i owe you this story…

Seperti yang sudah saya bilang, saya akan menulis mengenai perjalanan liburan saya yang terakhir. Sebenarnya, liburan ini sudah saya rencanakan sejak awal tahun bersama ketiga teman saya. Kemudian, liburan ini menjadi momentum liburan yang ‘sesungguhnya’ karena saya pergi tanpa perlu cuti a.k.a saya sudah resign dari kantor sebelumnya. Jadi, setelah sejak kuliah, saya tidak pernah merasakan nganggur, kali ini, saya benar-benar merasakan liburan tanpa harus lembur dulu dan dibebani deadline pekerjaan sepulangnya πŸ˜‰

***

Sudah beberapa waktu lamanya, saya ingin jalan-jalan ke Vietnam. Saya bahkan lupa bagaimana awalnya ide itu muncul. Vietnam lebih menarik perhatian saya dibandingkan negara-negara lain di Asia Tenggara, bahkan Thailand atau Singapura sekalipun. Makanya, ketika tahun ini berkesempatan mengunjungi negara tersebut, saya tidak menyia-nyiakannya. Bersama dengan tiga sahabat jalan-jalan saya, petualangan di Vietnam terwujud.

Awalnya, saya ingin menghabiskan jatah 5 hari yang ada untuk jalan-jalan keliling Vietnam, mulai dari Ho Chi Minh, Hanoi, Ha Long Bay. Tapi berhubung dua teman saya ingin ke Genting juga, jadilah perjalanan Vietnam saya cuma 3 hari dan di Ho Chi Minh saja.

Sebelum berangkat, seperti biasa, saya dan teman-teman sudah merencanakan itinerary perjalanan. Berdasarkan informasi yang saya dapat, lalu lintas di Vietnam sangatlah ‘menyeramkan’, dan ternyata itu bukanlah isapan jempol belaka. Di Ho Chi Minh, pengguna sepeda motor sangatlah banyak.. Hampir setiap berhenti di lampu merah, sepeda motor menyemut menguasai jalan. Karena itu, menyeberang jalan di Vietnam menjadi momok tersendiri buat saya. Tapi, mau tak mau, bisa tak bisa, saya harus memberanikan diri, dong.

Belum lagi, penduduk Vietnam tak jauh beda dengan penduduk Indonesia yang suka nggak patuh pada peraturan. Persimpangan maupun perempatan bisa begitu semerawutnya dan mobil bisa memutar balik di sembarang tempat. Ada satu kejadian, saya yang lega sudah berhasil menyeberang sampai trotoar, tiba-tiba, dikejutkan oleh sepeda motor melintas secara mendadak di depan saya. Kontan saya langsung deg-degan lagi nyaris terserempet motor padahal sudah DI TROTOAR!

 

Pengendara Motor Matching
The Famous Ben Than Market

Tapi urusan tata kota, jangan mentang-mentang mereka baru merdeka lebih terbelakang dari Indonesia, justru mereka lebih rapi.

 

A Corner of One Street

 

City Hall

 

Opera House

 

The Famous Notre Dame Cathedral

Pengalaman lain yang nggak kalah menarik adalah sebagian besar penduduknya yang nggak paham bahasa Inggris. Hal ini otomatis menyulitkan saya dan teman-teman dalam berinteraksi dengan penduduk, entah untuk menanyakan jalan, belanja, atau jenis menu makanan. Lucunya lagi, hampir di setiap toko atau resto yang saya kunjungi, jika pelayannya tidak bisa bahasa Inggris mereka otomatis berusaha tidak melakukan kontak mata dan berharap tidak ditegur. Bahkan, ada yang terang-terangan menggelengkan kepala atau menggoyangkan tangan tanda menolak diajak bicara, he he he….

Selain itu, penduduk Vietnam sepertinya senang sekali duduk menghadap ke jalan. Hampir setiap resto atau kafe menyediakan tempat duduk yang menghadap langsung ke jalan. Dan, bisa dipastikan, tempat-tempat strategis menghadap jalan hampir selalu penuh. Nggak perlu tempat umum, di depan rumah pribadi saja, sore-sore kita bisa lihat penghuninya duduk-duduk di depan rumah menghadap ke jalan lengkap dengan camilan dan kopi di meja kecil.

Bicara makanan, saya nggak kesulitan menyesuaikan lidah dengan masakan mereka. Menurut saya, makanan mereka tidak jauh berbeda dengan makanan Indonesia, terutama jenis chinese food. Tapi urusan pho (mie putih khas Vietnam) dan kopi mereka, rasanya memang dahsyat! Menuliskannya lagi di sini saja, saya sudah menelan ludah, nih. Pho asli di sana lebih enak dibandingkan pho yang juga banyak terdapat di restoran Vietnam yang ada di Indonesia. Lalu, saya nggak bisa berhenti dan merasa cukup minum es kopi di sana. Waaaah, rasanya maknyosss tenan!!

 

Vietnam's Starbucks

 

Another Famous Coffee Shop

 

The Legendary Pho

Satu lagi pengalaman yang sangat membekas bagi saya adalah perjalanan ke Cu Chi Tunnels. Tempat bersejarah bukti perjuangan rakyat Vietnam melawan penjajah adalah terowongan-terowongan sempit di bawah tanah ini. Mendengarkan cerita pembuatan dan kehidupan masyarakatnya pada saat itu membuat saya merinding kagum! Nggak heran, nasionalis mereka memang besar banget, terasa sampai setelah zaman merdeka sekarang.

 

Demo Persembunyian & Penyerangan

 

One of The Tunnels

 

Illustration of The Making of Cu Chi Tunnels

 

Me After Crawling Inside One of The Tunnels

Daaaaannn… Satu tempat lagi yang membekas dan membuat saya merinding adalah War Remnants Museum. Museum ini memperlihatkan hasil foto jurnalistik berbagai kejadian dalam perang. Korban perang, penyiksaan dalam perang, semua benar-benar nggak bisa kita bayangkan benar-benar terjadi. Sumpah, foto-fotonya serem banget dan saya sempat agak mual, makanya nggak berani liat lama-lama.

War Remnants Museum

After all, perjalanan kali ini sangat menyenangkan, berkesan, dan saya pasti mau kembali lagi ke sana!

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s