teori absurd mencari cinta seorang kawan

Hmmm… It’s been a while since I’m thinking or writing about relationship.

Sekarang, saya mau posting teori iseng seorang teman di kantor mengenai mencari jodoh.

Saya lupa kenapa tepatnya sehingga bisa terlibat dalam percakapan ini dengan dia. Seingat saya, saat itu, kami dalam perjalanan pulang sehabis makan malam dan nongkrong sepulang kantor.

1. Lokasi Itu Menentukan

“Nel, kita musti sering-sering nongkrong di kafe or resto yang ada di daerah Sudirman dan sekitarnya, nih. Jangan Gading (maksudnya Kelapa gading) melulu,” katanya sambil menyetir. Saya yang lagi bengong melihat ke luar jendela otomatis bertanya ‘kenapa’.

“Menurut gue, lokasi itu menentukan. Kalau lo pengen nyari jodoh yang agak berkelas, alias eksmud (eksekutif muda), lo harus ada di tempat para eksmud berkumpul,” demikian jelasnya. Saya pun masih diam terpaku karena bingung dia menyinggung topik ini ketika dia kembali melanjutkan…

“Eia, lo lagi berpikir mau nge-gym juga, kan. Itu bisa jadi tempat cari jodoh juga, tuh,” katanya. Saya pun merapal tentang cowok gym yang notabene doyan sama laki juga. Oke, salahkan saya punya pikiran itu padahal belum tentu begitu, lagian saya juga nggak suka cowok berbadan ‘besar’ yang suka pakai kaos kekecilan untuk memamerkan tubuhnya.

Namun, teori saya disangkal mentah-mentah olehnya.

“Jangan salah! Nggak semuanya doyan laki juga kali. Banyak kan, eksmud yang punya hobi nge-gym karena udah peduli dengan kesehatan dan untuk menunjang penampilan. Lagian nge-gym udah jadi bagian dari gaya hidup kali,” balasnya.

Oke, tapi saya tetap nggak suka cowok berbadan ‘besar’ or penuh tonjolan.

2. Penampilan (Juga) Menentukan

“Terus kita harus dandan, Nel. Penampilan kita juga harus oke kalau mau dilirik. Makanya, biasain juga pake heels, tuh,” ujarnya lagi. Rupanya, kita berlanjut ke teori selanjutnya, nih. Dia memang penggila heels, padahal tubuhnya sudah tinggi menjulang. Sebaliknya, saya pencinta flat shoes yang tingginya semampai, semeter tak sampai. (Upss, agak lebay, sih. Masih ada kok, satu meter.)

Di kantor pun (yang merupakan kantor kosmetik), saya paling susah disuruh ber-make up. Hanya bila terpaksa karena diharuskan atau ditarik oleh orang kantor untuk didandani, saya tampil ber-make up. Ya ampun, kerja di Pulogadung yang banyak pabriknya pakai make up? Mo dilihat siapa? Supir truk? Alhasil, saya memang sering dikira lebih muda dibandingkan usia saya sebenarnya, he he he…

3. Jasa Mak Comblang

“Eh, gue punya temen mau gue kenalin nggak? Hobinya traveling juga kayak lo. Dia pernah bilang pengen nyari cewek yang dewasa dan gue langsung inget lo,” ujarnya kemudian. Daaaan, ini bukan pertama kalinya dia berusaha mengenalkan saya dengan temannya. Haduh!

Saya sih, tidak masalah jika ada teman yang berniat mengenalkan saya dengan temannya. Saya bukan pembenci atau anti-mak comblang. Bagi saya, berkenalan dengan orang baru itu seru, membuka networking dan memperluas pergaulan. Tapi emang bete sih, kalau dari awal sudah ada niat menjodohkan dari yang mau ngenalin.

Padahal eh, padahal yah, teman saya ini juga masih single. Wong, daripada menjodohkan saya dengan teman-temannya, kenapa juga nggak dia duluan? Ya toh, ya toh?

4. Ujung-ujungnya

“Kalau nggak begitu, ujung-ujungnya, biasanya emang jadian ama temen maen sendiri, Nel. Temen gue juga banyak tuh, yang akhirnya jadiah nggak jauh-jauh dari temen,” ceritanya. Nah, topik satu ini yang mengakhiri teori-teori absurd dia mengenai mencari jodoh. Kami pun sama-sama terdiam sebelum berpisah, memikirkan siapa teman yang cukup potensial dijadikan pacar, ha haa…

Yak, sekian postingan teori absurd mencari cinta ini.

Sebenarnya sih, semua teori itu benar adanya. Dulu, saya pernah menulis rubrik Amor di majalah pun mengemukakan poin yang hampir serupa. Intinya, semakin luas pergaulan, semakin eksis di tempat baru, kemungkinan untuk bertemu teman baru (yang syukur-syukur menjadi jodoh kita) akan semakin besar juga.

So, bagaimana menurut Anda?

Advertisements

Author: putrikatak

Love to write and live by writing. Like frogs, stars, rains, and the color of blue.

4 thoughts on “teori absurd mencari cinta seorang kawan”

  1. jadi Ly mau menerapkan teori yg mana? kalau prediksi gue sih, nggak semuanya. ehem tapi teori yang terakhir sepertinya lebih baik nggak dicoba kembali, hehehe *ups*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s