Relationship is about happiness…

Relationship is about happiness.

(Sex and The City The Movie)

Satu kalimat dari film yang amat saya gilai membuat saya berpikir. Yah, memang sudah seharusnya sebuah hubungan itu membawa dan memabuat kita bahagia. Oleh karena itu, saya nggak pernah habis pikir dengan orang-orang, terutama perempuan, yang mau bertahan dalam sebuah hubungan yang tidak membuatnya bahagia.

Kelemahan mereka (baca: perempuan) memang. Beberapa perempuan masih terjebak dalam ‘budaya’ dan pemikiran patriarki dan adat ketimuran (entah adat yang mana?). Mereka tidak percaya diri untuk tetap sendiri atau takut untuk kembali sendiri. Semua, lagi-lagi, karena image, karena cap yang diberikan oleh masyarakat itu sendiri.

Umur sekian, perempuan sudah selayaknya punya pasangan, lalu menikah. Terlambat menikah, ada kekhawatiran dan cap perawan tua melekat (Kok, nggak ada cap perjaka tua?). Setelahnya, tuntutan untuk segera memiliki momongan, lalu dihadapkan pada pilihan karier atau keluarga, dan seterunya.

Ketika mengalami KDRT, perempuan tetap diam. Alasannnya diam karena demi menjaga keutuhan keluarga. Jika ingin bercerai pun masih dihantui dengan cap dan stigma janda yang kesannya negatif. Dan, serentetan cap-cap lainnya bagi perempuan…

Oleh karena budaya yang seperti itulah banyak perempuan yang akhirnya terjebak dalam sebuah hubungan yang tidak bahagia.

Seharusnya, kita sebagai perempuan punya hak dan keberanian untuk merasakan bahagia. Kalau memang kita sudah tidak nyaman dalam hubungan, mengapa juga harus bertahan hanya demi status? Biar nggak jomblo, biar nggak dibilang perawan tua, biar merasa ‘laku’, biar nggak menjadi janda, dan seterusnya.

Kembali ke kalimat dalam film, hubungan itu adalah kebahagiaan itu sendiri. Sebuah hubungan yang baik memang sudah seharusnya memberikan sesuatu yang positif untuk kita. Nggak penting jika hanya karena ketakutan akan cap dari masyarakat, kita menderita dengan pilihan kita sendiri.

Nggak perlu ragu mengakhiri hubungan, meski usia kita sudah ‘matang’, kalau kita memang sudah nggak nyaman.

Nggak perlu khawatir kalau masih merasa nyaman sendiri di usia ‘pantas nikah’.

Nggak perlu takut memilih cerai daripada bertahan dalam hubungan yang nggak sehat.

Kita, perempuan, juga punya hak yang sama untuk merasa bahagia, termasuk dalam hubungan yang kita pilih sendiri.

(Sebenarnya ini ditulis tangan pada 02.06.09 lalu)

Advertisements

6 thoughts on “Relationship is about happiness…

  1. nice opinion. sepertinya harus dikembalikan pada hal paling mendasar, tentang kenapa ‘relationship’ itu harus ada. Ini naluri paling mendasar manusia, dan karenanya tidak bisa diabaikan begitu saja. Istilah sederhananya, ‘sudah dari sononya’ :D.
    jadinya, ketika ingin melakukan pemberontakan, sama saja dengan menghindari ‘yang dari sononya’ itu tadi, dan jelas pendapat umum masyarakat menentangnya :). Istilahnya, tidak umumlah.
    Saya malah lebih sependapat bahwa kita tidak dilahirkan untuk sendiri, tapi untuk berbagi. Tentang waktu berbagi itu, kembali pada prioritas personal masing-masing, mau kapan dan pada batas umur berapa.
    Tapi saya suka dengan opininya tentang KDRT 🙂

  2. Hai, Den Mas 🙂
    Sejauh yang saya pelajari dari kuliah Gender dulu, anggapan ‘dari sononya’ inilah yang harus diubah. Pandangan masyarakat akan sebuah hubungan, akan perempuan, akan seorang istri yang ada selama ini nggak berpihak terhadap perempuan, makanya harus diubah…

    Tapi saya juga suka dengan pemikiran bahwa kita tidak dilahirkan untuk sendiri, tapi untuk berbagi 😉 Emang nggak enak idup sendiri, kekekeee…

  3. woaaa…
    setuju sekali…
    memang seharusnya kaum hawa bisa menentukan yang terpenting dalam kehidupannya. seharusnya bisa tetap melangkah tanpa bayang-bayang kaum adam yang sebagian mendominasi.

    mungkin karena latar belakang saya yang menunjukkan ketidakpercayaan terhadap laki-laki, jadinya saya sangat mendukung adanya pemberontakan terhadap pengekangan.

    memang sebaiknya kita lebih enak hidup berbagi. siapa yang mau hidup sendiri. namun, hidup sendiri itu pun bisa jadi pilihan menarik untuk dipilih. 🙂

  4. @putrikatak:
    Mengubah cara pandang masyarakat butuh usaha yang luar biasa. Bolehlah dengan usaha tersebut kita menang, tapi jelas, perempuan2 lain juga harus berusaha untuk menang juga. Berarti harus ada usaha kolektif. Ambisi yang besar harus ditopang perjuangan yang besar (menurut saya :D)

    @khakha:
    Wah, jadi merasa tersindir neh sebagai laki-laki hehehe…
    Aku melihat dari sisi yang berbeda. Sekarang tidak ada lagi yang menghalang2i wanita mau menjadi apa. Justru aneh, ketika wanita bercita-cita untuk tidak menjadi apa2. Hanya saja, dalam pandangan saya, masih banyak wanita yang sering merasa ‘nyaman’ dengan kondisi ‘status quo’ atau status yang dijalani saat ini. Boleh dibilang, ambisi dan perjuangan laki-laki dalam pencapaian sesuatu lebih besar dibandingkan wanita. Karena hal inilah, wanita sering kalah dengan laki-laki.

    @all:
    Sepertinya ada satu catatan penting di sini, bahwa hidup sebaiknya tidak sendiri hehehe…

  5. Ahahahaa… Sebenarnya, kalau ngobrol dengan topik ini (perempuan) aku bisa nggak habis-habis, nih 😛

    Emang Pe-eR banget, sih, mengubah sudut pandang yang sudah mendarah daging. Ujung-ujungnya pasti terpeleset dengan urusan domestik-publik, gender, kodrat, dan masih banyak lagi. Tapi untuk sampai di titik ini (saat ini) perempuan sudah mengalami banyak kemajuan, kok 😉

    Kha: Wah, kamu radikal juga, nih!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s