What a busy weekend of mine…

Ada beberapa hal yang tidak dapat dibeli dengan uang. Salah satunya adalah berkumpul bersama dengan keluarga dan sahabat.

Weekend ini, saya lelah bukan kepalang. Selain karena pekerjaan yang sedang banyak-banyaknya, saya juga memiliki banyak janji temu dengan beberapa sahabat.

Kebetulan, semua undangan bertemu datang hampir bersamaan. Ada dua undangan ulang tahun dan satu janji temu.

Awalnya, semua undangan numpuk di hari yang sama. Untung saja salah satunya mengganti tanggal janji maju sehari. Jadilah hari Sabtu dan Minggu ini saya cuma numpang tidur di rumah.

Akan tetapi, saya happy menjalani semua itu karena di antara kesibukan masing-masing, bertemu dan berkumpul menjadi hal yang langka untuk dilakukan sering-sering, padahal bagi saya kumpul dengan sahabat sama saja dengan rechargedΒ  semangat. Berbagi cerita, dari hal penting sampai nggak penting, ampuh menjadi semangat baru menghadapi hari-hari berikutnya.

Somehow, di antara orang-orang terdekat, kita dapat lebih jujur dan menjadi diri sendiri tanpa perlu khawatir akan komentar negatif atau tidak diterima. Makanya, berada di antara mereka kita lebih lepas dan bebas, seolah tiada beban.

So, this weekend was splendid to me!

Bagaimana weekend Anda?

Apalah arti sebuah nama?

Ya, kita tentu cukup familiar dengan pepatah tersebut.

Namun, bagi beberapa orang, termasuk saya, nama merupakan identitas diri yang melekat seumur hidup. Oleh karena itu, di sampul atau amplop undangan kerap ditulis permintaan maaf apabila terjadi kesalahan penulisan nama atau gelar.Β 

Seorang trainer pelatihan yang pernah saya ikuti mengatakan bahwa nama adalah kata nomor satu bagi setiap pemiliknya. Makanya, di tengah keramaian kita akan menengok bila mendengar ada yang menyebut nama kita, padahal belum tentu kita yang dipanggil.

Bagi beberapa kebudayaan, nama memiliki muatan mistis dan doa. Karenanya, kita tidak bisa seenaknya menggunakan atau mengganti nama. Ada ritual khusus untuk mengganti nama seseorang.

Bagi saya pribadi, nama merupakan hal penting yang mewakili pribadi diri. Pasti ada asosiasi tertentu di kepala seseorang ketika mendengar nama teman atau kenalannya disebut.

Oleh karena itu, saya merasa sangat kecewa dan kesal ketika seorang teman yang sudah lama saya kenal, sejak Sekolah Dasar, salah menulis nama saya di undangan pernikahannya.

Bayangkan selama puluhan tahun berteman, bahkan menulis nama saya yang hanya satu kata saja dia bisa salah. Betapa tersinggungnya saya. Apakah selama ini, dia tidak benar-benar menyadari keberadaan saya? Apa arti pertemanan selama ini bila, bahkan, hal paling dasar saja dia bisa salah?

Entah, harus bagaimana saya menyikapi hal ini… Menurut Anda?

People Changes, Not The Friendship

Menurut saya, waktu memang mampu melakukan segalanya.

Mulai dari menyembuhkan hati yang luka, memaafkan seseorang, membuat seseorang bertambah dewasa, juga mengubah seseorang.

Mengapa tiba-tiba saya bicara demikian?

Saya sedang bernostalgia, salah satunya membaca blog seorang teman dan memperhatikan perubahannya dari waktu ke waktu. Dia salah satu sahabat saya, sahabat terbaik sejak saya duduk di bangku SD. Persahabatan kami memang bukan tipe yang harus selalu bersama, tapi kami tahu, kami ada untuk satu sama lain.

Semasa sekolah selalu bersama, memasuki usia kuliah kami berpisah. Dia memilih kuliah nun jauh di Yogyakarta, sedangkan saya di Depok. Harus begitu, kami mengejar cita-cita dan mimpi kami masing-masing meski tidak dapat selalu bersama lagi. Entah, dia ingat atau tidak, ibunya salah satu pendukung dan yang membulatkan tekad saya untuk memutuskan mengambil kuliah di universitas negeri di Depok dibandingkan universitas swasta di Jakarta.

Setelah lulus, dia kembali ke rumahnya, sedangkan saya menetap di Jakarta. Kembali, tidak banyak waktu bertemu. Pekerjaan membuat kami sibuk, tapi beberapa kali, kami bertemu karena pekerjaan πŸ™‚

Berita mengejutkan datang ketika dia memberi kabar akan menikah dan pindah kembali mengikuti suaminya, tidak lagi di pulau Jawa, tapi ke Kalimantan. Jujur, berita itu membuat saya salah tingkah, harus gembira atau sedih?

Namun, ternyata, somehow, saya tidak terlalu kehilangan. Zaman sekarang, sudah ada banyak cara untuk tetap berhubungan dan saling memberi kabar. Salah satunya dengan membaca blog. Yah, untungnya, kami masing-masing memiliki blog pribadi.

Saya mengetahui berita kehamilan, kehilangan, kelahiran, dan perkembangan lain dari dirinya melalui blognya, selain Twitter tentunya. Sayangnya, saya malah kurang rajin meng-update blog ini, he he he…

Hari ini, saya membaca ulang tulisan-tulisannya dan menyadari betapa banyak dia telah berubah. Sebelumnya, dia banyak bercerita mengenai pacarnya, yang sekarang suaminya, keluarga terutama adiknya, lalu pekerjaannya, atau kehidupannya di Kalimantan. Sekarang, dunianya berpusat pada anaknya πŸ™‚ Hampir seluruh cerita dia sekarang mengenai perkembangan dan pertumbuhan jagoan kecilnya itu.

Sejujurnya, saya bahagia melihatnya [tepatnya membacanya] bahagia. Dita, you’re so grown up now, pals! Can’t wait till myself get there πŸ™‚

See, bagaimana waktu mengubah seseorang? Tapi untungnya, persahabatan kami tak pernah berubah, I miss you Deeth.

Hmmm, jadi wondering, sejauh apa saya telah berubah di mata orang lain, yah?

My ‘Holiday’ List

Heyho!
Lama tak berbagi di sini.

Sebelum memulai petualangan baru, saya punya 15 hari untuk beristirahat dan melakukan beberapa hal yang sebelumnya tak sempat atau saya tunda untuk dilakukan.

Kebiasaan, saya membuat check list apa saja yang ingin saya lakukan selama ‘liburan’ ini.

image

So far, saya sudah berhasil melakukan lebih dari setengah list saya πŸ™‚

Berada dalam urutan teratas adalah memasak untuk farewell di kantor. Sedihnya, saya sudah berupaya menyiapkan sesampai di kantor anak-anak lagi pergi makan siang. Habis, memang ada ‘insiden’ kehabisan gas yang membuat saya terlambat tiba di kantor.

Tapi kan, anak-anak memang biasanya makan telat 😦

Selanjutnya, masak untuk diri sendiri (ditambah adik-adik saya) selalu saya lakukan bila tidak ada urusan di luar.

Urusan menata buku memang baru sampai tahap mengumpulkan buku-buku saya yang tercecer dan mengembalikannya ke lemari. Saya belum sempat mendata dan mengelompokkan sesuai pengarang seperti biasanya.

Paling semangat, saya menyusun perkakas dan bahan scrapbook saya. Selama ini, saya cuma menaruhnya dalam satu keranjang besar, he he he.. Saking niatnya, saya sampai berbelanja dulu ke ACE untuk membeli drawer kecil, box-box, dan segala macamnya untuk membuat semuanya teratur dan memiliki ‘rumah’. Senangnyaaa…

Nah, hari ini, saya senang berhasil makan siang bersama sahabat saya, Nina. Entah, saya merasa dia (saya juga sih) sedang butuh waktu untuk bicara banyak hal berdua yang biasanya tidak bisa kami bicarakan saat ngumpul beramai-ramai. Makanya, saya niatkan untuk punya waktu ketemu dia di ‘liburan’ ini. Sayangnya, dia lagi sakit. Jadilah makan siang kami diwarnai juga dengan menunggu lebih dari 1 jam di ruang tunggu dokter πŸ™‚

Eh, tapi makan siang kami juga ditemani oleh dua sahabat laki-laki saya. Jadi, hepinya dobel! *senyum lebar*

Check list-nya juga dobel karena saya berhasil makan siang dengan Na sekaligus menghabiskan waktu lagi bersama para lelaki (No. 7).

Jadi, tinggal tersisa sedikit lagi dari My Holiday List πŸ™‚

my childhood bestfriend is getting married!

Bersahabat dengan Intan tidak pernah mudah. Tapi mengapa saya tetap bertahan dan persahabatan kami sudah berusia lebih dari separuh usia kami? Seorang sahabat tidak selalu mengatakan apa yang ingin kita dengar, dia lebih sering mengatakan apa yang orang lain takut kita dengar. Sebuah kejujuran yang kadang menyakitkan memang.

Seperti itulah persahabatan kami. Sifat yang tidak mirip tidak menjauhkan kami, tetapi membuat kami belajar memahami satu sama lain. Sepanjang persahabatan kami, tidak jarang pertikaian terjadi, namun pada akhirnya, kami akan kembali saling memaafkan karena, pada dasarnya, kami peduli dan menyayangi satu sama lain.

Namanya manusia, tentu saja Intan juga banyak kekurangan, demikian halnya dengan saya. Ada beberapa keputusan dan tindakannya yang, kadang, tidak dapat saya pahami. Selain itu, seiring berjalannya waktu, kesibukan menumbuhkan jarak di antara kami. Namun, lagi-lagi, hal itu tidak dapat menjauhkan dan memutuskan hubungan kami.

Hingga beberapa waktu lalu, tiba-tiba dia mengatakan akan segera menikah dan meminta saya menjadi bridesmaid-nya. Walaupun persiapannya tidak seperti bayangan saya ketika membayangkan salah satu dari sahabat saya akan menikah (Baca: saya tidak terlalu terlibat dalam persiapannya). Lamarannya saja saya nggak tahu. Sebagai bridesmaid saja saya baru tahu detail pestanya seminggu sebelum hari-H. Rapat juga hampir selalu kelupaan diajak or sekalinya diajak sayanya yang nggak bisa. ~woo, ini saya bridesmaid yang buruk atau memang cuma ‘judulnya’ saja bridesmaid~

Despite of all, saya turut bahagia untuk Intan. Menikah di usia 25 tahun adalah target hidupnya, meskipun akhirnya tidak terpenuhi karena di usia tersebut dia malah baru putus, setidaknya tidak meleset terlalu jauh. Ada banyak masalah dalam keluarganya yang menyebabkan dia ingin segera menikah dan membangun keluarga sendiri. Saya, meskipun tidak berpikir menikah adalah solusi dari segala masalahnya, tetap mendoakan semoga keputusannya untuk menikah membawanya pada kebahagiaan.

Sekarang, 4 hari lagi menuju hari-H. Saya semakin merasakan mules di perut (in a good way), antara tidak sabar tapi tidak ingin segera tiba hari-H. Di antara 5 sahabat yang saya panggil Gals, Intan-lah yang pertama akan menikah. Dan, kami berlima (minus Intan) justru akan datang tanpa didampingi pasangan masing-masing alias jomblo, he he he. Eh, yang satu ada pacar deh, tapi nun jauh di sana πŸ˜› Makanya, rasanya tidak tergambarkan deh, sahabat sejak kecil saya akan menikah!

me & intan years ago

let me tell you about…

Click to play this Smilebox scrapbook
Create your own scrapbook - Powered by Smilebox
Scrapbooking design created with Smilebox

Picture can says more than words.

If you wondering, I’ll say we’ve been together since… FOREVER πŸ˜€

Setiap orang yang baru pertama kali mendengar berapa lama saya bersahabat dengan cewek-cewek ini pasti melongo takjub. Saya sudah bersahabat dengan mereka (Ehm, sebenarnya ada 2 lagi yang tidak ada dalam foto) cewek-cewek ini sejak masih duduk di bangku SD. Yah, kalau dihitung dengan angka sudah lebih dari 15 tahun, sebuah hubungan (as if in a relationship) dalam kurun waktu tersebut tidaklah pendek. Jika ditanya mengapa bisa sampai selama itu, saya tak tahu harus menjawab apa. Hanya saja, persahabatan kami memang bukan tipe yang harus selalu bersama dan sering jalan bareng. Kami berenam tumbuh dengan karakter dan sifat yang berbeda-beda. Herannya, kami merasa ‘klik’ satu sama lain dan nyaman bersama-sama. Itulah, mungkin, yang menyebabkan kami selalu kembali kepada satu sama lain.

Dengan sifat dan minat yang berbeda-beda, kami sudah terpisah-pisah sejak SMU. Lalu, jurusan dan kampus kami saat kuliah pun berbeda-beda. Kami mengejar mimpi kami masing-masing tanpa harus saling mempengaruhi atau mengikuti satu sama lain. Were different and had accepted it from the beginning. Jadwal dan kesibukkan yang berbeda tentu menyebabkan kami tidak dapat bertemu sesering saat satu sekolah dulu. Ada kalanya, berbulan-bulan kami sibuk sendiri-sendiri dan tidak saling bertemu. Bahkan, kami pun jarang berkomunikasi lewat telepon atau SMS. Namun, secara otomatis, kami dapat saling merindukan satu sama lain hingga akhirnya menemukan waktu untuk kembali berkumpul.

Herannya, selama apapun kami berpisah, tiap berkumpul, kami langsung ‘klik’ kembali seperti cuma baru berpisah kemarin saja. Tanpa perlu prolog panjang lebar, pemanasan berjam-jam, atau rasa canggung, kami sudah dapat saling berbagi dan mencela satu sama lain di detik pertama kami kembali berkumpul. Jarangnya waktu bersama bisa menyebabkan kami lupa waktu saat berkumpul kembali. Rencana awal hanya makan siang bareng, bisa berlanjut sampai makan malam, he he he. Dan, waktu berpisah merupakan hal terberat yang kami rasakan setiap habis jalan bareng.

Eits, persahabatan yang lama itu bukannya tanpa masalah. Ribut, bertengkar, diam-diaman sudah beberapa kali mampir dalam persahabatan kami. Namun, kami selalu menemukan jalan keluar dari semua itu dan kembali bersama. Hanya di hadapan satu sama lainlah kami dapat menjadi diri kami sendiri, tanpa harus takut dibenci atau berbuat salah. Kesalahan menjadi pembelajaran, sifat yang berbeda menjadi ujian belajar bertoleransi dan menerima tanpa pamrih.

Semoga persahabatan kami bisa benar-benar sampai maut memisahkan!