Is there a guy inside me?

Weekend kemarin, Sabtu tepatnya, saya habiskan bersama teman-teman cowok saya (lagi). Bukan hal yang istimewa, sih, karena saya memang lebih terbiasa menghabiskan weekend bersama mereka. Habis, kalau berkumpul dengan teman-teman cewek saya lebih ribet, yang sibuklah, pacaranlah, perlu janjian dululah, dan seterusnya. Alhasil, saya selalu bersama cowok-cowok itu.

Ketika duduk bersama menunggu film yang akan kami tonton mulai, sampailah pada satu topik pembicaraan. Entah bagaimana awalnya, Oz mengemukakan pernyataan kalau saya ini seperti cowok dalam casing cewek. *WHAT?!!!*

Yah, sejak SD dulu memang teman main saya kebanyakan cowok. Sampai sekarang, saya juga sangat nyaman berada di antara teman cowok saya. Kalau diingat-ingat lagi, teman cewek saya memang cuma itu-itu saja dari SD, sedangkan teman cowok nambah sana-sini. Sejujurnya, berteman dengan cowok juga nggak perlu ribet. Mereka nggak gampang tersinggung, nggak ribet kalau mau jalan, bisa berfungsi sesuai kondisi yang dibutuhkan, plus bisa berfungsi sebagai pelindung a.k.a bodyguard, he he he.

Mungkin, karena terbiasa bergaul sama cowok inilah sedikit banyak saya menjadi praktis seperti mereka. Sampai-sampai cueknya pun jadi seperti mereka. Teman-teman cowok saya pun sepertinya sudah nggak ada jaim-jaimnya di depan saya. They’re act naturally like we’re all guy, seolah saya bukan cewek, lengkap dengan celaan dan candaan ala cowok (walaupun mereka tetap sopan terhadap saya *wink*).

Yah, saya rasa kami memang sudah sedemikian dekat dan nyaman satu sama lain. Oleh karena itu, kami bisa menjadi diri kami sendiri ketika bersama-sama. Lagipula meskipun dari luar saya terlihat cewek banget, inside, saya lebih rebel dan tomboy dibanding yang terlihat. Buktinya, saya bisa menyamakan ‘langkah’ dengan mereka, bukan?

Enaknya lagi, bersahabat dengan cowok, saya bisa mendapat masukan dan sudut pandang cowok. Demikian sebaliknya, saya sering jadi konsultan masalah mereka soal cewek.

Jadi kalau dipikir-pikir, saya juga masih bingung, entah harus tersanjung atau tersinggung dikatakan demikian. But, after all, I’m happy to be their friend, though πŸ™‚

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s