen merit. Alasannya, sih, berbeda dengan saya. Dia merasa kesulitan mencari jodoh yang sesuai dengan keinginan nyokapnya. Setiap kali, selalu saja ada celahnya, padahal dia sudah berusaha untuk mencari yang terbaik dan memenuhi syarat nyokapnya. Lama-lama capek juga dia karena mana ada, sih, orang yang sempurna? Akhirnya, sekarang dia memilih menjalani apa yang nyaman dan enak saja buat dia, nggak perlu ada ikatan yang penting hepi.

Emang susah jadi perempuan. Selesai ini, ada pencapaian lainnya. Lulus kuliah dikejar-kejar sama kerjaan. Kerjaan dapet, lalu dikejar-kejar harus nikah, habis nikah masih dikejar-kejar lagi urusan anak, dan seterusnya. Belum lagi tuntutan lingkungan ada istilah ‘perawan tua’, istri nggak becus, wanita karier, dan banyak lagi. Mana ada istilah pria karier dan perjaka tua? Ada juga makin tua, makin jadi.

Jadi cewe jomblo, kayak saya sekarang, masih saja ada susahya. Bergaul sama banyak lelaki (seperti saya bilang tadi pasangan saya tiap wikend ganti-ganti, maklum nyari yang bisa nemenin (*kok, kesannya gampangan, yaah, he he*) takut sama omongan tetangga. Untung bonyok saya asik, nggak reseh anaknya mau jalan sama sapa yang penting jemput di rumah, pulangin ke rumah. Kalau jalan bareng tapi cewe sendiri, bakal lama ngejomblonya karna dikelilingi sama cowo juga. Jalan sama cewe-cewe, lebih lamaaa lagi ngejomblo karna temen cewe saya lebih ‘gahar’, kagak ada yang brani ngedeketin, kekekeeee…

Enaknya, sih, bonyok nggak pernah nuntut ini itu urusan jodoh. Mungkin mereka sadar, anak perawannya yang satu ini emang lain daripada yang lain, nggak bisa dipaksa kalau nggak mau. Mungkin juga terbiasa dengan teman saya yang sebagian besar cowo melulu, jadi bingung cowonya yang mana (apa mikir anaknya emang bakat poliandri??) atauuu malah pasrah anaknya ‘nggak laku’ yaa? Hahaaa…

Perjalanan kurang lebih 45 menit dari PIM ke rumah, akhirnya berakhir tanpa ada ending. Eh, sampai di rumah, tiba-tiba bokap ngasih angpao dari acara lamaran sepupu saya “Anggap aja doa. Biar enteng jodoh!” katanya. *Gubraaak*

Hwalah!!!

Advertisements

Author: putrikatak

Love to write and live by writing. Like frogs, stars, rains, and the color of blue.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s