my happiness…

What’s your happiness last week?

Siapa, sih, yang nggak hepi setiap mendapat hadiah dari orang lain? Kenyataannya, memberi pun dapat mendatangkan kebahagiaan yang lebih daripada sekedar mendapatkan sesuatu. Kali ini, saya ingin bercerita mengenai kebahagiaan dari memberi.

Sejak memutuskan hengkang dari kantor lama dan berencana pindah kerja, saya sudah bertekad menyisihkan gaji pertama saya untuk mengganti ponsel mimo (panggilan saya untuk mama). Kenapa? Pertama, papa sudah kebagian gaji pertama di kantor lama dulu. Kedua, ponsel mimo memang sudah sangat perlu untuk diganti dan tak layak pakai. Makanya, sejak mulai bekerja di kantor baru, saya sudah mulai browsing-browsing mencari ponsel yang cocok untuk mimo.

Pertimbangan pertama, harus user friendly karena walaupun mimo gaul (he he he…) tetap saja agak gaptek. Kedua, mimo pengen banget ponselnya bisa memutar lagi format mp3 untuk dijadikan ringtone, maklum ponsel mimo selama ini hanya mampu memutar lagu monophonic (bayangkan jadulnya ponsel itu!), karena kartu SIM mimo adalah CDMA yang dulu notabene ponselnya nggak cangcing. Ketiga, tetap ‘cantik’ dan ‘ramah’ di kantong, he he he, yang ini, sih, keinginan saya.

Akhirnya, dengan bantuan seorang teman yang melakukan eksekusi proses transaksi di lapangan, ponsel tersebut ada di tangan saya weekend lalu. Sabtu, 15 Januari 2011 malam, ponsel tersebut sudah berada di tangan mimo.

Senyum sumringah nggak lepas dari wajahnya. Berulang-kali beliau mengucapkan terima kasih kepada saya. Bahkan, di jam yang biasanya sudah mengantuk, beliau masih asyik ‘kursus singkat’ dengan adik saya tentang fitur-fitur di ponsel tersebut. Sampai hari Minggu malam, waktu saya harus kembali berpamitan berangkat ke Jakarta, beliau masih memeluk saya dan mengucapkan terima kasih.

Senangnya hati saya tak dapat tergambarkan ketika melihat kegembiraan yang terpancar di wajahnya. Terlebih, beliau terlihat suka banget dengan ponsel tersebut. Bangga rasanya bisa memberi untuknya, meski masih belum sebanding dengan segala pemberian dan pengorbanan beliau.

Ada rasa hangat menjelar dalam hati saya. Terlebih, kalau boleh mundur ke belakang, orangtua saya memang hampir tidak pernah ‘memanjakan’ diri mereka sendiri. Ponsel, dompet, sendal, sepatu, tas, dan lainnya baru berganti jika anak-anak atau orang lain yang memberikan sebagai hadiah. Terbayang bagaimana mimo menahan diri untuk nggak mengganti ponselnya yang butut itu demi hal-hal lain yang dirasa lebih butuh (keperluan anak-anaknya).

Senyum di wajah mimo adalah kebahagiaan saya minggu kemarin, penambah semangat untuk minggu ini dan hari-hari ke depan pastinya!

Advertisements

Author: putrikatak

Love to write and live by writing. Like frogs, stars, rains, and the color of blue.

2 thoughts on “my happiness…”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s