Salary, Passion, Environment? You Choose…

Saya percaya, dalam bekerja, ada 3 hal yang menjadi pertimbangan tiap orang (terutama saya). Ketiga hal tersebut adalah penghasilan, minat, dan lingkungan.

Beberapa orang senang (dan puas) bekerja dengan penghasilan tinggi dan diiringi jabatan yang tinggi pula. Beberapa yang lain bangga memilih pekerjaan yang sesuai dengan minatnya (istilah zaman sekarang passion). Sisanya, awet dalam satu pekerjaan karena lingkungan tempat bekerja membuatnya nyaman. Yah, tidak dapat dipungkiri, lingkungan tempat bekerja juga menjadi penting karena lebih dari separuh waktu kita akan dihabiskan di sana.

Namun, tidak banyak orang yang cukup beruntung bisa mendapatkan ketiganya. Biasanya, orang lalu mengambil prioritas, hal mana yang lebih diutamakan.

Saya sendiri orang yang cenderung memilih bekerja sesuai hati. Bukannya tidak butuh, penghasilan otomatis tidak menjadi prioritas saya dalam memilih pekerjaan. Saya pernah merasakan bahagia bekerja di bidang yang benar-benar saya cintai. Cukup beruntung, lulus dari kuliah, saya langsung diterima bekerja di perusahaan yang bidang kerjanya adalah cita-cita saya selama kuliah, media massa.

Selama beberapa tahun menjadi jurnalis, saya tidak pernah merasakan bosan, lelah, atau berpikir untuk pindah jalur. Bekerja sampai larut, bekerja saat weekend, saya tidak pernah protes. Ada sih, keluhan atau umpatan tapi itu lebih dikarenakan tekanan saat itu, bukan karena benci pada pekerjaan saya.

Namun, ada yang berubah seiring waktu. Sekian tahun bekerja, orangtua mulai menanyakan hasilnya. Mereka melihat teman-teman saya satu per satu mengalami perkembangan karier, kenaikan pangkat, pertumbuhan penghasilan. Saya? Masih tetap di tempat, tak ada yang berubah.

Pada satu titik, saya juga berpikir. Hidup butuh biaya, tidak bisa selamanya orangtua menanggung hidup saya terus menerus. Jujur, selama jadi jurnalis saya belum bisa membantu orangtua secara berarti. Asal buat ‘jajan’ dan ‘main’ saya cukup, sedangkan untuk hidup saya masih minta ke orangtua.

Lelah mendapat peer pressure (tekanan lingkungan) terus menerus dan saya juga malu sendiri, akhirnya saya memutuskan beranjak. Saya berusaha mencari pekerjaan yang bisa memberi saya penghasilan lebih. Waktu itu, saya dihadapkan pada pilihan, minat atau penghasilan. Dan, saya memilih pekerjaan yang memberi penghasilan lebih.

Hasilnya, saya tidak bahagia. Saya merasa seperti robot. Weekend menjadi saat yang paling saya tunggu-tunggu. Jika waktu sudah kembali pada Minggu sore, saya merasa malas dan berat sekali kembali ke Jakarta untuk bekerja. Orangtua saya pun sudah tidak bisa bicara lagi. Mereka melihat sendiri bagaimana berubah dan tertekannya saya. Akhirnya, hanya 15 bulan saya bertahan.

***

Sekarang, saya menghitung kembali hari untuk kembali bekerja sebagai jurnalis. Saya me-reka ulang mimpi dan cita-cita saya, memulai lagi awal yang baru. Baiknya Tuhan, saya mendapatkan jalan kembali yang terbilang mudah, plus saya juga mendapat penambahan penghasilan dan bisa bekerja bersama sahabat saya kembali si Neng, bintang biru.

Kalau kamu, pilih apa?

Advertisements

3 thoughts on “Salary, Passion, Environment? You Choose…

  1. selamat menemukan kembali passion lo 😉
    menjawab pertanyaan lo, gue dengan sadar memilih mengikuti passion ‘mengajar’ dan ‘berbagi’, tanpa berpikir banyak tentang uang.
    tapi sejak Rasya lahir, gue berpikir ulang, biaya hidup di sini ga murah, pekerjaan yang sekarang Alhamdulillah bisa mencukupi bersama, tetapi alangkah menyenangkan kalau gue bisa melanjutkan profesi & menjadi psikolog. habis itu? mungkin buka praktek sendiri 😀

  2. kalau aku jujur aja lebih memprioritaskan uang. perkara waktu, aku berusaha mengaturnya sebaik mungkin.
    aku bersyukur karena aku bekerja di bidang yang aku suka, yaitu bahasa. aku sekarang bekerja di luar yang menuntut aku lebih baik lagi dari segi pengetahuan. tentang penghasilan tentu tidak perlu dikhawatirkan lagi.
    namun, aku tahu bahwa aku belum melakukan cukup. dan aku memang bermimpi untuk menjadi lebih ‘tinggi’ dari yang sekarang.

  3. Kalau saya lebih cenderung untuk mengikuti passion saya terlebih dahulu, karena saya yakin jika kita dapat bekerja sesuai hati maka cepat atau lambat karir kita akan meningkat, setelah karir kita meningkat maka otomatis penghasilan kita jg pasti bertambah.
    Selain itu bekerja dengan passion juga dapat membuat kita dapat lebih giat, semangat, tekun dan juga kita dapat menikmati hidup sehingga dari dalam diri kita terpencar energi yang positif yg secara simultan mengakibatkan lingkungan sekitar kita akan ikut terpapar energi positif dari dalam diri kita dan lingkungan sktr kita akan memberikan timbal balik berupa kenyamanan yg dapat kita rasakan…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s