What’s your purpose in life?

Apa tujuan hidup kamu?

Saya rasa hampir semua orang pernah mempertanyakan pertanyaan di atas, baik kepada diri sendiri maupun kepada orang lain. Dulu, saya pun pernah memiliki pertanyaan yang sama untuk diri saya.

Beberapa waktu lalu, pertanyaan itu muncul kembali dari mulut salah satu kolega di kantor.

Waktu itu, kami, saya dan empat teman lain termasuk teman saya yang bertanya, sedang makan malam berlima dan berbicara banyak hal hingga pada topik tersebut.

Teman saya yang bertanya itu, sebut saja Si A, lahir dengan segala kelebihan dalam hidupnya (dalam hal materi) tetapi kemudahan yang dimilikinya sejak lahir justru membuatnya terjebak dalam pikiran anak-anak. Dia sendiri mengakui tidak ingin dewasa.

“Gue gak mau dewasa. Menjadi dewasa itu jebakan!” demikian katanya.

Ada banyak masalah dalam hidupnya, drama keluarga dan cinta terutama (yang tak etis saya ceritakan di sini), yang membuatnya menjadi negatif dan selalu pesimis dalam menjalani hidup. Dirinya “nyasar” ke EF pun karena menjalani hukuman dari keluarganya.

Patah hati membuatnya depresi lalu menghambur-hamburkan uang hingga keluarganya terpaksa bertindak dengan mengambil semua fasilitas yang dimilikinya dan mengharuskannya mencari pekerjaan sendiri dengan melamar door to door, tanpa nepotisme. Ternyata, Tuhan menjodohkan dia dengan EF dan bertemulah kami.

Secara pribadi, A is a nice person. Dia bukan orang yang sombong atau sulit menyesuaikan diri. Namun, kecenderungannya untuk negatif (mudah menangis, drama queen, impulsif, dll) mungkin, membuatnya dipandang berbeda oleh beberapa orang yang enggan memahaminya.

Perasaannya yang sensitif pun kerap membuatnya tersinggung dan (lagi-lagi) menangis. Oleh karenanya, butuh kesabaran lebih untuk berteman dengannya. Dia sendiri pun mengakui itu.

Kembali ke pertanyaannya…

Saat pertanyaan itu dilontarkan, kami baru duduk bertiga menunggu dua orang lain bergabung. Teman saya yang satunya, panggil saja B, menjawab dia sendiri sempat mempertanyakan itu pada dirinya sendiri dan bingung. Namun, saat ini, dengan pasti tujuan hidupnya adalah membahagiakan orang di sekitarnya terutama keluarganya.

Saya sendiri akhirnya tidak sempat menjawab lengkap karena dua teman lain itu keburu datang dan topik pembicaraan berubah. Namun, saya sempat menjawabnya dengan jawaban serupa B.

Saya senang bila bisa membahagiakan orang-orang yang saya sayangi. Dan, sejujurnya, saya tidak bisa memikirkan tujuan lain selain itu.

Mungkin, saat ini tujuan itu sudah cukup “memenuhi” saya. Mungkin, suatu saat saya perlu merenung lagi? Siapa yang tahu?

Jika Anda yang ditanya, apa jawaban Anda?

image

Advertisements

Ingatkanku

image

Ingatkanku..
Jalan yang pernah kulalui adalah hamparan rumput lembut nan hijau
(Mungkin) kini pun masih hijau
Hanya tersembunyi oleh kerikil tajam

Ingatkanku..
Pernah ada bahagia mengiringi
Bukan hanya ada air mata kecewa

Ingatkanku..
Tak selamanya hati terkoyak akan berarti akhir
Ada harapan yang akan mengobati

Ingatkanku..
Mimpi itu pernah ada
Masih ada.
Hanya menungguku untuk ingat

dear friend…

Ada kalanya manusia merasakan sendirian dan kesepian…

Ada kalanya manusia merasa akan baik-baik saja meski seorang diri…

Ada kalanya manusia menyangkal diri, mengatakan bahwa ia baik-baik saja…

Ada kalanya manusia membutuhkan keyakinan dirinya tak ditinggalkan…

Ada kalanya manusia mengungkapkan perasaannya dengan kebalikan…

Aku manusia itu dan kau juga, karenanya aku tahu apa yang sedang kau rasakan.

Di hadapan mereka,

Kau boleh tetap berdiri tegak…

Kau boleh tetap tertawa…

Kau boleh tetap terlihat baik…

Kau boleh tetap tidak percaya…

Tapi,

Di hadapanku kau boleh melepaskan semua itu.

Kau boleh jatuh,

Kau boleh menangis,

Kau boleh terlihat hancur,

Kau boleh percaya kalau kau tidak sendiri dan semua akan baik-baik saja.

Aku ada di sini, selalu menantimu kembali…

maaf

maaf…
hanya itu yang dapat terucap
saat melihat ke belakang
ada luka yang tak terobati
maaf…
tak ada lagi diksi
tak ada lagi puisi
hanya tinggal hati
menunggu diperbaiki
maaf…
untuk waktu yang terlewati
tak dapat kuulang hari
dan iznkan aku meminta
untuk kembali ditemani

(poetry from the past, 020906)

idup jangan dibikin susah ah…

“Hidup lo emang nggak pernah mudah, cuma lo selalu punya cara membuat semuanya jadi mudah…”
That sentence came out from one of my bestfriend. Is that true? Kok, rasanya gue nggak sepercaya diri itu, deh, untuk mengakui kalimatnya.
Hmmm, mungkin emang ada saat-saat tertentu di mana gue ngerasa ‘jatuh’ dan nggak mungkin bangkit lagi, tapi orang lain selalu melihat gue yang baik-baik saja, yang selalu optimis menjalani hidup, slelalu jadi tumpuan yang lain.

Entah, suau kebanggaan atau bukan, karena hal itu justru terkadang membuat orang tidak percaya ketika gue bilang “Gue nggak baik-baik, aja!” Mereka akan tetap tenang karena mereka beranggapan gue akan selalu menemukan jalan keluarnya. Tapi, kan, ada masanya gue juga ingin diperhatikan, dimanja, dan dibantu…

Hey, I’m just ordinary girl like ya’ll!

Hanya saja, gue terbiasa berusaha berpikir positif, apapun yang terjadi. Gue nggak mau ‘jatuh’ lama-lama karena memang nggak ada untungnya. Sebisa mungkin gue menjalani hidup dengan keyakinan, baik atau buruk, pasti ini memberi gue sesuau untuk dipelajari dan gue pasti akan mampu melaluinya, melakukan yang terbaik, sisanya… biar Tuhan yang urus.
Mudah-mudahan sikap seperti ini akan tetap gue miliki, karena belakangan hidup sedang tidak baik terhadap gue…
Kekekeeee….

19.03.08

Hidup Tak Bisa Menunggu

6 Agustus 2008

Gue baru membaca bonus buklet Sunsilk yang mengkampanyekan slogan barunya, “Hidup Tak Bisa Menunggu”. Ada dua perasaan yang terbersit ketika membaca isi buklet itu.

Pertama…

Memang, sih, gue jadi tergugah untuk melakukan hal-hal yang belum gue lakukan selama ini padahal sangat gue inginkan. Selama ini selalu ada alasan untuk menunda-nunda apa yang sebenarnya sangat ingin gue lakukan itu. Entah karena alasan waktu, biaya, dan lainnya. Padahal, sebenarnya, kalau mau jujur, gue cuma takut untuk memulainya. Takut kalau nggak berhasil, takut kalau cuma berthana sementara, takut kehilangan yang lainnya, dan ketakutan lainnya.

But, where there is a will, there’s a way! Yap, sebenarnya itu yang harus dijadikan pegangan, kalau memang niat apapun yang terjadi pasti akan ada jalanannya! Dan, sekarang, gue sedang mengumpulkan keberanian itu untuk mencapai satu persatu mimpi gue!

Pemikiran yang kedua, ini yang pesimis. Membaca kemungkinan-kemungkinan yang dipaparkan dalam buklet rasanya terlalu unreachable! Mereka cuma memberi umpan tapi tidak memberikan solusi bagaiman cara mencapainya. Kalau kita masih berpikir rasional, tidak mungkin kita menghalalkan segalanya, meninggalkan segalanya demi mencapai cita-cita kita. It’s just like a too great ambition that can ruin yourself!

Sampai saat ini gue yakin masih banyak yang takut untuk meraih mimpinya sendiri. Sederhana, untuk kuliah saja, terkadang kita harus membuang mimpi mengambil jurusan incaran demi orangtua atau teman. Demikian seterusnya, ketika bekerja, meskipun materinya tidak banyak, tapi kita enjoy banget, orang lain mulai berkomentar ini itu dan menggoyahkan keyakinan kita. Yah, that’s life! Terlalu banyak kita harus menggunakan topeng demi menjadi yang orang lain inginkan, but it’s not who we really are!

Dengan slogannya itu, gue sedikit tersentil karena memang hidup ini tak pernah menunggu, time flies, it’s our choice to move foward or stay… Memang semua butuh pengorbanan dan keberanian, tapi kalau memang itu yang kita inginkan mengapa harus begitu peduli dengan komentar orang lain?

I’ll promise to live my life to the fullest, apalagi setelah hidup yang gue yakini baik2 saja bisa saja membawa gue pada penyakit yang sama sekali nggak terbayangkan! So, sebelum gue mati, gue harus MENIKMATI hidup gue sehidup-hidupnya…