Moi & Festival Sinema Perancis

Yaiiy! Akhirnya kesampaian juga keinginan saya untuk mantengin Festival Sinema Perancis weekend kemarin. Total ada 3½ film yang saya nonton, kekekee… Iya, ada ½-nya karena satu film hanya saya tonton separuh 😦

Film pertama adalah film yang sekaligus film Nobar CC, Ce soirs, je dors chez toi (Tonight, I’ll Sleep at Yours). Film ini bercerita tentang seorang pria (Alex) yang takut akan komitmen dan melakukan segala cara untuk menghindari ajakan pacarnya (Laetitia) untuk tinggal serumah.

Meskipun ceritanya tipikal, seputar cinta, film ini menjadi berbeda karena nuansa komedinya yang juga kuat. Meskipun kita akan tertawa menyaksikan segala upaya Alex menghindari ajakan Laetitia yang selalu ketahuan, kita juga akan terbawa oleh perasaan kecewa Laetitia. Selain itu, isi pertengkaran, percakapan keduanya waktu berbaikan, atau surat berisi perasaan yang ditulis oleh Alex di akhir film tidak pernah diketahui penonton, seolah memberikan ruang bagi penonton untuk berimajinasi atasnya. Karena apa yang dialami oleh Alex dan Laetitia, bisa jadi adalah pengalaman penonton sendiri.

Selanjutnya, saya menonton Un baiser, s’il vous plaît (Shall We Kiss?). Sebuah film komedi romantis mengenai kenikmatan dan bahaya yang ditimbulkan oleh sebuah kecupan sederhana.

Gabriel dan Emilie bertemu tanpa sengaja dalam sebuah perjalanan. Mereka terlibat dalam percakapan, tawa, dan perasaan nyaman satu sama lain. Pada puncaknya, Emilie menolak keinginan Gabriel untuk memberinya sebuah ciuman tanpa konsekuensi, a kiss without consequences. Emilie meyakinkan Gabriel kalau efek sebuah kecupan tidaklah sesederhana itu dan dia menceritakan sebuah kisah tentang Judith dan Nicolas.

Ide ceritanya, sih, sederhana tetapi kita sendiri jadi bepikir “Iya, juga, yah…” sepanjang film. Dengan alur mundur di beberapa bagian, kita akan dibawa bolak-balik ke masa lalu dan masa kini hingga akhirnya kita sadar bahwa cerita Judith dan Nicholas memiliki hubungan dengan Emilie. Setelahnya, apakah benar-benar ada ciuman tanpa konsekuensi akibatnya? Simpulkan sendiri…

Masih belum puas dengan kedua film tersebut, saya melanjutkan rally nonton keesokan harinya. Memang ada dua film lagi yang saya incar untuk hari Sabtu.

Film pertama di hari Sabtu adalah Vilaine (Ugly Melanie) yang bercerita tentang seorang gadis bernama Melanie yang terlalu baik hati.

Sejak kecil, Melanie tumbuh dengan rasa rendah diri dan tidak bahagia. Akan tetapi, sebaliknya, Melanie menjadi anak baik-terlalu baik malah, yang selalu ringan tangan membantu dan cenderung tidak bisa menolak. Akhirnya, kebaikan Melanie malah dimanfaatkan oleh orang di sekelilingnya.

Sampai pada satu titik, Melanie berubah dan berusaha menjadi ‘jahat’ seperti orang-orang memperlakukan dirinya. Perubahan itu memang memperbaiki hidupnya, tetapi perubahan itu nggak selalu membawa kita pada kebahagiaan. Bahagiakah Melanie?

Vilaine adalah sebuah komedi satir, itu yang tertangkap oleh saya. Seperti yang menjadi ciri khas film perancis-dari beberapa film yang saya tonton, penggambaran hiperbola memang mendominasi dan mengundang kerut dahi atau gelak tawa. Pesannya, ada satu titik memang di mana manusia akan merasa muak dengan dirinya dan merasa harus berubah, namun, sekali lagi, tidak semua perubahan berarti kebahagiaan.

Nah, film kedua, atau keempat dari seluruh film Perancis yang saya tonton, adalah Modern Love. Saya merasa film ini pas benar menjadi klimaks saya dalam rally menonton film Perancis tahun ini. Ada beberapa kisah cinta yang digambarkan dalam film ini, seperti Love Actually, dan uniknya film ini merupakan cerita berbingkai. Kita diajak menonton film di dalam film.

Dalam sub-film (film di dalam filmnya) ada kisah Marianne dan Vincent, dua tokoh dengan latar belakang dan gaya hidup yang berbeda dipertemukan oleh nasib. Seperti akhir yang kita lihat dalam film pada umumnya, tentu saja kisah mereka berakhir bahagia dengan Vincent menaiki kuda putih menjemput Marianne.

Di dalam kehidupan “nyata” (tapi masih tetap dalam film bagi kita), kisah cinta tidaklah sesederhana itu. Kisah Marianne dan Vincent ditulis oleh Eric yang pada kehidupan “nyata” malah dicampakkan oleh cinta dalam hidupnya, Marie. Nggak tanggung-tanggung, dua kali dia dicampakkan oleh Marie.

Kisah cinta lainnya adalah Elsa yang, seperti gadis pada umumnya, memimpikan kehadiran prince charming. Hingga satu waktu dia bertemu dengan Jérõme yang sempurna seperti lelaki impiannya (benci sepak bola, suka bawang putih, sensitif, suka film drama, dst). Akan tetapi, seperti dalam “kenyataan”, tidak ada kisah cinta yang dengan mudahnya berakhir bahagia.

Selain cerita yang menarik, lagu-lagu ‘bercerita’ yang ada di dalam film ini juga enak untuk didengar. Benar-benar sebuah film yang menyenangkan untuk ditonton. Wah, rasanya saya saja ingin menontonnya berulang-ulang-really love it!

Yah, intinya, di film-film yang saya tonton kali ini semuanya bertema cinta. Penggambaran cinta yang berbeda-beda, dari sudut pandang yang berbeda pula, memberikan sedikit ‘pencerahan’ buat saya. Pesan yang ingin disampaikan juga didapat tanpa kesan menggurui karena penonton akan mendapatkan ‘sentilan’ masing-masing sesuai pengalaman cinta dalam hidupnya, kekekeee…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s