am i (not) a good friend?

Friends are always been more than everything to me.

Yap, that’s true….

Saya selalu merasa—setelah keluarga, teman-teman sayalah yang berharga dan menjadi prioritas saya dalam hidup. Karenanya, saya selalu berusaha menjadi teman yang baik, teman yang selalu ada, dan tidak mau meninggalkan. Bisa dibilang, saya orang yang mau melakukan (hampir) segalanya untuk teman-teman saya.

Salah satu teman saya, menyebut saya ‘tong sampah’ karena dia bisa menceritakan apa saja kepada saya dan saya selalu mendengarkan. Dia juga melihat sendiri bagaimana teman-teman yang lain juga melakukan hal yang sama kepada saya. Akhirnya, julukan tersebut melekat pada saya darinya.

Teman yang lain berpendapat saya selalu terlalu mendramatisir urusan persahabatan. Dia melihat, saya selalu panik apabila bertengkar dengan salah seorang teman, padahal itu hal yang wajar. Saya, bahkan, nggak ragu mengalah dan meminta maaf—meski bukan salah saya, untuk segera mengakhiri pertengkaran.

Ada lagi yang mengatakan, saya terlalu baik—padahal I’m not so forgiving. Menurutnya, karena terlalu baik, saya malah ‘diinjak-injak’ dan dimanfaatkan oleh orang lain, teman yang lain. Dia kerap kesal setiap kali mendapati saya menjumpai kesulitan untuk teman lain yang meminta bantuan. Bahkan, menagih sesuatu milik saya yang dipinjam saja, saya suka sungkan.

Yah, intinnya, saya memang takut kehilangan—apapun bentuknya, salah satunya teman. Sebisa mungkin, saya menghindari konflik, berusaha mengerti, bernegosiasi, dan mencari jalan aman agar teman-teman saya tidak pergi meninggalkan.

Saya tidak pernah menuntut teman-teman saya untuk bersikap sama seperti saya. Setidaknya, saya ingin mereka juga ada ketika saya butuh. Itu saja cukup.

Jujur, saya berusaha keras membagi waktu saya untuk teman-teman saya. Kalau memang yang satu atau lebih, merasa kurang, saya ingin mereka tahu kalau saya sudah berusaha semampu saya untuk ‘ada’, always be there.

Seorang teman menelpon tengah malam untuk curhat, saya rela menanggung resiko mengantuk keesokan harinya. Seorang teman minta ditemani karena baru putus, saya membatalkan semua janji lain untuk ada di sampingnya. Seorang teman menangis sesegukan, tak bisa berkata-kata, saya datangi rumahnya untuk sekedar memeluk. Intinya, saya benar-benar berusaha untuk ada di saat mereka butuh.

Hanya saja, tidak semua teman menaruh prioritas yang sama seperti saya sehingga saya juga sering merasa kecewa. Jika sudah demikian, saya bisa gloomy berhari-hari dan merasa bodoh. Beberapa kali, saya bertekad untuk tidak menaruh harapan terlalu tinggi pada teman-teman saya, berusaha cuek, dan careless. Tapi ujung-ujungnya, saya tetap memendam kecewa. Inilah saya, tidak peduli bagaimanapun, saya tidak ingin meninggalkan karena saya tidak ingin ditinggalkan.

Sampai baru-baru ini….

Geng sahabat cewek saya bertengkar hebat karena salah satu dari kami mengeluarkan pernyataan kalau kami nggak selalu ada untuknya, makanya dia butuh pelarian lain—rokok.

Tidak masalah dengan pilihannya untuk merokok. Dia sudah dewasa dan bisa membuat keputusannya sendiri. Sekalipun saya benci asap rokok, saya juga punya beberapa teman perokok—saya tidak menjauhi mereka. Tetapi, yang membuat saya sedih adalah pernyataannya: bahwa kami—artinya termasuk saya, tidak selalu ada untuknya.

Saya teringat, beberapa kali, malah dia yang membatalkan janji pergi bersama, mendadak, di saat-saat terakhir. Yang terakhir, sampai sekarang pun, dia belum memberikan alasan penyebabnya membatalkan janji karena yang mengatakan dia nggak jadi pergi adalah ibunya ketika saya sudah berada di depan rumahnya, menjemput.

Benarkah usaha saya kurang, untuk selalu ada membantunya? Bukan berarti, saya tidak peduli jika fisik saya yang tidak selalu bersamanya. Saya hanya sejauh mengangkat telepon, mengetik SMS, atau mengirim e-mail. Kalau dia memang butuh kehadiran, saya juga bisa—sudah sering malah, bela-belain untuk bersamanya. Dan, sampai saat ini, saya belum berkesempatan berbicara langsung dengannya untuk menanyakan pertanyaan ini.

Am I really a good friend, or bad one?

pic: corbis.com

Advertisements

Author: putrikatak

Love to write and live by writing. Like frogs, stars, rains, and the color of blue.

2 thoughts on “am i (not) a good friend?”

  1. doh, isu ini lagi.
    udah lama banget ly gue merasa bukan teman yang baik.
    *curcol begin*
    masalah keberadaan, wah, gue minus banget.
    masalah perhatian, apalagi.

    that’s why, semakin hari semakin ngerasa sendiri.
    hiks…

    tapi yang gue yakin, lo temen yang baik kok ly.
    🙂

    take care…
    miss you…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s