Festival Sinema Perancis 2010

Yeeeayy!! Saya kembali berpartisipasi sebagai penonton di Festival Sinema Perancis tahun ini. Senangnya, lebih banyak film yang bisa saya tonton tahun ini 🙂

Total ada 5 film yang saya saksikan tahun ini. Dan, seperti biasa, saya hampir selalu menyukai film-film festival yang menyimpan lebih banyak kejutan dibandingkan film-film Hollywood biasa. Demikian halnya, kelima film yang saya tonton tahun ini: Je Crois que je L’aime, L’Heure d’Ete, Le Code a change, Le Petit Nicolas, De l’autre Cote du Lit.

Je Crois que je L’aime merupakan sebuah film drama romantis yang berkisah mengenai Lucas (Vincent LIndon), seorang pengusaha sukses berstatus duda. Selama proses perceraian hingga menyandang status duda, Lucas selalu sendiri dan nggak berani mendekati lawan jenis karena trauma masa lalunya.

Bagaimana tidak, hampir setiap cewek yang mendekatinya, ujung-ujungnya, ketahuan kalau mereka suruhan kompetitor bisnisnya untuk memata-matainya, termasuk mantan istrinya.

Sampai akhirnya, Lucas bertemu Elsa (Sandrine Bonnaire), pengrajin keramik yang sedang mengerjakan lantai kantornya dan jatuh cinta. Namun, rasa cinta tak begitu saja membuat Lucas lupa pada traumanya. Akhirnya, ia pun menyewa jasa detektif untuk menyelidiki kehidupan Elsa. Semua berjalan lancar, hingga Elsa mengtahui rahasia Lucas. Hmmm, bagiaman jadinya, yah, hubungan mereka? 😛

Film yang menjadi pilihan Nobar tempat saya bekerja ini memang lebih menitikberatkan pada porsi drama, tapi masih diselingi komedi. Dan, di film ini terlihat bagaimana seni menjadi hal yang sangat dihargai dalam budaya Perancis.

Berbeda dengan film sebelumnya, film ini lebih kepada drama keluarga dan permasalahannya. Frederic, Adrienne, dan Jeremie adalah tiga bersaudara anak Helene Berthier.

Semasa hidupnya Helene selalu menjaga dan merawat rumah serta lukisan peninggalan pamannya, Paul Berthier. Rumah tersebut menjadi tempat berkumpul keluarga ini setiap musim panas.

Hingga, Helene meninggal dan anak-anaknya harus menghadapi masa lalu dan masa depan mereka dengan rumah dan segala isinya tersebut.

Frederic tidak mengingingkan rumah dan isinya dijual karena merasa rumah tersebut satu-satunya ‘pengikat’ ia dan adik-adiknya. Akan tetapi, tidak demikian dengan Adrienne dan Jeremie. Kedua adiknya memang tidak tinggal di Perancis dan, masing-masing, sedang membutuhkan biaya hidup.

Film ini meraih penghargaan dalam Film Critics 2009 kategori Best Foreign Language di Boston, Los Angeles, New York, South Eastern, dan USA National Societis. Bukan seperti film-film Perancis lain yang pernah saya tonton, mungkin, ini versi film serius ala Perancis.

Le Code a Change atau Change of Plans menceritakan sebuah keriaan dalam pesta makan malam. Ternyata, di balik tawa dan senyum mereka, masing-masing tamu memiliki rahasia yang tidak mereka bagi.

Ada rencana yang tersembunyi, sakit hati, kenangan masa lalu, perselingkuhan, dan, rasa sakit. Semua itu mereka tutupi dengan tawa, humor, baju bagus, dan tampilan luar.

Hingga saat pulang tiba, semua rencana yang telah mereka susun rapi-rapi harus berubah karena satu dan lain hal.

Hingga pada waktunya, mereka harus kembali berkumpul dalam sebuah makan malam lagi. Akankah semua kebohongan dan kemunafikan terungkap? Cuma yang sudah menonton yang tahu.

Sebuah ide yang menarik dan sindiran yang menggelitik dalam Le Code A Change. Saya menikmati kebingungan sesaat dan alur maju-mundur yang disajikan dan merasa puas 🙂

Nicolas memiliki kehidupan sempurna—menurutnya, yang tidak ingin ia ganti. Orangtua yang menyanyanginya, teman-teman yang solider, dan semua berjalan dengan tenang.

Hingga suatu hari, Nicolas berasumsi kalau ibunya hamil. Mendengar pengakuan teman-temanya yang sudah memiliki adik, Nicolas ketakutan dan memikirkan berbagai kemungkinan terburuk apabila adiknya nanti lahir.

Sepanjang film, kita akan disuguhi aksi polos dan jujur dari sudut pandang anak-anak yang mengundang tawa. Benar-benar sebuah hiburan dan pencerahan. Bagaimana sudut pandang dan pemikiran anak-anak bisa demikian menarik.

Sama seperti buku karangan penulis Perancis, Antoine de Saint Exupéry, Le Petit Price, kita diajak memahami pemikiran penuh imajinasinya seorang anak yang SANGAT menakjubkan!

Arianne (Sophie Marceau) dan Hugo (Dany Boon) pasangan suami istri yang sedang mengalami masa sulit. Mereka memutuskan untuk mengubah hidup dan rutinitas mereka dengan cara bertukar ‘tempat’.

Arianne menjadi kepala perusahaan milik Hugo dan Hugo mengambil alih urusan rumah tangga dan berjualan perhiasan, seperti yang dikerjakan Arianne sebelumnya.

Awalnya, semua berjalan lancar dan pertukaran tersebut membawa angin segar dan pemahaman baru akan kesulitan menjalani profesi masing-masing. Tapi apakah lantas mereka bahagia dengan keadaan tersebut selamanya? Toh, rumput tetangga memang selalu terlihat lebih hijau, bukan?

Hmm, sebuah film yang menarik dan menyentil. Kita akan mendapati diri kita berpikir semakin terbuka akan pemahaman gender dan kesetaraan antara suami dan istri. I Love this!

Oke, sebuah ‘perjalanan’ yang menarik dari film-film yang saya tonton. Ada banyak hal yang saya dapat melalui film-film tersebut—senangnya! Nggak sabar menunggu tahun depan, nih.

Sampai jumpa tahun depan!!

Au Revoir….

Advertisements

Author: putrikatak

Love to write and live by writing. Like frogs, stars, rains, and the color of blue.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s