Bahagia Tanpa Perlu Amnesia

Beberapa waktu lalu, saya baru saja menyelesaikan membaca sebuah buku, Forget About It – Caprice Crane. Ceritanya tentang seorang perempuan yang tidak bahagia karena merasa diperalat dan ditindas oleh orang-orang di sekelilingnya, tapi tidak berani bertindak melawan. Pada suatu kesempatan, dia mengalami kecelakaan dan berkesempatan untuk pura-pura amnesia dan menjadi orang lain selain dirinya yang lama. Dengan kebohongannya, dia merasa bisa berubah menjadi sosok yang baru dan berani melawan kesewenangan atas dirinya.

Bukan resensi atau mengenai isi buku tersebut yang ingin saya bicarakan di sini, melainkan karakter tokoh utama tersebut. Oke, sekarang, siapa, sih, yang merasa puas-puas saja dengan hidupnya? Siapa, sih, yang nggak pernah mengeluh atau menginginkan kehidupan orang lain? Dan, siapa, sih, yang nggak ingin mengubah hidupnya yang dirasa kurang menyenangkan? Dalam skala kecil, saya rasa, kita semua pernah merasakan hal tersebut.

Namun, nggak semua orang perlu amnesia dulu untuk berubah, dong? Saya berpikir, kasihan sekali si tokoh utama ini sampai merasa harus pura-pura lupa untuk bisa berubah dan melawan ketidakadilan yang dialaminya. Apa, sih, susahnya menolak hal yang tidak ingin dilakukan? Menghadapi adik yang kurang ajar dan nyebelin? Memutuskan pacar yang jelas-jelas brengsek dan tukang selingkuh? Menghadapi teman kantor yang hobi menjiplak dan mencuri ide kita?

Saya benar-benar tidak habis pikir dengan karakter yang terlalu lemah seperti itu.

Kalau dipikir-pikir, seandainya pun dikhayalkan sesuatu yang ingin saya ubah dalam hidup, saya rasa jawaban saya tetap tidak ada karena saya memang memiliki hidup yang ‘layak’ saya dapatkan setimpal dengan usahanya. Memang, sih, nggak semua orang memiliki keberanian untuk melakukan apa yang dia ingin sesuai dengan hati. Mungkin, nggak semua orang juga punya kesempatan untuk bertindak sesuai hati. Tapi, setidaknya, seseorang bisa bertindak melawan ketika bertentangan dengan hatinya.

Dan, saya percaya apa yang kita dapat atau miliki sekarang merupakan hasil usaha kita dari waktu sebelumnya. Makanya, jika kita nggak bahagia dengan yang kita miliki tengok dulu ke dalam diri, sudah cukupkah kita jujur dan memperjuangkan kebahagiaan kita?

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s