Apa, sih, ukuran kedewasaan?

Menjadi tua itu pasti, menjadi dewasa itu pilihan.

Jika usia bukanlah ukurannya, lantas apa?

Masalah usia dan kedewasaan ini, sebenarnya pernah saya tulis untuk majalah. Akan tetapi, saya baru sadar kalau saya juga berada dalam masalah itu.

Buat orang yang mengenal saya, sudah bukan rahasia lagi kalau tampang dan tubuh saya jauh dari ‘boros’. Maksudnya, penampilan fisik saya bisa dibilang nggak sesuai umur, terlihat lebih muda (Ihiiiy…), sedangkan umur saya sudah nyaris mencapai seperempat abad.

Pernah suatu waktu, saya bertugas meliput Open House di sebuah universitas swasta. Ketika bertanya di mana saya harus registrasi, saya di arahkan ke sebuah meja. Melihat poin-poin di lembar daftar tamu yang ada dan sikap orang yang mengantarkan saya, saya merasa ada yang salah, nih. Betul saja, ketika saya bertanya lebih lanjut, ternyata dia mengira saya salah satu siswa SMU yang ingin ikutan trial class. Oh, la la…

Di lain waktu, saya merasa ‘tersaingi’ oleh penampilan teman adik saya ketika jalan bareng. Badannya tinggi menjulang masih didukung dengan high heels, demikian juga dengan cara berpakaiannya, terlihat lebih ‘dewasa’ dibandingkan saya, belum lagi wajahnya tersaput pulasan make-up (meski tipis). Jelas-jelas usianya lebih muda dari saya, tetapi kalau disandingkan, saya yang terlihat lebih kanak-kanak dibanding dia.

Pada kesempatan lain, saya pergi ke salon langganan bertiga dengan adik saya. Setelah ngobrol cukup lama, kapsternya ternyata baru sadar kalau saya inilah sang kakak. Ternyata, selama ini dia mengira adik kedua saya yang paling tua, ha ha ha.

Berkebalikan dengan penampilan saya, isi kepala saya cenderung ‘tua’. Saya tipikal orang yang serius menjalani hidup dan senang berpikir. Bahkan, ada senior di kampus yang mengatakan (lebih tepatnya mengejek kali, yah!) kalau ngobrol dengan saya seperti bicara dengan nenek-nenek 83 tahun. (!)

Di lingkungan keluarga pun, saya dikenal dengan sebutan ‘nenek’. Bukan hanya karena nama saya yang bisa dipanjangkan menjadi ‘nenek lincah’, tapi memang dari dulu saya ‘ketu—kecil2 tua’ . Bawaan anak sulung, kali, yah…

Hmm… Tapi kalau dipikir-pikir, saya juga merasa belum yakin untuk dibilang dewasa. Kalau mau dibandingkan dengan sepupu-sepupu sepantaran saya, saya memang terlihat paling ‘bocah’. Saya masih nyaman dengan acara-acara keluarga, saya masih senang bermanja-manja dengan orangtua saya, bahkan dengan om dan tante saya. Dari segi penampilan pun, saya yang paling petite dan cara berpakaian saya pun masih terlihat seperti anak-anak.

Dan, saya nyaman dengan itu semua.

Saya memang nggak mau menjadi dewasa dalam pengertian yang digambarkan Pangeran Kecil dalam The Little Prince. Dalam dunia Pangeran Kecil, orang dewasa itu identik dengan masalah, pekerjaan, dan hidup yang membosankan. Orang dewasa cenderung berusaha keras dalam menjalani hidup sehingga lupa kalau hidup yang cuma sekali ini seharusnya juga menyenangkan. Saya ingin tumbuh dewasa, tanpa meninggalkan sisi kanak-kanak saya.

So, mau dibilang dewasa atau anak-anak, seharusnya saya tidak peduli lagi. Selama saya nggak merugikan orang lain dan bisa bertanggung jawab sama hidup saya, predikat itu sudah nggak penting lagi, bukan?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s