The day I die…

Fiuuwh, saya lagi hectic banget, nih, tapi sekarang lagi mentok ide plus menunggu jawaban responden. Jadi baru terpikir untuk mampir menulis di sini, padahal ada ide yang mau dibagi di sini sejak hari Minggu lalu. Sekarang, kayaknya sudah agak-agak menguap, deh 😦

Ide itu datang ketika membaca, melihat, mendengar begitu banyaknya pemberitaan mengenai kematian seorang Michael Jakcson. Pemberitaan negatif mengenai dirinya belakangan langsung terkalahkan oleh berita duka dan kehilangan. Lalu, orang-orang mulai berebutan berpendapat mengenai jasanya, karyanya, kebaikannya, dan berita positif lainnya.

Setidaknya, King of Pop ini memang menghasilkan karya yang begitu melekat di hati penggemarnya maupun umum. Melihat berita-berita mengenai dirinya, yang timbul di hati saya justru rasa kasihan. Tersirat dalam beberapa pemberitaan mengenai dirinya bagaimana dia begitu ‘kaget’ dengan segala keberhasilannya, begitu kerasnya berjuang untuk diakui publik (karena dia berkulit hitam), begitu kesepian di antara segala kemegahan yang mengelilinginya.

Sampai sudah meninggal pun, saya tetap merasa kasihan. Tubuhnya ‘dipotong-potong’ untuk otopsi, banyak spekulasi mengenai kematiannya berseliweran, penguburannya ditunda-tunda, dan sebagainya.

Nggak bisa, yah, dia meninggal dengan ‘tenang’?

Akan tetapi, bukan MJ yang mau saya bahas sebenarnya. Akibat berita-beritanya, saya malah jadi berpikir mengenai kematian saya sendiri.

Apa yang akan dikenang oleh orang-orang di sekeliling saya tentang saya, yah? Apakah sesuatu yang baik atau malah buruk?

Setidaknya, saya ingin sekali meninggalkan ‘sesuatu’ untuk dikenang. Seperti MJ meninggalkan lagu-lagunya yang jadi everlasting songs, lantas saya apa, yah?

Kadang, kita berpikir bisa hidup untuk menjalani hari-hari saja sudah untung. Tapi kalau dipikir-pikir lagi, sangat menyedihkan kalau kita meninggal tanpa bisa meninggalkan ‘jejak’ yang abadi untuk dikenang. Seolah-olah begitu waktu kita habis di dunia, maka habis pula ingatan orang tentang kita. Saya nggak mau itu…

Meski jejak kecil, saya ingin hidup saya memberikan arti buat orang-orang di sekeliling saya. Hingga pada saat kematian saya, banyak orang dapat mengingat apa yang telah saya perbuat dalam hidup mereka–dalam arti positif tentunya! Meski tidak harus menangis (dan nggak bermaksud buruk), saya ingin orang-orang juga merasakan kehilangan…

It’s that too much?

Advertisements

3 thoughts on “The day I die…

  1. not that too much, ly…

    you’re precious
    for your parents, your family, your friends, your relatives…

    so we are all precious!

    that’s why….people will remember you, at least I do, hehehehe
    because you know that you’re precious
    and priceless….

    dan bukan soal berapa banyak jejak yang kita tinggalin nantinya
    tapi soal bagaimana kita mewarnai hidup banyak orang ly….
    bahkan lewat hal-hal kecil sekalipun 🙂

    thanks’ God I have you in my life!
    cheer up, sis!
    jadi gimana nih weekend-nya?? 😀

  2. Wuaaah, ma’aceyh Deeth 🙂

    Wikend jadi-jadi aja, deyh… Lagi ada murid gue yg dari Korea juga, sekalian ajak dia jalan2…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s