My deep ache…

Butuh waktu cukup lama untuk berani membagi cerita ini. Saya khawatir, luka lama itu kembali perih.

Beberapa waktu lalu, saya mendapat tugas mewawancarai seorang narasumber. Dia bekas pengguna narkoba yang sudah berhenti dan justru berbalik mendirikan sebuah organisasi yang membela kepentingan dan keadilan bagi para bekas pemakai. Meski di Indonesia sendiri kurang dikenal, dia sendiri sudah sering diundang ke berbagai seminar dan sharing session di berbagai negara.

Tidak, bukan dia yang ingin saya bahas di sini, melainkan saya dan sebuah luka masa lalu.

Saya memiliki kerabat yang memakai narkoba juga. Satu hal yang sampai kini masih meninggalkan bekas luka yang cukup dalam. Tidak sama seperti narasumber saya yang mendapatkan kesempatan kedua untuk hidup lebih baik, kerabat saya ini meninggal di usia yang belia.

Ketika wawancara, saya sampai pada pertanyaan yang sebenarnya ingin sekali saya tanyakan pada kerabat saya itu, tapi tidak pernah bisa karena dia sudah tiada. Seolah-olah, saya menanyakan pada orang di masa lalu itu, tak kuasa saya menahan tangis ketika menanyakannya kepada narasumber saya.

Sebenarnya, saya malu harus mengeluarkan emosi di depan orang yang tidak saya kenal baik, seorang narasumber pula, tapi saya benar-benar tak kuasa menahannya. Wawancara itu mengingatkan saya akan sebuah luka yang terlupa, luka yang tetap ada, meninggalkan bekas yang tidak hilang.

Pertanyaan itu adalah: Apakah Anda tidak memikirkan perasaan orang lain, terutama keluarga Anda ketika memakai narkoba?

Yah, rasa sakit, kecewa, dan sedih yang tak terdefinisikan itulah yang saya rasakan ketika mengetahui seseorang yang saya kenal dekat memakai narkoba dan meninggal karenanya.

Saya ingin kerabat saya ini tahu, tapi ia takkan pernah tahu dan pertanyaan saya tidak pernah terjawab.

Selama ini, masyarakat, mungkin, lebih sering memperhatikan si pemakai sebagai subjek, pusat dari segala stigma maupun derita dan korban, padahal si pemakai memiliki orang-orang di sekelilingnya yang hidupnya pun berubah karena perbuatannya.

Oleh karenanya, saya tidak pernah memandang bekas pemakai sebagai orang yang pantas dianggap sebagai korban. Mereka memakai atas keinginan dan kesadaran mereka sendiri, segala akibatnya merupakan konsekuensi yang harus mereka terima. Akan tetapi, keluarga dan orang-orang terdekat merekalah yang sebenarnya menjadi korban.

Tega! Demikian saya menganggap mereka. Rasanya ingin berteriak di hadapan mereka, tidakkah mereka mempertimbangkan perasaan orang-orang yang menyayangi mereka? Setidaknya, kalau mereka tidak peduli terhadap dirinya sendiri, masih ada orang lain yang harus mereka pikirkan.

Jawaban narasumber saya: Ketika gue make dan gue sakaw, gue bakal rela melakukan apa saja untuk menghilangkan rasa sakitnya, bahkan gue rela menyakiti orang-orang terdekat gue untuk mendapatkan heroin karena rasa sakitnya nggak tergambarkan. Seolah-olah, pada masa-masa gue make itu, gue di bawah pengaruh yang diluar kendali gue, bahkan gue nggak ingat semua yang pernah gue lakukan saat itu, kecuali dari cerita teman-teman atau keluarga gue.

Jawabannya memang menjawab segalanya. Pertanyaan yang tidak sempat saya pertanyakan.

Puaskah?

Memang tidak sepenuhnya, tapi saya jadi tahu satu hal, itu bukan karena dia nggak peduli atau nggak sayang, tapi memang saat itu dia berada di bawah ‘pengaruh lain’ yang menyebabkan adiktif sampai di luar kuasanya.

Luka itu masih tetap ada, tapi, setidaknya, saya memperoleh kelegaan….

Advertisements

Author: putrikatak

Love to write and live by writing. Like frogs, stars, rains, and the color of blue.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s