Wedding thingy…

Sejak dulu, entah mengapa, saya nggak terlalu suka dengan pesta pernikahan. Karenanya, kalau nggak kepepet banget, saya hampir selalu enggan datang ke acara pernikahan. Nah, menjelang akhir tahun begini, biasanya, undangan pernikahan memang sedang banyak. Bayangkan, dalam satu hari saja pernah ada 2-3 undangan sehingga diantaranya harus ada yang dikalahkan—walaupun ujung-ujungnya, saya malah nggak datang sama sekali, he he he….

Tahun ini, mau-nggak mau, saya harus menghadiri beberapa pernikahan karena yang menikah kalau bukan teman dekat (banyak yang menikah karena seumur saya ini memang pas dan normal untuk menikah), yah, saudara sendiri. Untuk pernikahan anggota keluarga, nggak hanya datang, saya juga jadi ikutan sibuk dengan persiapan dan segala sesuatunya. Alhasil, saya semakin merasa menikah itu merepotkan saja.

Yah, bukannya menyepelekan atau nggak menghormati lembaga pernikahan itu sendiri, tapi memang kenyataannya begitu. Nggak jarang, kan, calon pengantin sampai stres karena persiapan pernikahannya. Wong, saya yang cuma bantu-bantu saja sudah cukup dibikin pusing, apalagi yang punya acara, kan?

Selain itu, sekian lama menghindari dan nggak pernah berada dalam suasana pernikahan membuat saya baru tahu selain mebahagiakan, menikah juga membuat rasa haru dan kehilangan. Terutama di momen pasangan pengantin memasuki ruangan atau menuju altar. Entah mengapa, saya, setiap momen tersebut, merasakan air mata sudah di pelupuk mata. Terlebih lagi, rasa kehilangan setelahnya.

Iya, ketika sepupu yang rumah keluarganya saya tumpangi, menikah, saya turut merasakan kehilangan. Meskipun kami hanya bertemu sebentar di pagi—sebelum berangkat ke kantor, dan malam—menjelang tidur, saya tetap kehilangan keberadaan dan rutinitasnya. Tidak ada lagi alarmnya yang membangunkan saya tiap pagi—iya, tiap alarmnya berbunyi bukan dia yang terbangun, malah saya. Rutinitasnya dengan ritual kecantikan, menggunkan berbagai produk untuk wajah, tubuh, dan rambut sehabis mandi. Lalu, masih banyak lagi….

Sebelumnya, saya, meski tak suka, saya menganggap pernikahan sebagai momen yang membahagiakan. Ternyata, ada juga rasa sedih yang disebabkannya.

Beberapa hari ke depan, adik sepupu saya yang akan menikah. Nah, kalau yang ini, saya sudah merasakan kehilangan dari sebelumnya. Yah, namanya juga adik, selamanya kita, kan, selalu menganggapnya kanak-kanak, apalagi saya dekat banget sama keluarganya. Karena itulah, saya selalu merasa dia masih kecil, apalagi dengan sifat labilnya yang makin bikin saya khawatir. Dia yang temperamental, dia yang masih suka main-main, dia yang masih senang hura-hura, siapkah dia menikah?

Sudah sewajarnya, sih, orag yang memutuskan menikah, pastilah sudah merasa siap. Tapi kasus adik saya ini berbeda, dia menikah karena memang keadaan yang mengharuskan dia untuk menikah. Makanya, saya hanya bisa berpesan (dan berdoa) agar dia bahagia:

“Pesan cici cuma satu, kamu harus bahagia. Kalau kamu bertemu masalah di tengah jalan, ingin marah sama istri kamu, tahan emosi. Ingat kamu punya cici dan adik perempuan, jangan sampai kamu memperlakukan istri kamu dengan kasar karena emosi. Lagipula, pertengkaran orangtua hanya akan melukai anak. Ingat itu. Menikahlah untuk berbahagia…” kata saya ketika GR kemarin. Dia pun menjawab “Pasti!” dengan yakin lalu memeluk saya.

*Happy Wedding. Doa cici untuk kamu, Cing….*

Advertisements

One thought on “Wedding thingy…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s