Intinya…

Beberapa waktu itu, saya melakukan beberapa percakapan dengan beberapa orang. Ada beberapa hal yang ingin saya tuliskan mengenai pembicaraan-pembicaraan itu.

Pertama

Percakapan tengah malam dengan salah seorang lelaki sahabat saya. Ketika itu, dia butuh teman agar tidak mengantuk sepanjang perjalanannya dari Pulo Gadung ke Karawaci. Topik utama malam itu adalah mantan saya yang sudah punya pacar baru.

Sahabat saya ini berinisiatif ingin mengenalkan saya dengan temannya. Ini memang bukan ajakan pertama karena sebelumnya beberapa teman juga mengajukan hal yang sama. Saya menolak halus karena saya sendiri masih nyaman dengan status sendiri lagi ini. Saya tidak merasakan urgensi untuk segera mencari pengganti si mantan, sedangkan beberapa teman malah berinisiatif mencarikan.

Beberapa orang memang merasa lebih nyaman dengan status ‘punya pacar’, in a relationship, bahkan meski cuma TTM-Teman Tapi Mesra. Setidaknya, mereka nggak perlu pusing merencanakan malam minggu dari jauh-jauh hari atau merana karena malam minggu di rumah saja. Akan tetapi, saya sendiri juga nggak pernah kesepian, sih. Malah, malam minggu selalu ada acara, bisa berbeda-beda teman jalan dan acaranya pula (sampai-sampai, si Papa suka heran bertanya kalau malam minggu saya cuma di rumah, kekeee…).

Initnya, saya jadi bertanya-tanya, memang salah, yah, untuk memilih sendiri? Terutama di usia saya yang (katanya) sudah layak buat punya pasangan dan menikah.

Di sisi lain, sahabat saya punya pacar, tetapi statusnya (menurut saya) malah membebaninya. Hubungannya dengan si pacar malah menjauhkannya dari keluarga dan teman-teman. Belum lagi, dia yang tadinya optimis dan menyenangkan, terakhir saya temui terlihat seperti ‘hidup segan, mati tak mau’. Entah mengapa dia tetap bertahan dalam hubungan yang menyiksa seperti itu….

Kedua

Pada sebuah acara kumpul-kumpul dengan teman kampus, saya datang lebih awal tapi tak lama kemudian (sebenarnya 1 jam kemudian) datang seorang teman yang juga datang terlalu awal. Karena lapar, akhirnya kami memutuskan untuk mengisi perut dulu. Nah, saat makan itulah kami mulai berbincang.

Sampai pada satu kalimat yang disimpulkan oleh teman saya.

“Wah, sepertinya di antara anak-anak cewek, lo yang belakangan merid, nih! Ingat, yah, asal jangan sampai lewat umur 29.”

Saat itu, saya memang menceritakan keinginan-keinginan saya yang masih ingin saya lakukan. Di antaranya adalah sekolah lagi dan mendapatkan peluang karier yang lebih baik lagi. Memang, sih, sampai saat ini, belum pernah terlintas dalam benak saya untuk menikah (Wong, pacar saja belum punya sekarang…) dan membentuk keluarga. Seolah-olah, hal itu tidak menjadi prioritas dalam hidup saya.

Butuh waktu memang untuk mewujudkan keinginan-keinginan saya itu, tapi masak iya, yah, akan sampai selama itu? Kekeee…Memang, sih, alasannya memberi patokan umur 29 bukan karena image tapi lebih kepada setelahnya merupakan usia rawan dan sulit memiliki anak.

Intinya, saya memang banyak maunya, tapi bukan berarti saya menyepelekan pernikahan, kok. Keinginan untuk membentuk keluarga tetap ada, meski sekarang belum menjadi prioritas. (Didoakan, saja, deh!)

Ketiga

Percakapan saya beberapa malam lalu dengan sepupu saya yang akan menikah bulan Oktober nanti. Kami memang sepantaran dan rasanya memang agak aneh melihat dia akan menikah, segera!

Saya sendiri merasa belum ada kesiapan untuk menikah. Kalau dilihat, sih, kami memang seumur, tapi melihat sikap, mah, jauh lebih dewasa dia, kekekee… Saya masih nyaman bermanja-maja pada orangtua saya, sedangkan dia sepertinya sudah nggak pernah, tuh, mencium atau curhat pada orangtuanya.

Melihat dia, saya semakin meyakini keputusan menikah itu bukanlah akhir dari kisah cinta, melainkan baru awal. Persiapan pernikahan yang menyita waktu, pikiran, tenaga, juga isi kantong (;p) membuat saya salut dengan keputusannya.

Belum lagi, keinginan orangtua kedua belah pihak. Kenapa, sih, orangtua itu nggak bisa membiarkan anak-anaknya saja yang memutuskan? Toh, mereka yang akan menjalaninya. Gaunnya beginilah, fotonya (pre-wed) begitulah, nggak mau di gedung inilah, maunya di gedung itulah, dan masih banyak komentar lainnya. (ffiiiuuuwhh…)

Intinya, kalau saya menikah nanti, saya ingin semua berdasarkan keputusan kami (mudah-mudahan orangtua dia ngerti, karna ortu saya lebih santai, kekeee…). Dan, menikah itu berarti ‘menikahi’ seluruh keluarganya ;D

Advertisements

Author: putrikatak

Love to write and live by writing. Like frogs, stars, rains, and the color of blue.

2 thoughts on “Intinya…”

  1. Untungnya gue juga bukan orang yang takut nggak punya cowok. Karena single pun nggak kalah asiknya, ya kan? Dan akan lebih memilih jadi single, daripada pacaran tapi rasanya kayak kewajiban dan terpaksa. Kalau pacaran aja udah kayak gitu, gimana nanti pas nikah?
    Kalau soal menikah, gue sama kayak lo, nih.. belum siap dan masih manja sama orang tua, hehe.. btw, nyokap gue pernah berpesan, kalau nanti memutuskan menikah, jangan karena terburu-buru umur atau karena melihat temen2 yang nikah duluan. Intinya, sih, semuanya harus dipikirkan matang2..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s