saya dan memasak

Salah satu hobi saya adalah memasak. Ada waktunya, saya begitu senang memasak sehingga setiap minggu yang saya lakukan adalah mencoba berbagai resep. Saat itu, memasak seolah menjadi bagian dari hidup saya, padahal seingat saya, saya masih duduk di sekolah dasar tingkat akhir. Jadi, saat di akhir minggu anak-anak lain sibuk menentukan mau ke mana, saya justru memikirkan resep mana yang mau saya coba hari ini. Beberapa teman dekat yang tahu kebiasaan ini, terkadang sengaja main ke rumah untuk menjadi kelinci percobaan mencicipi masakan saya.

Mengenai jenis resep yang dimasak, saya lebih suka memasak (sayur, lauk, dsb) dibandingkan memanggang kue. Proses membuat kue lebih ribet dan kurang bebas untuk dimodifikasi karena resiko gagal (nggak matang, bantat atau keras) lebih tinggi dibandingkan memasak lauk yang bisa dimodifikasi langsung di ‘tengah jalan’. Belum lagi, memanggang kue, butuh persiapan sebelum, saat, dan setelah memanggang. Makanya, saya lebih suka memasak sayur atau lauk, terutama masakan italia dan cina yang cenderung simpel dan praktis.

Satu hal yang saya sukai dari memasak adalah prosesnya. Bayangkan, dari bahan-bahan yang sebagian besar nggak enak (untuk dimakan begitu saja) bisa bersatu membentuk cita rasa tertentu. Belum lagi, perubahan warna atau tekstur bahan yang dimasak itu bagaikan sebuah trik sulap. Senangnya…

Namun, seiring waktu, saya mulai kehilangan waktu untuk memasak (atau memang saya saja yang tidak menyisihkan waktu). Menginjak gerbang SMU, saya sudah jarang masuk ke dapur. Hanya saat-saat tertentu saja, seperti hari libur atau hari raya. Proses memasak yang kadang tidak singkat membuat saya enggan menyisihkan waktu khusus. Semakin banyaknya tempat makan enak dan menarik juga mendukung rasa malas saya untuk memasak. Akhirnya, memasak buka lagi menjadi bagian hidup saya, melainkan hobi yang dilakukan kalau sempat saja.

Belakangan, saya kembali meluangkan waktu untuk menekuni hobi lama ini, tapi baru sebatas browsing resep, beli buku-buku resep, lalu dibaca dan dipelajari. Ya, saya memang tipe yang mempelajari dan mengendapkan resep dulu sebelum praktek. Bukan nggak mungkin, resep itu saya modifikasi sesuai bahan yang mudah didapat atau sesuai selera saya, he he… Untuk prakteknya, saya masih suka menunda-nunda dan memilih bermalas-malasan atau jalan-jalan di hari libur.

Sekarang, buku resep, kertas-kertas print berisi resep, dan potongan-potongan kertas/ karton resep dari mana-mana menumpuk untuk dipraktekkan. Hmm, kira-kira kapan, yah?

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s