the way i’m dealing with my life…

Oh, this post is so serious 😛 But, I really want to share this!

***

Saya bukanlah orang yang sangat religius atau aktif dalam kegiatan kerohanian, tapi saya percaya adanya kekuatan yang lebih besar dalam hidup saya yang saya sebut Tuhan.

Di sisi lain, saya juga percaya akan adanya karma. What goes around comes around. Karenanya, saya selalu mengingatkan diri saya untuk menanam benih yang baik agar dapat menuai hal yang baik. Selalu memperlakukan orang lain seperti saya ingin diperlakukan.

Hasilnya, sih, saya merasa hidup saya baik-baik saja—so far, dan Tuhan baik banget sama saya! He he he…

Jadi ingat, beberapa tahun lalu, saya pernah menulis tentang ‘membaca tanda tangan’ dan pada kesempatan itu, psikolog yang menjadi narasumber saya juga ‘membaca’ tanda tangan saya. Katanya, hidup saya lempeng-lempeng aja, dalam artian saya belum menemui tantangan yang berarti dan semua tahap kehidupan saya lalui dengan mulus.

Memang, sih, mulai dari sekolah, memilih universitas, lalu mendapatkan pekerjaan, saya memang nggak menemukan hambatan yang berarti dan semua memang seperti sudah dibukakan jalannya. Makanya, psikolog itu berpesan agar saya tetap waspada, jangan keenakan karena hidup nggak akan selamanya mudah—untuk saya.

Sempat, sih, saya menelan kecewa karena tidak bisa masuk universitas swasta pilihan, tapi ternyata saya justru diterima di universitas negeri yang lebih bergengsi. Sejak itu, saya percaya kegagalan bukanlah akhir dari segalanya. Bagi saya, sebuah kegagalan merupakan peringatan bahwa kita memang tidak cocok/ tidak tepat mendapatkannya. Sebaliknya, itu menjadi pertanda ada peluang lain yang justru lebih pas untuk kita.

Imbas jangka panjangnya, saya jadi orang yang tidak terlalu ngoyo meski tetap memiliki target dalam hidup. Karena prinsip itu pula, saya jarang merasa gagal karena saya percaya ‘sesuatu yang gagal’ itu memang bukan atau belum berjodoh saya. Hal ini berlaku dalam setiap aspek kehidupan saya, baik itu relationship, pekerjaan, maupun hal-hal lain yang saya targetkan.

Selain itu, tentu saja saya percaya ada kekuatan lain yang menuntun jalan saya. Karenanya, saya selalu menyerahkan hasil akhir pada-Nya, setelah saya berusaha. Saya pun (hampir) tak pernah khawatir dalam hidup saya. Bukan berarti lantas saya bersantai-santai, tapi kerja keras saya, saya pasrahkan sepenuhnya pada Tuhan.

Nah, baru-baru ini, sebelum memutuskan resign, saya berpikir mengenai apa lagi tantangan yang ingin saya coba lakukan. Saya pun teringat keinginan lama, mengajar para bocah (baca: anak-anak di bawah usia 6 tahun). Saya pun mengirimkan lamaran ke tiga pre-school dekat rumah, meski mereka tidak memasang lowongan pekerjaan.

Nggak sampai satu bulan, satu per satu panggilan berdatangan. Saya kurang berjodoh dengan sekolah pertama karena panggilan datang saat saya tugas ke luar kota. Sedikit kecewa, tapi terhapus karena belakangan saya mendengar sekolah tersebut memasang plang “Dijual” untuk gedung sekolahnya. Lantas, namanya pun berganti dari nama awal. Wah, agak riskan memang kalau saya melanjutkan proses lamaran itu—pikir saya.

Sekolah kedua, memanggil saya pas saat saya cuti. Ini seperti: it was meant to be. Ketika disambangi, saya nyaman dengan sekolahnya, atmosfernya, tim pengajarnya, dan misi pengajarannya. Dan, setelah melalui beberapa tes, saya diterima bekerja!

Saat sekolah ketiga memanggil, saya mengalami sedikit dilema karena sudah sreg dengan sekolah kedua—walau saat dipanggil saya belum mendapat kabar saya diterima di sekolah kedua. Tapi demi menjaga citra, saya tetap memenuhi panggilan mereka. Benar saja, saya kurang cocok dengan sekolah yang ini. Kesan dingin yang saya tangkap dari staf dan kepala sekolahnya, jauh berbeda dengan sekolah kedua. Saya pun setengah hati menjalani tes dan interview—Toh, sang principal juga langsung bersikap antipati ketika tahu saya tidak memiliki pengalaman mengajar anak-anak yang jelas-jelas sudah tercantum di CV yang saya kirimkan sebelumnya. Alhasil, sekolah ini nggak memanggil saya kembali untuk proses selanjutnya, hi hi hi….

Keputusan (setengah) bulat untuk mengajar kembali mendapat godaan ketika saya mendengar ada tawaran yang lebih menarik. Ada lowongan media relations di sebuah perusahaan  yang cukup established di Indonesia.

Dilema melanda saya! Suer, ini benar-benar keputusan yang sulit untuk saya ambil.

Di satu sisi, saya sedikit lagi mencapai cita-cita lama saya. Saya juga akan nyaman mengajar dengan jam kerja yang relatif singkat dan jadwal libur mengikuti murid-murid. Waktu luang saya pun akan berlimpah dan bisa saya manfaatkan untuk menulis freelance atau melakukan hobi. Ibaratnya, saya bisa menata kembali hidup saya yang dilanda kejenuhan oleh rutinitas.

Di sisi lain, jobdesk media relations menjadi tantangan tersendiri yang gatal saya coba. Meskipun letak kantornya nun jauh di Pulogadung, saya merasa penasaran dengan tawaran ini. Terlebih, jenjang karier dan gaji kedepannya tentu saja lebih baik di sini. Akhirnya, saya putuskan mencoba mengirim lamaran—Toh, belum tentu akan dipanggil demikian pikir saya.

Eh, setelah saya menerima berita diterima di sekolah kedua, selang beberapa hari, saya mendapat panggilan dari Pulogadung. Widiww, otomatis saya makin bingung dan sibuk meminta pertimbangan dari sana-sini. Tapi semakin banyak saya bertanya, semakin bingunglah saya! Belum lagi, memikirkan alasan untuk pending sekolah kedua.

Sampai saya pun kembali teringat pada Tuhan….

Saya berdoa, saya serahkan semua ke dalam tangannya. Jawabannya ternyata datang hanya sehari setelah saya memutuskan berserah. Sekolah kedua menelepon untuk mem-postponed penerimaan saya. Mereka butuh guru yang bisa segera masuk di term baru, sedangkan saya baru bisa masuk satu bulan setelahnya.

Seharusnya, sih, saya kecewa, tapi saya justru menganggap ini pertanda Tuhan memberi jalan untuk saya mencoba menjalani tes Pulogadung dengan tenang. Siapa tahu, saya memang lebih berjodoh dan akan lebih berkembang di sana.

Yah, sampai sekarang, hasil akhirnya memang belum saya ketahui karena prosesnya masih berjalan. Tapi, kemarin, saya mendapatkan panggilan untuk tes tahap selanjutnya—yeaayy! Mudah-mudahan, saya bisa melalui semuanya dan diterima. Kalaupun tidak, saya tidak menyerah. Mungkin, ada peluang lain yang menunggu saya!

Wish me luck!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s