#CatatanPerempuan : Waktu Kerja Perempuan

Agak terlambat sih, saya menanggapi berita ini tapi izinkanlah saya tetap berpendapat.

Beberapa waktu lalu, sosial media maupun berita nasional ramai meributkan soal gagasan Bapak Wakil Presiden untuk mengurangi waktu kerja perempuan. Di era demokrasi kini orang akan mudah berpendapat pada umumnya, pro dan kontra wajar bermunculan bahkan hingga mengundang debat.

Mungkin, para Ibu akan menghujat saya atau perempuan lain juga ikut mengucap booo terhadap pendapat saya, he he he… Kenapa?

Saya termasuk yg kontra bila gagasan tersebut direalisasikan.

Sejak kuliah, saya selalu pro dengan ide kesetaraan gender. Pada kenyataannya, meskipun perempuan sekarang “terlihat” seimbang, gender bias masih terus terjadi tanpa disadari. Menurut saya, salah satunya gagasan Bapak Wakil Presiden tersebut justru semakin melegitimasi posisi perempuan sebagai manusia nomor dua setelah laki-laki.

Dengan dalih, agar ada waktu mengurus rumah tangga, perempuan mendapatkan “keuntungan” untuk pulang kerja lebih awal. Kelihatannya sih, menguntungkan atau enak untuk perempuan mendapatkan privilege seperti itu, tetapi kenapa harus perempuan?

Toh, tanggung jawab mengurus anak atau rumah tangga merupakan tanggung jawab dua pihak (ibu dan ayah), bukan?

Lantas mengapa hanya perempuan saja yang harus pulang lebih awal? Seolah-olah urusan rumah tangga hanyalah urusan perempuan dan (lagi-lagi) urusan bekerja adalah urusan laki-laki.

Nah, seperti yang saya kemukakan di awal, gagasan ini seolah-olah kemunduran dari usaha kesetaraan gender dan legitimasi perempuan bukan “kodratnya” untuk bekerja mencari nafkah sehingga masih dibebani tanggung jawab mengurus rumah tangga.

Mengapa tidak para suami/ ayah yang diimbau untuk bersama-sama memikul tugas rumah tangga bersama Ibu? Mengapa hanya Ibu saja yang harus berurusan dengan anak dan keluarga?

#CatatanPerempuan : kursi perempuan

Oh tenang, saya tidak ingin bicara politik di sini, tapi kursi di kendaraan umum. Anda tentu sudah tahu adanya wilayah khusus perempuan di kendaraan umum, seperti gerbong khusus perempuan di kereta atau sisi perempuan di bus Transjakarta. Nah, itulah yang hendak saya bicarakan di sini.

Saya bukan penumpang yang pro terhadap kebijakan tersebut. Bagi saya kebijakan tersebut bagaikan legitimasi terhadap lemahnya kontrol diri lelaki dan hal itu dimaklumi. Alih-alih lelaki mendapatkan sanksi, perempuan justru dijauhkan dan harus ditempatkan di area khusus.

Memang sih, dalih melindungi dan memberikan rasa aman bagi perempuan seolah dapat diterima. Namun, kenyataannya rasa aman tidak otomatis didapatkan dengan menempatkan sesama perempuan di satu tempat.

Seringkali, karena merasa sama, perempuan justru lebih tega terhadap sesama perempuan. Perempuan di bagian “khusus” perempuan umumnya  lebih tega dan tidak mau mengalah. Melihat sesama perempuan yang kesulitan, misalnya perempuan hamil atau pendek, mereka tetap cuek dan tak peduli untuk memberikan tempat duduk mereka. Nah, pikir dua kali deh, sebelum bilang perempuan lemah dan berhati lembut.

#CatatanPerempuan: kemudi tergantung gender

from: weheartit
from: weheartit

Saya kerap mendengar komentar ‘miring’ tentang pengemudi wanita.

Di jalan, setiap ada pengemudi mobil yang terlihat kikuk, kagok, atau kurang ahli dalam memarkir mobilnya, kerap terdengar komentar: “Ah, pasti yang nyetir cewek!”.

Sedihnya, komentar ini tidak hanya keluar dari mulut laki-laki saja, tapi juga perempuan sendiri.

Lantas, apakah pengemudi yang tidak mahir mengemudikan mobil pasti berkelamin perempuan?

Tidak juga.

Sebaliknya, saya juga punya teman laki-laki yang cara mengemudinya ampun bikin mual yang menumpang. Belum lagi, perhitungannya kalau memarkir mobil sering meleset dan pernah menabrak mobil lain yang sedang diam-diam saja di parkiran.

Sebenarnya, siapa sih yang menjadikan mengemudi mobil sebagai ‘hal lelaki’, a guy thing, sesuatu yang maskulin sehingga diidentikan sebagai keahliannya lelaki?

Bahkan, saking sombongnya, beberapa lelaki kerap gengsi berulang-kali maju-mundur bila sedang memarkir mobil karena dalam benak mereka “hanya perempuan yang tidak bisa parkir.”

Kalau Anda?

#CatatanPerempuan: anggap saja ini prolog

Sebenarnya ada banyak catatan dan draft tulisan saya yang tercecer. Akhirnya, mereka hilang tak berbekas.

Beberapa waktu lalu, pesan singkat seorang teman di WhatsApp mengingatkan saya pada sebuah keinginan yang tertunda. Maka, saya bertekad menyicil draft-draft tulisan yang sempat tertunda plus ide-ide baru di blog ini.

Jadi, anggap saja ini adalah prolog.

Mengapa harus #CatatanPerempuan?

Sejak saya duduk di bangku kuliah, topik mengenai perempuan selalu mendapat perhatian saya. Akhirnya, tanpa bermaksud melabeli diri dengan ‘feminis’, beberapa kawan kerap menambahkan embel-embel tersebut pada diri saya.

Sejujurnya, saya lebih nyaman menyebut diri genderis dibandingkan feminis, karena saya tidak hanya menginginkan keadlian bagi perempuan tapi juga laki-laki. Saya percaya, perempuan maupun laki-laki sejajar, seimbang, sederajat.

Tulisan #CatatanPerempuan merupakan opini dan buah pemikiran saya pribadi, bukan penghakiman apalagi hal mutlak.

Jadi, mari kita mulai petualangan kata ini!