Kisah Para Putri dari Ullen Sentalu

Seperti yang sudah saya bilang pada posting sebelumnya, saya berlibur ke Yogyakarta wikend kemarin. Ullen Sentalu adalah salah satu tempat yang saya kunjungi waktu di sana.

Rintik hujan gerimis mengiringi langkah kaki saya dan teman-teman saat tiba di Ullen Sentalu, sebuah museum sejarah seni dan budaya Jawa—Pengeran dan Putri Keraton khususnya. Museum ini terletak di lereng Gunung Merapi, desa Kaliurang. Letaknya sedikit tersembunyi di antara rimbun pepohonan dan bebatuan gunung—asri dan adeeem.

Ekspektasi saya tidak terlalu tinggi sebelumnya karena saya baru mendengar tentang museum ini sesaat sebelum berangkat ke Yogya, tapi yang saya alami lebih dari sekedar pengalaman melihat museum yang biasanya. Saya tidak berhenti berdecak kagum dan ber-aah atau ber-ooh di sana, he he he….

Ullen Sentalu, ULating bLENcong SEjatiNe TAtaraning LUmaku, yang bisa diartikan nyala lampu blencong (lampu minyak dalam pertunjukkan wayang kulit) sebagai penerang langkah hidup. Dengan nama tersebut, masyarakat, Jawa khususnya, diharapkan tidak lupa mengenai tradisi dan sejarahnya yang kaya—Hmmm, sebuah filosofi yang sempat membuat saya merinding mendengarnya.

Museum ini dirintis pada tahun 1994 dan diresmikan pada 1 Maret 1997 di bawah Yayasan Ulating Blencong, jadi museum ini dikelola oleh swasta. Museum ini terbagi menjadi beberapa ruangan, yaitu Ruang Selamat Datang, Ruang Seni Tari dan Gamelan, Guwa Sela Giri, beberapa ruangan di Kampung Kambang, Koridor Retja Landa, dan Ruang Budaya. Seperti budaya jawa pada umumnya, setiap hal memiliki nilai filosfisnya, demikian ruangan-ruangan tersebut.

Satu hal yang terekam dalam benak saya adalah cerita-cerita para perempuan Keraton yang sangat kental di dalamnya—ya, museum ini sangat feminis! Hampir semua perempuan (putri) yang diceritakan dalam museum ini memiliki kekuatan dan peran masing-masing di dalam Keraton. Rupanya, di tengah adat Jawa dan Keraton yang kuat patriakalnya, para putri ini tetap menunjukkan eksistensi dirinya.

Di salah satu lorong, ada lukisan Partini Djayadiningrat, Putri Mangkunegaran VII, yang merupakan pengarang cerita Ande-ande Lumut dengan nama pena Antipurbani. Beliau sekaligus nenek dari sutradara Dimas Djayadiningrat.

Selain itu, ada Retno Puwoso, istri Paku Alam VIII dan anak dari Paku Buwono X. Beliau adalah desainer dalam istana. Ketertarikannya pada dunia fesyen diterapkan melalui gaya berpakaiannya sehari-hari, tak ketinggalan, suaminya pun ikut ‘didandani’. Pada salah satu lukisan, terlihat permaisuri ini mengenakan hiasan bulu yang dikalungkan hingga ke bagian kakinya dan suaminya mengenakan semacam dasi dibalik baju kebesarannya—sesuatu yang tak lazim pada masa itu.

Cerita sedih datang dari GRAj. Koes Sapariyam yang lebih akrab disapa Tineke. Cinta beliau yang tak direstui orantua membuatnya bersedih terus-menerus. Alhasil, ia mendapatkan dukungan dari kerabat dan sanak-saudara melalui surat-surat penyemangat yang bisa kita baca di Ruangan Balai Sekar Kedaton yang seolah-olah menjadi saksi bisu kisah sedihnya itu.

Ada lagi, cerita mengenai GRAy Nurul Kamaril Ngarasati Kusumawardhani Surjosoejarso, alias Gusti Nurul, yang terkenal karena kecantikannya. Konon, Presiden Soekarno saja terpikat olehnya. Akan tetapi, karena Gusti Nurul anti-poligami, presiden pun ditolak olehnya. Putri dari HRH Mangkunegoro VIII dan GKR Timur Mursudariyah ini memang putri yang ‘berbeda’. Ia hobi bermain tenis, berenang, dan berkuda—sesuatu yang jarang dilakukan oleh para putri, tapi juga mahir menari. Salah satu foto di ruangan menggambarkan Gusti Nurul menari di Belanda yang dilakukan secara teleconference, yaitu musik gamelan dimainkan di Solo sedangkan Gusti Nurul mendengarkan alunan gamelan melalui telepon dan menari di hadapan tamu undangan secara langsung di Belanda.

Hmm, sebenarnya ada satu cerita lagi yang menarik bagi saya, tapi saya lupa namanya (kalau nggak salah, nih, beliau istri dari Pakubuwana). Permasuri ini melarang putranya mengangkat permaisuri karena ingin tetap eksis sebagai permaisuri. Akibatnya, putranya ini ‘hanya’ memiliki beberapa selir, tanpa permaisuri. Dari sini, kan, terlihat betapa perempuan juga memegang peranan dan kuasa sendiri di tengah lingkungan Keraton.

Yah, kira-kira itulah beberapa cerita yang masih terekam dalam ingatan saya yang samar-samar (rasanya kalau kembali ke sana, saya mau membawa alat perekam saja agar tak ada yang kelupaan, he he he)

Info lebih: museum ullen sentalu

Advertisements

4 thoughts on “Kisah Para Putri dari Ullen Sentalu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s