Nggak bisa sendiri

Kemarin, sebelum tidur, tiba-tiba teringat sebuah perbincangan dengan seorang teman.

Dia mengklaim dirinya mampu dan lebih senang hidup sendiri (dalam arti sebenarnya). Jadi dia nggak setuju kalau pelajaran Sosiologi di sekolah dulu mengatakan bahwa manusia adalah makhluk sosial yang nggak bisa hidup tanpa orang lain.

Sebenarnya, sih, dalam lingkup kecil, maksud dia, dia sudah nggak peduli ada teman atau tidak. Dia sudah masuk kategori anti-sosial sepertinya. Dia bilang, sih, cukup ditemani komputer dan koneksi internet juga sudah cukup.

Emang, yah, gadget-gadget itu bikin orang jadi malas bersosialisasi. Di perjalanan ke kantor saja, sebagian besar orang di busway dan jalan kupingnya disumbat sama mp3. Ditambah sekarang, BB sedang menjamur, bikin orang asyik menatap layar monitor BB masing-masing. Semua dilakukan via e-mail or browsing di internet. Mau ngecek berita atau kabar terbaru teman, cek saja status FB-nya, nggak perlu repot-repot SMS or telpon.

Memang, sih, teknologi itu membuat batas jarak dan waktu menjadi tiada. Tapi, kan, tetap lebih seru kalau wujud temannya terlihat langsung! Bayangin saja seperti di film Wall-E yang semua manusianya mengandalkan robot, bahkan untuk berkomunikasi pun dilakukan secara virtual. Ironisnya, mereka sampai nggak tahu punya kolam renang karena hampir nggak pernah terlepas dari layar monitornya. Udah gitu, karena jarang bergerak, mereka semua gembrot-gembrot! Hiiii…

Saya sendiri, entah apa memang karena gaptek atau nggak, masih tetap lebih suka bersosialisasi langsung. I hate being alone! Kalau orang bilang, kadang, kita butuh waktu untuk sendiri, sepertinya itu tidak ada dalam kamus saya. Setiap kali saya stres atau tertekan, saya malah membutuhkan waktu buat ngumpul-ngumpul atau curhat sama teman buat nge-refresh pikiran. Malah, ada beberapa teman yang memberi embel-embel “bawel” sebagai nama tengah saya karena saya memang senang ngobrol.

Makanya, kebalikan dari Si Teman itu, saya merasa nggak mungkin hidup sendiri. Habis, saya benci sekali merasa sendiri dan mati gaya kalau nggak ada orang buat diajak nobrol (Walaupun saya juga suka autis kalau lagi serius baca buku Xp kekeee…). Saya juga masih merasa penting buat tahu kabar dan sesekali janjian ketemu dengan teman-teman saya. Kalau lama nggak ketemu sama mereka, saya bisa blingsatan sendiri…

Jadi sampai akhir pembicaraan, perdebatan saya dengan Si Teman itu tak kunjung selesai… (Intinya, sih, saya masih nggak suka sendirian!!)

Advertisements

Author: putrikatak

Love to write and live by writing. Like frogs, stars, rains, and the color of blue.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s