Smt makes me smile…

Owh… owh… Hari ini CC terbit dan di surat pembaca ada apresiasi atas tulisanku ini. Senangnyaaa… Here’s the body text 😉

(To read full text, just buy the magz ;p kekkee…)

Putus-Sambung Terus…

Kok, mirip jaringan telepon selular, sih….

Jatuh cinta bisa banget bikin kita terbang ke langit ketujuh. Kita juga pasti setuju kalau nggak mudah menjaga perasaan tetap ‘menyala’ untuk si dia. Dalamnya laut bisa diukur, dalam hati siapa bisa menebak, he he he…. Hari ini kita cinta berat, eh, besok jadi benci banget. Nggak heran, deh, kalau ada yang ‘hobi’ putus-nyambung dengan pasangan.

Kita berbeda

Perbedaan prinsip, termasuk masalah kepercayaan, biasanya jadi salah satu alasan pasangan putus-nyambung. Suatu saat, kita bisa merasa mampu mengalahkan segala rintangan—termasuk melawan keluarga, atas nama cinta. Namun, di kesempatan lain, kita bisa merasa begitu lelah dan nggak sanggup meneruskan hubungan yang nggak kunjung jelas ujungnya.

Nah, akibatnya, kita jadi sering putus dengan si dia karena perasaan tertekan dan lelah. Tapi akhirnya, balik lagi karena merasa kehilangan dan memang masih cinta, sih.

Beda prinsip memang bisa dikategorikan ‘penyakit’ dalam cinta karena hampir selalu menjadi jurang yang terlampau besar. Amannya, nih, kita hindari saja, deh!

Masih ada kesempatan

Alasan kita putus, sih, memang itu-itu saja. Si dia suka kasar, bahkan main tangan. Tetapi atas nama cinta, kita selalu menerima permintaan balik dirinya. Kita percaya manusia pantas mendapat kesempatan kedua. Kita percaya kalau dia benar-benar menyesal dan bisa berubah.

Namun, bukan menyesal juga kali jika kesempatan kedua akhirnya jadi kesempatan ketiga, keempat, dan seterusnya? Sebagai cewek cerdas, kita harus bisa membuka mata dan telinga kita, dong. Dengarkan perasaan kita sendiri—kalau sudah nggak nyaman, ngapain juga harus bertahan?

Seharusnya, cinta bikin kita bahagia, bukan sakit hati. Jangan lagi-lagi terjebak dengan ungkapan: manusia berhak mendapat kesempatan kedua, ah!

Orang ‘ketiga’

Hubungan kita dan dia, sih, asyik-asyik saja. Berjalan lancar, malah! Cuma, masalah nggak selalu datang dari dirinya saja, kan? Orang-orang di sekelilingnya juga berpotensi jadi sumber masalah. Contoh: ortu si dia terlalu ikut campur. Pacaran aja begini, bagaimana kalau sudah menikah?

Kita percaya waktu dia bilang akan lebih tegas terhadap ortunya, saat minta balikan. Eh, kenyataannya, selalu terulang lagi. Sebagai anak, tentu saja kita paham kalau dia nggak mau menentang ortunya. Hanya saja, dia juga harus bisa menyadari kalau ortunyalah yang menjadi penyebab putus-nyambung kita, tuh.

Emosi + gegabah = putus-nyambung

Salah satu dari kita emosional?

Emosi yang berbuntut dengan tindakan gegabah juga bisa memicu sebab putus-nyambung. Saat sedang menghadapi pertengkaran, kita bisa sangat emosi hingga akhirnya dengan gegabah minta putus dari si dia. Dalam hitungan hari, kita menyesal dan pengen balik lagi sama dia.

Capek, nggak, sih, kalau hubungan kita on and off cuma karena kita gegabah mengambil keputusan berdasarkan emosi? Lama-lama dia, bahkan kita sendiri, nggak menghargai lagi perasaan masing-masing pasangan. Habis terlalu gampang marah dan lalu baikan, sih!

Tak sanggup sendiri

Dalam kamus kita, nggak ada, tuh, yang namanya masa jomblo. Dari awal pacaran, kita nggak pernah betah sendirian. Makanya, saat putus dari pacar dan belum punya cadangannya, kita panik dan rasanya ingin kembali lagi saja sama dia.

Kebiasaan ‘nggak bisa sendiri’ pun bisa menambah panjang daftar mantan kita. Putus-nyambung juga sudah hal yang lumrah buat kita. Habis, daripada sendirian, kita mau jadian sama cowok yang baru dekat atau bela-belain balik lagi sama mantan, deh….

Terlalu nyaman

Mantan memang paling bisa bikin kita merasa nyaman dan kangen. Akibatnya, kita selalu membanding-bandingkan dia dengan cowok yang lagi dekat sama kita. Buntut-buntutnya kita cepat lupa pada penyebab kita putus dan bersedia balik padanya.

Perasaan terlalu nyaman memang bikin kita tergantung sama si dia. Sebenarnya, sih, wajar saja kalau baru putus masih terasa kehilangan. Tapi kalau sekian lama kita masih bolak-balik sama si dia, kan, sudah nggak wajar. Ingat-ingat, deh, apa penyebab kita putus dulu biar malas balik lagi sama dia.

Advertisements

Author: putrikatak

Love to write and live by writing. Like frogs, stars, rains, and the color of blue.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s