Saya di mata Dia

Izinkan saya berbagi lini massa seorang kawan mengenai diri saya di blog ini. (Again) kita tak pernah tahu arti diri kita sendiri di mata orang lain dan saya tersanjung oleh pemikiran Widya Aryo Damar pemilik akun @rio_damar ini terhadap diri saya. Dia bercerita tentang saya di akun Twitternya pagi ini…

 

Selamat pagi! Sekadar berbagi kisah pagi, nih. Jd, dulu gue punya hobi ngumpulin temen dr berbagai ras dan suku. Maklum, anak kuliah budaya.

 

Menurut gue perbedaan suku dan ras itu menarik, karena mereka masing-masing memiliki perspektif berbeda dalam menyikapi hidup.

 

Gue suka mengumpulkan banyak perspektif untuk satu subjek saja. Semakin banyak perspektif yang bisa dihadirkan, semakin seksi subjeknya.

 

Salah satu sahabat gue yang paling baik bernama Nelly. Dia adalah keturunan Tionghoa. Nyaris totok. Ini akun tweet-nya >> @nelleyneeh

 

Dulu dia ambil sastra, sementara gue ambil lingusitik.

 

Anak linguistik merasa dirinya lebih prestise dari anak sastra. Karena kami belajar ilmu bahasa yg secara akademis bs dipertanggungjawabkan.

 

Jadi, jujur aja, gue agak gengsi kalau baca materi-materi yang sifatnya fiksi. Terserah, dari Joko Pinurbo sampai Jane Austen.

 

Nah, si Nelly Nelly ini, gokil bngt kl kuliah sastra; selalu bkin makalah yang di bagian belakangnya ada daftar pustaka yg mengintimidasi πŸ™‚

 

Nelly bukan tipikal mahasiswa yang harus duduk di depan saat kuliah berlangsung. Dia suka duduk di belakang sama gue.

 

Tapi, biarpun duduk di belakang, catetannya selalu lengkap.

 

Jadi, gue tinggal fotokopi! Hahahaha

 

Nah, di satu sisi, si Nelly Nelly ini, bikin gue mikir, “Emang belajar sastra segitu enaknya ya? Ini anak napsu banget kl bikin makalah.”

 

Jadi deh, yang tadinya gengsi doang, berubah menjadi ‘gengsi-gengsi penasaran’ sama sastra.

 

Nah, kebetulan kita ambil kuliah gender. Ini anak emang mengaku feminis. Awalnya gue takut karena feminis itu galak. Sumpah. Galak.

 

Tapi, bersama Nelly, gue menemukan bahwa selalu ada yang bisa ditertawakan menyoal konstruksi hubungan laki-laki dan perempuan.

 

Nelly membuat feminisme begitu menyenangkan, karena ternyata, bisa disikapi dengan lebih santai dan cerdas. Nggak cari-cari masalah, gitu.

 

Kemarin gue minta dibikinin sinopsis sama Nelly, tentang salah satu novel yang berjudul #tempurung karya Oka Rusmini.

 

Tweet-tweet berikutnya adalah sinopsis yang ditulis Nelly melalui akun @nelleyneeh mengenai novel #tempurung

 

Akibatnya, saya jadi tersadar telah beberapa lama mengabaikan pemikiran dan idealisme saya mengenai feminisme dan gender. Saya rindu…

Advertisements

Author: putrikatak

Love to write and live by writing. Like frogs, stars, rains, and the color of blue.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s