Anak zaman sekarang…

Heyhooo…

Long time not writing here πŸ˜‰

Hari ini, salah satu orangtua student minta tolong saya berbicara dan membujuk anaknya untuk kursus bahasa Inggris.

Bapak ini punya tiga orang putri yang dia masukkan di EF dengan goal semua anaknya kursus sampai lulus Advance Level. Anaknya yang pertama sudah lulus tingkat Advance di EF, sedangkan yang dua masih berjalan.

Akan tetapi, Maret lalu anaknya yang ke-dua postpone karena mau fokus ujian akhir. Dia duduk di kelas 1 SMA. Putri bungsunya sih, masih kursus dan saya cukup kenal dekat.

Hari ini, bapak itu mengajak anak keduanya untuk melanjutkan kursus anak keduanya yang sempat postpone. Anaknya datang dengan setengah terpaksa dan ogah-ogahan.

Makanya, selesai re-interview, ayahnya minta saya meyakinkan anaknya kembali agar serius melanjutkan kursusnya.

Akhirnya, saya cuma bisa menyemangati anaknya dan berjanji akan mendengarkan keluhannya seiring kelas berjalan. Saya juga memberikan gambaran besar betapa ayahnya menanamkan investasi berupa ilmu kepada dirinya.

Malamnya, saya menemukan kasus student yang pamit les sama orangtuanya tapi malah jalan-jalan ke mall seberang. Astagaaa, nih anak benar-benar terlalu.

Jika merefleksi ke diri sendiri…

Anak-anak ini sungguhlah beruntung. Orangtua mereka mampu mengivestasikan jumlah rupiah yang tidak sedikit untuk masa depan anaknya.

Bandingkan dengan diri sendiri, meski tidak kekurangan, keluarga saya menganggap kursus adalah barang mewah dan bukan kebutuhan primer. Oleh karenanya, saya belajar bahasa Inggris terbilang secara otodidak. Saya pernah merasakan short course conversation sekali karena dibayarin kakak sepupu. Saat masih sekolah, teman-teman saya bisa mengambil kursus bahasa Inggris, les matematika, les fisika, les akuntansi, sedangkan saya harus memilih salah satu. Karena lemah di eksakta, jadilah saya hanya pernah les fisika kimia.

Makanya, rasanya saya mau marah pada anak-anak yang tidak menghargai jerih payah orangtuanya itu.

Entah perasaan atau kenyataan, anak-anak zaman sekarang ini terbiasa hidup enak dan mudah mendapatkan segala sesuatu sehingga kurang bisa menghargai apa yang mereka miliki. Mereka terbiasa hidup tinggal minta dan orangtuanya terbiasa selalu memberi saja.

Advertisements

2 thoughts on “Anak zaman sekarang…

  1. Ah, kan itu hanya sebagian anak zaman sekarang yang elo temuin Nel. Di luar sana, nggak kalah banyak kok anak yang menghargai jerih payah ortunya, cuma nggak kepantau radar lo aje πŸ™‚

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s