Bercerita tentang ayah…

Kita di Indonesia, memang nggak merayakan Hari Ayah yang baru saja berlalu, jatuh pada hari Minggu ketiga bulan Juni (tahun ini jatuh pada 21 Juni) lalu. Akan tetapi, ketika membaca Glamour edisi Juni 2009, ada artikel mengenai Lesson Every Woman Can Learn From Her Dad. Isinya mengenai pengalaman beberapa penulis dengan ayah mereka. Tema artikel yang sederhana, tapi cukup menyentuh.

Satu penulis bercerita mengenai bagaimana ia belajar menghargai setiap menit kebersamaan yang diberikan adalah sesuatu yang amat berharga. Penulis lainnya ada yang bercerita bagaimana dengan sebuah kata, maaf, luka-luka yang terdalam dapat disembuhkan. Sisanya ada yang belajar lebih baik menginvestasikan uang lebih pada sepasang sepatu yang berkualitas daripada membiarkan sepatu kita menyakiti kaki kita.

Memang jika dipikirkan, kita cenderung kurang mengapresiasikan apa yang telah dilakukan oleh ayah kita, dibandingkan ibu. Kita terbiasa melihat beliau jauh dari jangkauan, sebagai kepala keluarga yang kaku dan berwibawa. Jika ditanya kepada masing-masing orang, bisa jadi hampir semua dari mereka akan lebih dekat dengan ibu dibandingkan ayah.

Saya sendiri selalu senang menjadi daddy’s little girl. Seingat saya, saya sangat dekat dengan ayah semasa kecil. Dalam satu hari, saya selalu menantikan waktu beliau pulang kerja. Saya selalu siap membawakan segelas air putih untuknya. Selalu menyenangkan menghabiskan waktu dalam gendongannya, duduk di bahu atau pangkuannya.

Namun, entah mulai kapan kedekatan itu merenggang. Di mata saya. ayah menjadi sosok yang otoriter dan berkuasa. Saya pun beralih pada ibu. Mungkin, saat itu saya memasuki masa puber, sehingga saya lebih memilih curhat, belanja, dan pergi bersama ibu dibandingkan ayah.

But, somehow… Ayah tetap sering menunjukkan betapa sayangnya dia pada saya. Bahkan, beliau pernah bilang langsung kalau saya selalu menjadi kesayangannya. Untungya sebelum hubungan kami terlalu merenggang, saya berpikir mungkin beliau merindukan saya kecil yang selalu manja dan tergantung padanya. Dia sendiri tidak siap melihat kenyataan bahwa saya bertumbuh dewasa dan sudah bisa melawan.

Karena sayang, saya berusaha memperbaiki hubungan itu. Saya berusaha menyamakan langkah dengan ayah. Jarak itu kembali memendek. Akhirnya, kami bisa berhubungan sebagai orang yang setara, orang yang dewasa. Sampai sekarang, hubungan ayah dan saya baik-baik saja, bahkan beliau jadi sering mengajak saya bertukar pikiran. Walaupun kami juga sering berselisih pendapat, tapi kami tidak pernah marahan lama-lama, kami saling membutuhkan.

Beberapa waktu belakangan, saya semakin bertambah dewasa, sedangkan beliau sudah semakin tua. Sedih melihatnya bertambah lemah seiring waktu. Terlebih waktu beliau sakit dan sempat dirawat di rumah sakit. Rasanya tidak percaya melihat ayah yang selalu kuat di mata saya itu tergolek lemah di ranjang. Setelahnya, beliau lebih sering mengeluh sakit dan lelah walaupun dia tetap bekerja hingga sekarang. Saya sadar betul betapa hidup telah mendidiknya menjadi pria yang begitu tangguh, karenanya saya yakin dia masih akan baik-baik saja. Saya pun hanya bisa berdoa untuk kesehatan dan umur panjangnya.

Yah, semoga saja saya masih punya kesempatan lebih untuk bisa membahagiakan beliau sebelum tiba waktu kami berpisah. Love you, dad!

me and my dad
me and my dad
Advertisements

One thought on “Bercerita tentang ayah…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s