Moment of My Life…

Beberapa edisi lalu, saya menulis rubrik bernama Aspirasi. Temanya: Moment Of Our Life. Jadi saya mengumpulkan beberapa pengalaman inspiratif dari orang-orang.

Saya tahu, setiap orang memang memberi perhatian yang berbeda pada satu peristiwa yang sama. Tetapi, tetap saja saya terkagum-kagum, di samping terheran-heran, mendengar dan membaca pengalaman mereka. Saya bertanya-tanya, bagaimana mereka bisa memilih momen tersebut di antara banyak peristiwa dalam hidup mereka?

Lalu, kembali kepada diri saya sendiri, ada banyak kejadian yang bisa saya jadikan sebagai ‘moment of my life‘, sebagai ‘titik balik’ dalam hidup saya. Saya akan kesulitan memilih salah satunya. Tetapi, jika saya harus memilih satu, maka ada satu yang paling membekas….

Dalam hidup, kita pasti akan berhadapan dengan yang namanya kematian. Tentu saja, siapa, sih, yang nggak sedih bila berhadapan dengan kehilangan, apalagi kematian?

Sebelumnya, saya sudah beberapa kali berhadapan dengan peristiwa kematian. Dan, selama itu, saya nggak pernah merasakan kehilangan yang sebegitu besarnya. Mungkin, karena yang meninggal itu adalah kakek, nenek, atau orang lanjut usia yang saya kenal yang memang sudah cukup lama berada di dunia ini—Tapi bukan maksud saya mengatakan orang tua memang sudah pantas meninggal.

Hingga suatu hari, di SMA, saya harus kehilangan kakak—sepupu, saya. Usianya belumlah genap 20 tahun. Masa depan, seharusnya, masih terbentang luas di hadapannya. Tapi, ia direnggut dari dunia ini.

Sejak kehilangan, saya menjadi tidak peduli sama sekeliling saya. Bagaikan robot, saya melalui hari-hari tanpa rasa. Amarah saya lontarkan kepada Tuhan. Saya menganggapnya tidak adil. Saya pun berhenti berdoa dan bercerita pada-Nya.

Saya menangis dibalik tawa. Saya sampai mengirim SMS ke nomor kakak dulu, menulis sebuah surat setiap saya merasa rindu, dan berusaha menyimpan semua kenangan, takut untuk melupakannya.

Sampai pada satu titik, beberapa benda milik kakak dan fotonya yang saya simpan hati-hati, tiba-tiba hilang. Benar-benar hilang tanpa jejak. Sejak itu, saya justru merasa sendiri, kehilangan pegangan, dan merasa ada ‘kehilangan’ yang lebih besar lagi. Saya butuh penghiburan dari-Nya. Saya butuh berbicara pada-Nya. Saya pun mengambil langkah ekstrim, memutuskan untuk dibaptis.

Lalu, saya belajar untuk melepaskan, bukan berarti melupakan…

P.S. But, now I’m missing him badly…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s