my chinese new year tradition

Hampir sama seperti Natal, Chinese New Year alias Imlek, menjadi sebuah perayaan besar bagi saya, yang memang Cina keturunan, terlebih bagi keluarga besar. Meskipun kepercayaan kami (keluarga besar) sudah berbeda-beda karena bersentuhan dengan budaya dan adat yang ada di Indonesia, tapi tradisi merayakan Imlek tetap berlangsung dan menjadi sebuah tradisi yang tidak berhubungan dengan agama tertentu. Toh, pada dasarnya, Imlek memang perayaan Tahun Baru etnis tertentu, bukan hari raya agama tertentu.

Bagi beberapa keluarga, tradisi masih dijalankan sedemikian patuhnya. Rumah dihias dengan warna merah dan emas yang dipercaya melambangkan dan mendatangkan kemakmuran, kesehatan, dan tentu saja keberuntungan. Tempat beras dan tempat makanan lainnya tidak boleh kosong, semua harus diisi penuh tak peduli ada atau tidak ada tamu di hari-H. Sprei, baju, handuk, sampai pakaian dalam dan semua peralatan yang dipakai di tubuh harus baru. Untuk warna, hitam, abu-abu, dan warna gelap lainnya sangat dihindari karena dipercaya mendatangkan nasib buruk.

Sekarang, sih, keharusan menghias rumah, memenuhi tempat makanan dan memakai baju serba baru sedikit bergeser tergantung keadaan ekonomi. Nggak sampai harus memaksakan diri demi segala hal yang ‘baru’. Hanya saja, masalah warna tidak dapat ditolerir. Jika saja ada yang mengenakan pakaian berwarna gelap di acara kumpul keluarga, dia tidak akan luput jadi bahan omongan.

Filosofi di belakang keharusan serba baru itu hanya sebagai lambang menjadi manusia dengan โ€˜kulitโ€™ yang baru, yang lebih baik. Meninggalkan segala yang buruk (yang harus dibuang) di belakang dan menyambut serta menjalani tahun yang baru dengan semangat dan keberuntungan sebagai manusia baru. Hmm, tidak terlalu berbeda dengan Tahun Baru Masehi bukan?

Selain itu, pada Malam Imlek, seluruh lampu di rumah harus nyala terang-benderang sepanjang malam. Batas waktu menyapu dan membersihkan rumah adalah sebelum Malam Imlek. Begitu menginjak tengah malam sampai hari Imlek, rumah tidak boleh disapu. Makanya, di rumah, bersih-bersih biasanya dilakukan sejak seminggu sebelum Imlek. Rumah yang terang dipercaya dapat terlihat oleh dewa keberuntungan yang akan berkeliling di Malam Imlek, lalu menyapu di hari Imlek diibaratkan menyapu semua rezeki keluar, makanya SANGAT dilarang.

Di hari Imlek, kegiatan menggunting, mencuci, memotong, atau memecahkan sesuatu, lagi-lagi dipercaya dapat mendatangkan nasib buruk. Makanya, kalau mau potong rambut, kuku, keramas, atau lainnya harus dilakukan sebelum Malam Imlek. Intinya, kita nggak boleh mengurangi atau membuang apa yang ada pada kita di hari Imlek agar rezeki tak berkurang (nggak terpotong).

Akan tetapi, tradisi lain yang paling dikenal adalah angpao merah. Setiap orang yang sudah berkeluarga atau memiliki penghasilan yang lumayan, diwajibkan memberi angpao merah sebagai tanda memberikan doa dan membagikan keberuntungan. Dalam hal ini, angpao diberikan kepada orang yang โ€˜kurangโ€™ (dalam hal usia, maupun posisi derajat dalam keluarga) oleh si โ€˜lebihโ€™ agar si penerima kecipratan keberuntungan dan kemakmurannya. Selain itu, buat penerima yang masih lajang, angpao juga dianggap sebagai lambang doa agar segera mendapatkan jodoh.

Tradisi lainnya, tentu saja nggak lain, nggak bukan, mengenai makanan yang dihidangkan. Istimewa sudah pasti, layaknya setiap Lebaran ada ketupat atau opor. Saat Imlek, ada beberapa makanan yang kerap hadir setiap tahun menghiasi meja makan. Daging Babi pastinya, kemudian jeruk, kue keranjang, ikan bandeng adalah menu inti di hari raya. Oke, meski tidak semuanya, tapi sebagian besar menunya pasti non-halal karena mengandung daging babi. Saya sendiri, kurang suka karena terlalu berlemak dan berminyak. Untungnya, ada menu-menu lezat lainnya yang masih bisa saya cerna.

Menu favorit yang hampir selalu ditunggu-tunggu semua anggota keluarga adalah Sup Hisit yang berisi kepiting beserta telur, suwiran daging ayam, dan sirip ikan hiu. Sebenarnya, di restoran chinese food, menu ini juga suka ada, tapi kebanyakan pelit isi dan tidak menggunakan sirip ikan hiu karena mahal. Satu gram sirip ikan hiu ini bisa dijual seharga 700 ribu sampai satu juta rupiah (HAH!) yang menjadikan menu ini begitu spesial. Oke, call me mean girl karena mengonsumsi sirip ikan hiu, mungkin, salah satu kejahatan terhadap hewan, but it’s kinda temptation that I can’t resist. ๐Ÿ˜›

Menu ini akan ada di Malam Tahun Baru Imlek (Chinese New Year Eve) dalam jumlah yang terbatas karena berebutan dengan anggota keluarga lain, he he he…

Menu lainnya di keluarga saya adalah aneka masakan babi. Mulai dari chu tuโ€”sup perut babi, bakso goreng, ham choy konโ€”babi sayur asin, babi panggang, babi tim, haysomโ€”masakan teripang, babi kecap, sampai terkadang tersempil juga rendang di meja. Selain itu, tumisan aneka sayur yang layaknya ada di restoran chinese food.

Mengenai kebiasaan keluarga, saya dan keluarga inti akan menghabiskan makan malam saat Malam Imlek di rumah kakak dari Mimo. Lalu, keesokan harinya, pas hari Imlek, saya akan berada di rumah nenek dari keluarga Papa. Biar adil gitu, he he heโ€ฆ Habis, berhubung kedua orangtua saya bontot (papa, sih, cuma anak lelaki bungsu dan punya dua adik perempuan lagi), hampir tidak ada kemungkinan kami akan tinggal di rumah pas hari Imlek. Habis, tradisinya adalah anak yang lebih muda harus menyambangi yang lebih tua atau dituakan. Dan, kami punya waktu sampai Cap Go Meh untuk menyambangi saudara-saudara yang dituakan itu.

So, Happy Chinese New Year!

 

P.S. Iโ€™ll post the pic later ๐Ÿ˜‰

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s