Cerita Hari Minggu: Doa untuk Mendapatkan Jodoh

Sebenarnya sudah dari dua hari lalu terpikir mau bercerita tapi yah, seperti yang sudah-sudah, saya selalu saja melewatkan momen menulis saat ada ide. Akhirnya, ide-ide itu hanya menjadi list/ daftar tanpa pernah dikembangkan, he he he…

Jadi hari Minggu kemarin, saya menemani orangtua saya sembahyang ke vihara. Terus terang, saya niat menemani mereka karena ajakan makan Mie Encim Kartini favorit saya sejak kanak-kanak setelah dari vihara. Oops…. 😝 tapi saya bukan mau bercerita tentang restoran bakmie di sini. Ada hal lain.
Kembali ke vihara, saya memang bukan pertama kalinya ke vihara tapi setelah dibaptis menjadi Katolik sekitar 16 tahun yang lalu, rasa-rasanya baru kemarin saya kembali menginjakkan kaki ke Vihara. Waktu kecil hal yang paling tidak saya sukai dari sembahyang di vihara adalah asap hio dan efek pedihnya di mata. Sekarang juga, sih tapi sudah lebih bisa menahan dibandingkan dulu. Rasanya seperti mau mati. 😡

Vihara yang saya kunjungi terletak di Gang Tepekong, Kartini (yang saya lupa namanya). Sejak dulu, setiap habis Imlek orangtua saya sembahyang di sana untuk mendoakan shio-shio yang dianggap ciong (kurang baik peruntungannya) di tahun yang baru. Biasanya ada daftar shio apa saja dan balasannya ada upeti (buah atau makanan) yang harus dipersembahkan ke dewa keberuntungan (again, saya lupa nama dewanya) agar nasib si shio ciong tidak malang. Sembahyang pun ada urutannya (kalau tidak salah ingat ada 16 atau 19 dewa/dewi) dari dewa/dewi tertinggi hingga yang paling bawah, tapi selalu diawali dan diakhiri sembahyang ke langit (Tuhan Allah). 

Sambil menunggu Si Mimo menyiapkan upeti di “dapur” vihara, tiba-tiba Si Pipo memanggil dari dalam. 

Pipo (P): Coba kamu sembahyang di Dewa itu, tuh Nel. 

Saya (S): Kenapa Po? Emang Dewa apaan?

P: (again… saya lupa namanya) Itu xxx, Dewa jodoh

S: πŸ˜… πŸ™„. . . (Tapi saya lakonin juga, mengatupkan tangan depan dada dan berdoa)

Tidak berapa lama, Mimo memulai “perjalanan” sembahyangnya dan… Ketika sampai giliran di depan patung si dewa jodoh, Si Mimo yang tadi tidak melihat adegan sebelumnya kembali memanggil saya πŸ˜… 

S: sudah tadi disuruh Pipo, Mo πŸ˜₯πŸ˜₯πŸ˜₯

TETAPI (lagi), saya juga bukan mau bercerita tentang Si Dewa Jodoh atau kekhawatiran orangtua saya anak perempuan sulungnya tak kunjung mendapatkan jodoh, hellawww…

Jika kalian (yang baca tulisan saya) sadar, atau mungkin tidak sadar, saya bukan lagi penganut agama Buddha seperti orangtua saya. Saya sudah memilih agama saya sebelum saya punya KTP. Namun, saya tetap menghormati apa yang dipercaya oleh orangtua saya. Terlepas saya percaya atau tidak dengan efek kesaktian Si Dewa Jodoh, saya percaya tidak ada doa (agama) yang buruk. Setidaknya di mata orangtua saya, tindakan itu adalah doa dan harapan yang dipanjatkan mereka untuk saya dan doa orangtua adalah doa yang paling indah, bukan?

Generally speaking, saya benar-benar percaya tidak ada agama yang buruk. Di mata saya, semua agama mengajarkan kasih dan kebajikan pada dasarnya. Hanya saja, manusialah yang menjadikan agama yang dianutnya terlihat buruk karena tingkah lakunya dalam mengamalkan ajaran agamanya tidak mencerminkan kasih. 

Orangtua saya, meskipun bukan Katolik, tidak pernah menghalangi keinginan saya dulu ketika mau dibaptis. Mereka justru, hingga sekarang, yang sering mengingatkan ketika saya malas ke Gereja. Saya sendiri masih sembahyang ke leluhur saya di momen-momen tertentu atas dasar menghormati tradisi. Bukan berarti iman saya terhadap Gereja menjadi berkurang karena sembahyang, tapi yang penting saya pribadi tahu siapa yang saya percaya. Bagi saya, iman atau kepercayaan saya terhadap Tuhan saya sifatnya personal. Saya tidak akan memaksakan apa yang saya percayai, tetapi saya juga menghargai apa yang dipercaya oleh orang lain meski berbeda dengan saya. Terlebih, bila apa yang kita percayai justru menjadikan kita manusia yang lebih baik. 

Again, karena saya percaya tidak ada agama yang buruk, manusianya yang buruk. 

Dan, berakhirlah kisah saya kali ini.

Tulisan ini hanya sharing semata tanpa maksud menyinggung siapapun. 

#CatatanPerempuan: anggap saja ini prolog

Sebenarnya ada banyak catatan dan draft tulisan saya yang tercecer. Akhirnya, mereka hilang tak berbekas.

Beberapa waktu lalu, pesan singkat seorang teman di WhatsApp mengingatkan saya pada sebuah keinginan yang tertunda. Maka, saya bertekad menyicil draft-draft tulisan yang sempat tertunda plus ide-ide baru di blog ini.

Jadi, anggap saja ini adalah prolog.

Mengapa harus #CatatanPerempuan?

Sejak saya duduk di bangku kuliah, topik mengenai perempuan selalu mendapat perhatian saya. Akhirnya, tanpa bermaksud melabeli diri dengan ‘feminis’, beberapa kawan kerap menambahkan embel-embel tersebut pada diri saya.

Sejujurnya, saya lebih nyaman menyebut diri genderis dibandingkan feminis, karena saya tidak hanya menginginkan keadlian bagi perempuan tapi juga laki-laki. Saya percaya, perempuan maupun laki-laki sejajar, seimbang, sederajat.

Tulisan #CatatanPerempuan merupakan opini dan buah pemikiran saya pribadi, bukan penghakiman apalagi hal mutlak.

Jadi, mari kita mulai petualangan kata ini!

Saatnya Move On, Girls!

I can’t remember his face. That’s what happened when I’m really into to someone. All I can remember it’s just the feeling.

-Carrie B-

from: bellasugar
from: bellasugar

Pernahkah terpikir oleh Anda yang membuat seseorang susah melupakan mantan kekasih adalah perasaan saat bersamanya, bukan orangnya?

Saya bukan orang yang susah move on, Anda boleh tanya kepada orang-orang terdekat saya. Bahkan, salah seorang teman pernah mengatakan saya terlalu ‘dingin’ untuk seorang wanita.

Ya, ya, ya.. Wanita memang identik dengan lemah, tak berdaya, dependent, dan sebagainya. But, hey! It’s gender. Nggak semua wanita harus lemah dan nggak semua lelaki harus kuat.

Kembali pada topik utama…

Setiap orang yang dekat dengan kita pasti meninggalkan ‘jejak’ (ini istilah saya) dalam hidup kita. Demikian halnya, para mantan yang pernah bersama kita.

Setiap mereka akan meninggalkan jejak berupa kenangan atau memori yang akan terus hidup bersama kita. Menurut saya, sebuah ingatan atau memori tidak akan hilang, hanya terlupa. Ingatan itu hanya terpojok oleh kenangan-kenangan baru yang kita buat. Suatu saat, ingatan itu akan kembali bila mendapat rangsangan atau pemicu.

Yap, terima kasih atas kehebatan otak kita dalam mengingat.

Oleh karena itu, menurut saya, mengenyahkan mantan adalah hal yang mustahil, nyaris tak mungkin.

Kita hanya harus belajar menjadikannya bagian dari perjalanan hidup kita. Percaya atau tidak, dengan menerima, kita sebetulnya telah melepaskan dan langkah kita akan terasa lebih ringan. Itulah alasan mengapa saya lebih mudah move on.

Sebenarnya, seperti kutipan di awal, yang Anda rindukan adalah perasaan yang Anda rasa saat bersamanya, bukan orangnya. Dunia Anda takkan hancur tanpanya karena perasaan itu akan dapat Anda rasakan kembali, meski tanpa dirinya.

So, live to the fullest girls!

*this writing is inspired by one of my friend

Selamat datang, Tahun Baru!

Ada beragam rasa setiap tahun akan berakhir. Paling sering terasa sih, rasa sesal karena banyak hal belum terpenuhi dan waktu dengan kejam terus berlari.

Akhirnya, di sini lagi saya berdiri. Di hari terakhir tahun ini, 2012.

Seingat saya, tahun lalu bukanlah tahun yang bahagia untuk saya. Karenanya, untuk tahun 2012 ini, saya memohon untuk menemukan jati diri saya kembali, merasa hidup, dan bahagia kembali.

Nyatanya, tahun ini saya benar-benar melewatinya bagaikan dengan kereta super cepat! Tapi, hey, di tengah segala ke-chaos-an, saya menemukan kembali diri dan kebahagiaan saya.

Banyak bahagia satu per satu mampir dalam hidup. Sahabat sejak kecil yang akhirnya menemukan tambatan hati dan berpacaran. Sahabat-sahabat yang satu per satu menikah dan menempuh hidup baru. Keponakan-keponakan yang terus menyusul kemudian.

Bahagia mereka, bahagia saya.

Jika mereka khawatir saya yang sendiri di usia kini (dan, ya! akan segera bertambah di awal tahun), maka mereka tidak benar-benar mengenal saya. Saya tidak pernah kesepian di tengah begitu banyak cinta yang mengelilingi. Mungkin, karena itu pula saya terlalu nyaman sendiri.

Akan tetapi, bukan berarti saya ingin sendiri. Hanya saja, belum ada waktu dan orang yang tepat.

Dalam hidup, saya selalu percaya untuk tidak sering-sering khawatir. Semua akan saya terima begitu waktu dan saatnya tepat.

Ingin keluar dari pekerjaan, ada tawaran pekerjaan lain mengantri (bukannya sombong). Ingin belanjain mimo menjelang ultah, pas bonus keluar. Ingin beliin papap dompet baru dari ultah di awal tahun tapi mahal banget, pas Natal ada diskon. Ingin liburan awal tahun harus beli tiket segera, pas THR masuk.

Itu baru beberapa contoh kecil dalam hidup saya.

Hidup saya memang tidak mudah, tapi saya tidak pernah benar-benar merasa kesusahan. Saya percaya akan menerima tepat pada waktunya πŸ™‚

Jadi, untuk tahun 2013, saya hanya berharap semua mimpi dan harapan yang masih tertunda dapat terwujud satu per satu. Sambil menunggu, saya ingin dapat memberikan banyak cinta lagi bagi orang-orang di sekeliling saya.

Selamat datang, Tahun Baru!

Mengumpulkan Waktu yang Tercecer di Jalan

Akhir pekan lalu, saya bertemu dengan teman-teman kantor lama. Sambil berbincang mengenai kabar terbaru, topik pembicaraan sampai pada bahasan ‘path’.

Teman saya itu bilang, melihat path saya seolah saya hidup di jalan. Jam sekian di mana, beberapa saat kemudian saya sudah di mana lagi. Saya memang lebih sering mengecek media sosial saya ketika sedang menunggu sendirian dan saat-saat itu biasanya ketika saya sedang di jalan.

Akan tetapi, kenyataannya sebagian besar waktu saya memang habis di jalan. Minimal 12 jam saya berada di luar rumah. Itu dengan catatan tidak ada meeting, janji temu, atau ketinggalan kereta yang membuat saya pulang terlambat tiba di rumah.

Itu catatan waktu saya yang menggunakan kereta sebagai transportasi utama. Apa kabar dengan mereka yang menggunakan mobil atau motor dan harus menghadapi macetnya Jakarta di jam berangkat dan pulang kantor?

Bandingkan saja, jika saya nebeng teman yang menggunakan mobil, saya harus berangkat dua setengah jam sebelum jam masuk. Pulang pun demikian. Jika saya menumpang mobil, perjalanan pulang memakan waktu minimal satu setengah jam, rata-rata dua jam. Dengan menggunakan kereta, saya bisa tiba di rumah hanya dalam waktu satu jam.

Yah, tapi jangan bandingkan kenyamanan di mobil pribadi dengan kereta. Meskipun saya menggunakan kereta commuter line, tetap saja ada kalanya saya harus berdesakan dan berdiri sepanjang perjalanan.

Hanya saja, saya jadi kepikiran. Apakah semua waktu yang dihabiskan orang-orang untuk berkerja sepadan? Saya mulai berpikir, lebih efektif waktu jika pekerjaan dapat dilakukan di rumah. Dan, seandainya saja setiap daerah memiliki lapangan kerja yang memadai sehingga orang tidak perlu menempuh perjalanan jauh dari tempat tinggalnya untuk bekerja.