Pakai BB, dong!

Ujaran itu kerap ditujukan kepada saya.

Di zaman sekarang, siapa sih, yang nggak memegang BB di tangannya? Jika dulu, orang lazim bertanya ‘nomor telepon kamu berapa’, sekarang berganti menjadi ‘pin BB kamu berapa’. Saya yang bukan pengguna BB sampai gemas kalau mendapati pertanyaan demikian.

Nggak semua orang pakai BB kaliii…

Memang sih, mayoritas orang yang saya kenal, mungkin 95% diantaranya, adalah pengguna ponsel pintar tersebut. Bahkan, dalam satu lingkup teman sepermainan saya, hanya tinggal saya yang tidak menggunakan BB. Sejak masih baru dua orang saja yang menggunakan sampai sudah semuanya menggunakan BB, saya tetap bergeming menghadapi ajakan mereka untuk menggunakan BB.

Bukan, bukan karena saya membenci teknologi, tetapi ada banyak pertimbangan dan faktor yang menjadikan saya semakin enggan menggunakannya. Biasanya, sih, saya ngeles dengan menjawab: habis BB pasaran sih… Hi hi hi… Kalau sudah begitu, biasanya, orang yang nanya juga langsung malas.

Saya nggak memungkiri fungsi BB yang memberikan kemudahan-kemudahan bagi penggunanya. Katanya, sih, berkomunikasi jadi lebih lancar dan jarak jadi nggak berpengaruh. Belum lagi fitur messenger yang memungkinkan sesama pengguna BB berkomunikasi tanpa batas dengan gratis. Mau kirim teks, gambar, bahkan suara, semua bisa. Maka tak heran, jika di setiap tempat, saya menemukan orang-orang yang menunduk sibuk membaca atau mengetik dengan BB-nya.

Sudah tahu begitu, kenapa saya tetap keukeuh hidup tanpa BB?

Pertama, masalah selera. Saya nggak pernah suka tuh, dengan modelnya yang menurut saya ‘segede gaban’ dan nggak cantik. Besides, saya hampir selalu memilih ponsel clamshell seperti selama ini.

Selanjutnya, beberapa BB kemudian mulai ‘mengecilkan tubuhnya’ sih, tapi bagi saya tetap saja nggak nyaman mengetik di tuts mini-mini itu, apalagi dengan kuku yang panjang. Bisa-bisa, saya malah kesal karena salah ketik melulu dan sakit jempol.

Selain itu, kejengkelan terbesar saya terhadap BB diakibatkan oleh para pengguna BB sendiri. Ibaratnya:

okay,you have everything you need in your palm, tapi kan, bukan berarti lo nggak butuh orang lain dalam hidup lo!

Pengalaman dicuekin sama orang ber-BB dan makan ati ngobrol sama orang ber-BB bikin saya makin anti sama BB. Belum lagi, nungguin orang makan lama banget gara-gara lebih sibuk megang BB.

Hellooo, nggak bisa yah, makan dulu, tanpa harus diganggu BB? Nggak asyik banget hidup lo makan aja nggak bisa dinikmati.

Nah, dengan pandangan dan pengalaman itulah saya bisa menjadi BB-haters. Eh, memang nggak semua pengguna BB seperti itu kelakuannya, tapi sebagian besar yang saya dapati demikian adanya. Bahkan, ada seorang teman yang dulu sama sebalnya dengan saya karena suka dicuekkin gara-gara BB, ketika menjadi pengguna BB sama saja seperti yang lain.

Saya nggak mau jilat ludah seperti itu. Yah, meskipun belum tentu, seandainya pakai BB, saya juga jadi seperti mereka. Tapi tetap saja, sampai sekarang, saya belum ada ketertarikan untuk menggunakannya. Toh, tanpa BB saya tetap dapat berkomunikasi dan dihubungi dengan mudah oleh orang-orang yang membutuhkan saya.

 

 

Advertisements

Author: putrikatak

Love to write and live by writing. Like frogs, stars, rains, and the color of blue.

2 thoughts on “Pakai BB, dong!”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s