Hope for a little escaping…

Pernah merasakan jenuh akan sesuatu? Seperti perasaan yang tadinya menyenangkan bagi kita, kini malah bagaikan siksaan?

Sama seperti pacaran, ikatan dan hubungan kita dengan kerjaan terkadang mengalami masa jenuh. Kita butuh waktu ‘berlari’ dan menjauh sejenak agar mendapatkan gairahnya kembali. Rasa itulah yang belakangan saya rasakan terhadap pekerjaan saya. Ketika menulis tidak lagi menyenangkan, melainkan siksaan. Tertekan karena deadline yang tiada hentinya, malah terasa semakin mengikat.

Apalagi, selain tulisan masih ada event yang juga melibatkan saya dan teman-teman di dalamnya. Bayangkan bagaimana rasanya ketika bertanggung jawab untuk sebuah acara sedangkan deadline tulisan terus mengejar. Semalam, saya sampai tak nyenyak tidur, bermimpi dikejar makhluk tak jelas! Saya rasa ini gara-gara alam bawah sadar saya yang merasa tertekan hingga terbawa mimpi.

Seorang senior dulu pernah bilang, liburan dan cuti itu penting buat mengembalikan produktivitas kerja. Nah, sayangnya, saya harus mengirit cuti karena jatah tahun ini sudah terpotong waktu saya operasi tahun lalu. Kan tahun lalu, saya masih belum dapat cuti tahunan. Hiks…

Lantas, saya harus benar-benar mengoptimalkan hari-hari libur weekend yang terkadang malah terpakai buat kerja juga. Hhhhuuww…

Di sisi lain, saat deadline semakin mepet (belum selesai satu sudah ada jadwal deadline yang baru *wuuuiih*) sedangkan syarat cuti adalah tidak mengganggu deadline alias kudu selesai sebelum cuti, mana sempat kepikiran mau minta cuti? –Btw, ini kalimat panjang amat, yah?–
Belum lagi, tahun ini, kantor lagi kebanjiran event. Otomatis saya dan semua teman kantor pun bergiliran menjadi PJ seolah tiada henti.

Ada seorang teman bilang, pekerjaan seperti saya ini enak karena mobilitasnya tinggi, nggak cuma duduk di depan meja. Selain itu, bisa ketemu banyak orang, menghadiri banyak dan beragam acara, bahkan mall adalah rumah kedua.

Akan tetapi, mereka tidak sadar kalau pekerjaan saya ini juga rentan stres. Mobilitas, sih, memang tinggi tapi karena itu pula hidup jadi tak tenang. Di saat kita harus menyelesaikan tulisan, kita malah berada di luar, tanpa fasiltas dan akses untuk menulis secara mobile. Belum lagi, di kantor, anak-anak juga harus siap menjadi EO dadakan setiap jadi PJ acara. Memikirkan konsep, tim, rundown, sampai ke pengisi acara.

Di atas semuanya, pekerjaan saya ini memang nggak kenal waktu dan tempat. Pulang kerja tengah malam, bekerja di akhir minggu, siap sedia ke luar kota mendadak, itu, sih, baru sebagian. Namun, entah mengapa, saya mencintai pekerjaan ini. Gosh, it’s true!

So, saya mencari cara untuk ‘melarikan diri’ tanpa harus terlalu lama meninggalkan pekerjaan ini. Hmmm, c’mon, think hard!

Advertisements

Author: putrikatak

Love to write and live by writing. Like frogs, stars, rains, and the color of blue.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s