Between Job and Family

I got promotion!

Yep, setelah kembali ke EF, belum genap 5 bulan saya sudah mendapatkan promosi. Sebuah pencapaian, tentu saja!

Namun, justru dari promosi itulah awal saya mendapat “teguran” hari ini.

Kesibukan sebagai Center Director, jabatan baru saya, saya jalani sejak menjelang akhir tahun lalu. Sebagai newbie, saya tentu saja memiliki banyak PR dan tuntutan dari atasan. Terlebih, center yang saya pegang memang dari awal tidak dalam kondisi prima. Alhasil, saya memang sibuk bukan kepalang.

Dimulailah hari-hari kerja long hours saya. Saya sendiri bisa saja dibilang cenderung workaholic karena rasa lelah kerap tidak dirasa-rasa karena kerja menjadi prioritas. Hampir setiap hari saya di kantor dari masuk hingga tutup. Akibatnya, hari-hari saya hanya jadi rutinitas.

Bangun pagi langsung mandi dan siap-siap ke kantor. Bahkan, sarapan bisa saya skip atau lakukan di mobil. Di kantor, saya bisa menghabiskan waktu hampir 12 jam setiap harinya. Pulang, hanya sempat makan, mandi, lalu istirahat. Bahkan, tidur larut karena melanjutkan kerja pun kerap saya jabani.

Kalau dipikir-pikir, bisa gila saya!

Oleh karena itu, kompensasinya, weekend menjadi hari saya menyisihkan waktu untuk bersenang-senang dengan teman dan sahabat. Waktu luang saya yang terbatas hanya seminggu sekali tentu saja tidak cukup untuk keep in touch dengan semua orang. Ujung-ujungnya, keluarga yang dianggap ketemu tiap hari karena serumah hampir selalu saya korbankan.

Namun, hari ini, saya mendapat “teguran” dari adik saya yang mengeluh betapa susahnya untuk berbicara dengan saya yang notabene kakaknya sendiri, masih satu rumah pula. Sambil menggenang air mata dia mengemukakan kesulitannya hanya untuk berbicara dan bertukar cerita dengan saya belakangan. Meski dia laki-laki, kami memang sangat dekat, bahkan bila dibandingkan dengan adik-adik perempuan, saya dan dia hampir selalu bercerita tentang segala hal.

Dia mengemukakan pertanyaan: Apakah mencari uang menjadi begitu penting bila keluarga tercerai yang menjadi taruhannya?

Sebenarnya, kalimat itu bukan ditujukan kepada saya tapi orang lain yang sedang dia ceritakan. Tapi hal itu pun menyentil saya karena sebelumnya dia mengeluhkan betapa sulitnya meminta waktu saya sekarang.

Saya terlalu larut dan asyik dengan dunia pekerjaan saya hingga tanpa sadar saya mengorbankan keluarga saya. Saya selalu menomorsekiankan keluarga karena menganggap enteng semuanya masih satu rumah, lebih mudah ketemu. Kenyataannya? Justru sama orang serumah saya sudah jarang meluangkan waktu untuk ngobrol, sharing, atau tukar pikiran yang sebelumnya suka kami lakukan.

Nah, peristiwa ini jd self remimder saya pribadi  untuk bisa memberi jeda dari pekerjaan. Pekerjaan akan selalu ada, tiada habisnya,  sejauh mana saya akan lakukan tanpa mengorbankan orang-orang yang saya sayang?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s