pretending…

Mungkin, perasaan saya persis seperti orang yang membuat gambar di atas. Somehow, daripada dipandang ‘beda’ oleh orang lain, lebih baik ketika orang-orang di sekeliling tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi atau rasa pada diri saya.

Dulu, saya mengakui bahwa saya baik-baik saja setelah putus dari pacar terakhir yang juga sahabat saya. Sebenarnya, perasaan saya tidak sebaik itu, hati saya tidak setenang itu, dan sakit hati saya tidak sedangkal itu. Tapi, saya harus baik-baik saja demi menjaga lingkungan persahabatan kami. Saya tidak ingin akibat hubungan kami yang berakhir, teman-teman sepergaulan kami ikut menanggung retaknya persahabatan.

But now… I’m doing just fine…

Sama seperti halnya dengan orang-orang yang sekarang menganggap saya ‘dingin’ dan anti-komitmen. Saya akui, apa adanya saya sekarang, sedikit banyak terbentuk karena pengalaman dan lingkungan. Pengalaman dikecewakan dan sakit hati, memang membuat saya enggan membuka hati dan menjalin hubungan dari awal kembali.Β  Melihat lingkungan di sekeliling, bagaimana hubungan yang paling manis bisa berakhir , pertunangan yang paling indah bisa batal, dan pernikahan yang paling ideal pun bisa cerai, bagaimana saya bisa percaya pada yang namanya komitmen?

Oke, oke, sebelum orang (teman) yang membaca tulisan saya ini protes, saya juga mau mengakui…

Bukannya saya benar-benar anti-komitmen dan tak butuh pasangan. Ada kalanya, saya punya kerinduan untuk merasakan manisnya masa pacaranΒ  dan gelinya butterfly in my stomach. Saya akui, memiliki seseorang untuk diajak berbagi segala hal merupakan hal yang menggembirakan. Akan tetapi, tidak lantas menjadikan saya kesusu mencari dan menargetkan diri untuk punya pasangan.

Sayangnya, budaya di negara ini mengakibatkan perempuan seusia saya memasuki wilayah ‘lampu kuning’ untuk segera menemukan pasangan dan menikah. Saya sih, santai, tapi lingkungan sekeliling saya mana bisa santai. Mereka masih mengkhawatirkan stigma perawan tua yang kerap menempel pada perempuan-perempuan yang ‘telat’ nikah.

Sebaliknya, lelaki di usia saya justru masih dibebaskan mencari jati diri dan merintis karier. Orang malah heran melihat lelaki di bawah 30 tahun menikah. Cih, lagi-lagi, saya merasa kesal dengan budaya patriarki yang sangat ‘membela’ laki-laki.

Tuh, kan, bukannya saya tidak memiliki pemikiran ke depan dan tidak ingin menikah (meski sempat sih, pemikiran ini terlintas, he he hee…), tapi memang belum waktunya saja. Saya nggak mau pacaran atau menikah hanya karena tradisi, diburu waktu, atau tekanan lingkungan. Agree?

Pic: here

Advertisements

7 thoughts on “pretending…

  1. Nel…aku juga kangen rasa “butterfly in my stomach” sptnya udah lama tdk merasakan hal itu, krn terlalu banyak sakit yg gue lalui 😦

  2. it takes time to know who is your right person. guess what? I need five years to know that he’s my right person. So, how about you?
    Just take your time. I’m not the one who always ask you about your love story, hehehe πŸ˜‰
    we are only 26 years old, loy. you have so much time to do what you think you want to do. it’s about a time. now you just wait for the right time to the right person. Someday, he’ll come to you or….God will sent someone whom be the best for you πŸ™‚

  3. Neng:
    πŸ™‚ Sabar yaaah…

    Deeth:
    Yap! Tapi bagaimana dengan orang yg kita kira the right tapi tidak sebaliknya, i’m not his right person…? Bicara relationship gak pernah ada ilmu pastinya dan i’ve been trying to understand it all my live but still haven’t got any clue, he he he…
    Tapi gue selalu percaya ada/ tidak adanya jodoh untuk gue, semua yg terbaik yg Dia beri πŸ˜‰

  4. I miss that moment too..
    Saya 32 tahun dan predikat itu sudah menempel pada saya, masih banyak hal yang harus dikerjakan dalam menunggu waktu itu datang. right? πŸ™‚
    salam kenal putri katak

    1. Hei Nona Manis… πŸ™‚
      Betul! Lot’s things to do while waiting… Saya juga masih banyak mimpi untuk dikejar. Beruntungnya, saya nggak pernah kesepian karena ada banyak perhatian dan cinta mengelilingi dari keluarga dan sahabat! Good luck to find u’r right one πŸ˜‰

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s