entah apa rasa ini…

Kenyataan yang saya temukan semalam benar-benar membuat saya tidak bisa mendeskripsikannya. Sedih? Kecewa? Marah?

Seorang sahabat berubah sedemikian rupa hingga menjadi sosok yang tidak dikenali lagi. Entah apa yang merasukinya… Entah apa yang menyebabkannya…

Dia sahabat saya sejak masa kanak-kanak. Dia teman pertama saya ketika menginjak bangku SD. Kami tetap bersama meskipun terpisah jarak dan waktu. Apa yang kami alami, menguatkan dan mendekatkan ikatan kami. Namun, belakangan, persahabatan itu sedang diuji.

Sejak dia mengenal lelaki itu, sikapnya berubah, semakin tidak dikenali. Dia memilih ‘meninggalkan’ orang-orang yang menyayanginya demi lelaki yang (menurut saya) tidak berharga. Hubungannya memang ditentang keluarganya karena perbedaan kepercayaan. Akan tetapi, saya sendiri kurang setuju bukan karena itu, melainkan sikap dan pengaruh yang dibawa oleh lelaki itu.

Bayangkan kecewanya, saya menyaksikan sahabat yang begitu dekat perlahan berubah karena orang lain (lelaki itu) membuat saya semakin antipati terhadapnya.

Bayangkan sedihnya, orang terdekat direbut paksa dan menjadi menderita. Melihatnya sekarang seperti orang hidup segan, mati tak mau. Dia seperti zombie.

Sahabat saya jadi ‘jauh’ dengan keluarganya. Rumah dirasa bagaikan neraka olehnya. Perlahan, dia juga menjadi ‘jauh’ dengan sahabat-sahabatnya sendiri, temasuk saya.

Kami tidak pernah menghakimi. Kami tidak pernah bersikap keras terhadapnya. Entah mengapa, dia sendiri yang menganggap kami, atau mungkin seluruh dunia, menentang dia dan memojokan dia. Dan, dia perlahan menghindar dan menjauh.

Belakangan, ada banyak sikapnya yang menyebalkan dan memancing emosi. Kelakuannya itu menjadi perbincangan di antara saya dan teman-teman lain. Kami masih diam dan tetap berusaha memahami dia. Tetapi, dia sendiri yang berkubang dalam masalah dan menolak bantuan. Dia sendiri yang menutup diri perlahan.

Lalu, sampai pada apa yang saya temukan semalam, benar-benar membuat saya marah.Dia menulis sesuatu di status FB-nya yang benar-benar memancing amarah.

Selama ini statusnya memang selalu ‘mengundang’ seolah-olah dialah korbannya, yang menderita, yang terkekang, yang tertindas, padahal semua adalah akibat perbuatan dan pilihannya sendiri.

Hingga pada status terakhir itu, saya tak tahan untuk berkomentar. Entah bagaimana dia menyikapinya nanti, saya sudah siap untuk sebuah perseteruan.

Kesabaran ini sudah habis rasanya. Ini sudah keterlaluan!

Advertisements

Author: putrikatak

Love to write and live by writing. Like frogs, stars, rains, and the color of blue.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s