demo bukan lagi cara efektif!

Dengan menulis ini, saya nggak bermaksud sok tahu atau sok peduli, tapi hanya komentar gatal yang ada di kepala saya gara-gara demo kemarin.

***

Tidak bisa dipungkiri memang, dalam sejarah Indonesia, demonstrasi atau unjuk rasa mahasiswa pernah beberapa kali menggulingkan pemerintahan yang lalim dan memberi harapan untuk Indonesia baru.

Sejak unjuk rasa terakhir yang membawa banyak korban itu, Indonesia baru benar-benar menjadi negara yang demokratis. Ah, tapi benarkah sungguh-sungguh demokratis?

Banyak pihak menganggap demokratis berarti bisa bertindak semau-maunya, mengkritik semaunya, bebas sebebas-bebasnya mengutarakan pendapat. Salah satunya dengan jalan demonstrasi atau unjuk rasa. Benarkah itu demokrasi yang dimaksud?

Jika dulu unjuk rasa menjadi sebuah momentum perubahan, sekarang unjuk rasa sudah jadi makanan sehari-hari. Saya ingat betul betapa dulu orangtua saya parno setiap kali mendengar akan ada demoβ€”bahkan bisa sampai melarang saya keluar rumah. Sekarang, mereka tenang-tenang aja, tuh! Malah, lebih khawatir sama keadaan jalan yang otomatis akan macet dan menghambat aktivitas tiap ada demo.

Kenyataannya, sekarang, masyarakat sendiri yang justru direpotkan oleh adanya unjuk rasa. Jakarta yang sudah macet, jadi makin macet! Belum lagi, demo yang berunjung tindak anarkis, merusak jalan, penunjuk jalan, sampai kendaraan pribadi/ umum. Lantas, suara siapa yang mereka utarakan? Jangan salahkan masyarakat juga jika pada akhirnya mereka malah berbalik mencibir aksi unjuk rasa mahasiswa atau ormas.

Saya sendiri melihat pemerintah sudah tidak takut lagi oleh β€˜gertakan’ unjuk rasa. Sesuatu yang terlalu sering, lama-lama memang akan jadi biasa bukan? Akibat pengertian salah mengenai demokrasi yang dianut: sedikit-sedikit protes, sedikit-sedikit demo, sedikit-sedikit unjuk rasa, harga kebebasan berpendapat menjadi tidak berarti lagi. Masyarakat boleh saja berteriak, protes, sampai mulutnya berbusa, pemerintah mendengar dengan masuk kuping kiri keluar kuping kanan.

Belum lagi, esensi demo yang sudah banyak disusupi oleh keperluan-keperluan pihak tertentu. Zaman sekarang, ada, tuh, profesi demonstran. Beberapa orang dibayar pihak tertentu untuk memunculkan isu. Supir taksi saja bisa mengatakan, β€œYah, kalau nggak demo, mereka nggak makan. Orang mereka dibayar buat demo, Mba!”

Akhirnya, menurut saya, demonstrasi bukan lagi cara efektif untuk menyuarakan pendapat masyarakat. Yah, mungkin sudah saatnya kita mencari cara lain untuk menyampaikan pendapat, dari sekedar turun ke jalan dan berorasi, agar memperoleh perubahan yang cukup signifikan.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s