Belajar menjadi dewasa

Kita sering sekali hanya mau melihat dengan kacamata kita sendiri. Enggan memperhatikan dari sisi yang lain. Hanya ada saya, bagaimana dengan saya, maunya saya, untuk saya, buat saya, pendapat saya, perasaan saya, ….

Saya sendiri baru menyadarinya beberapa waktu lalu. Ketika saya tiba-tiba dihentak oleh pertanyaan abadi, ”Apa arti diri saya bagi orang lain?”

Belakangan, saya memang sedang melow, sedang gundah menghadapi rasa kehilangan, gelisah melalui perubahan dalam tahap kehidupan. Saya menyaksikan satu per satu teman dan sahabat, beranjak dewasa dan berlalu, sedangkan saya panik, tetap diam di tempat. Rasanya tidak rela, rasanya tidak mau, untuk melalui perubahan dan belajar menerima kehilangan sebagai bagian menjadi dewasa. Kanak-kanak dalam diri saya terlampau kuat mengakar, tidak rela meninggalkan diri beranjak dewasa.

Saya sadar sepenuhnya, hidup, orang-orang di sekitar, tidak bisa selamanya seperti maunya saya, tidak bisa selamanya tetap. Kita mengalami proses yang namanya bertumbuh, menjadi tua, lalu mati. Akan tetapi, ternyata, selama ini saya terlalu berusaha keras membuat waktu berhenti, menyimpan seluruh kenangan dengan segenap memori, tidak mau menerima kalau kenangan itu sudah berlalu dan akan terus bertambah.

Oleh karena itu, saya selalu berusaha lebih keras untuk menjadi ‘tetap’ dan tak berubah. Saya berusaha untuk selalu mengumpulkan kenangan dan orang-orang di dalamnya, tidak rela mereka terserak ke segala penjuru. Saya menyalahkan mereka yang berubah, saya menyesalkan mereka yang terus melangkah, menjauh. Saya terpuruk karena ‘diam’ di tempat, sedangkan yang lain terus berjalan maju.

Hingga pada satu titik, saya merasa lelah. Namun, dalam kelelahan, saya justru akhirnya ‘melihat’. Ada hal yang memang harus berubah. Ada hal yang memang harus berlalu. Kenangan adalah momen, tidak akan pergi ke mana-mana selama kita menyimpannya terus dalam hati. Jadi biarkanlah pelaku kenangan itu terus berjalan dan membuat kenangan yang baru, jangan diikat dan dipaksa untuk tetap dalam kenangan.

Mengenai arti diri, saya rasa orang-orang di sekeliling saya yang dapat menjawabnya. Justru sekarang saya sadar, saya menjadi berarti karena adanya orang lain. Mereka yang turut menyumbang kisah, menyumbang tawa, menyumbang hati, menyumbang kenangan, bahkan menyumbang luka sehingga menjadikan adanya saya sekarang. Saya sudah merasa bersyukur jika saya masih bisa memperoleh kesempatan untuk menjadi bagian dalam sebagian kisah hidup mereka.

Jadi saya tidak akan lagi berhenti, tidak lagi menanti, terus melangkah maju sambil sesekali menengok ke belakang untuk memperoleh senyum dan kekuatan dari kenangan yang telah kalian bagikan…

Happy New Year!

Advertisements

Author: putrikatak

Love to write and live by writing. Like frogs, stars, rains, and the color of blue.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s