Infotainment, Jurnalistik-kah?

Oke, saya akui, belakangan, saya memang semakin jarang up-date berita-berita di koran. Kebiasaan saya membaca koran setiap pagi juga perlahan terlupakan beberapa waktu belakangan ini. Ditambah, saya juga sangat jarang menonton TV. Makanya, nggak heran, saya jadi sering ketinggalan berita aktual. Untungnya, saya bekerja sebagai redaksi majalah–walaupun isinya lebih condong ke lifestyle–jadi masih bisa up-date berita dari sesama wartawan.

[Tapi berita yang saya baca, yang menggelitik saya untuk menuliskannya, bukan saya ketahui dari koran, majalah, atau televisi. Saya membacanya di salah satu status seorang kawan di FB.]

Saya memang sempat MUAK dengan pemberitaan yang menurut saya terlalu berlebihan berkaitan dengan kasus video porno mirip artis. Gara-gara itu, saya semakin malas membaca dan mengikuti perkembangannya. Cukup hanya sebatas tahu saja.

Tentu saja, pemberitaan ini juga erat kaitannya dengan pekerjaan wartawan infotainment dan kawan-kawan.Β  Sejak awal—tanpa bermaksud mengecilkan atau sombong—saya memang kurang setuju dengan sepak terjang para pekerja di balik infotainment, reality show, dan semacamnya. Bagi saya, berita yang mereka suguhkan seringkali ‘mengacak-acak’ ranah pribadi seseorang, sudah nggak pada tempatnya. Belum lagi, pemberitaan mereka sering terkesan menyudutkan dan menghakimi.

Jujur, sebagai orang yang bekerja di bidang yang sama—mencari dan menulis berita, saya sering merasa enggan disamakan dengan para pekerja infotainment dan sejenisnya. Tak jarang, saya memendam sungut ketika ada yang menanyakan perkembangan gosip dan kasus selebriti. Bukannya apa, saya lebih banyak menulis berita feature yang informatif, aktual, terpercaya—bukan gosip. Tulisan-tulisan saya lebih memerlukan riset, pemikiran, dan pengendapan materi sebelum menuliskannya daripada sekedar sepotong wawancara yang diedit sana-sini.

Oleh karena itu, berita ini cukup membuat saya merasa lega. Walaupun saya yakin, meski sudah ditetapkan, hal ini masih akan mengundang banyak protes dan perdebatan.

Resmi: Infotainment Bukan Lagi Bagian Jurnalistik

Hal tersebut akhirnya diputuskan setelah sebelumnya ditentang oleh PWI sendiri.

Infotainmen Adalah Karya Jurnalistik

Jadi, setelah ini, karya-karya mereka sudah seharusnya kita anggap sebagai hiburan, aja πŸ™‚

Advertisements

Author: putrikatak

Love to write and live by writing. Like frogs, stars, rains, and the color of blue.

One thought on “Infotainment, Jurnalistik-kah?”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s